PONTIANAK, Pena Katolik — Sebelum doa bergema dari altar, langkah-langkah terlebih dahulu disambut dengan kehangatan budaya. Tarian penyambutan, prosesi menginjak telur, dan berkat kaki membuka perayaan di Supadio pada 7 Oktober 2026. Melalui rangkaian adat tersebut, umat menyampaikan penerimaan dan harapan: semoga setiap orang yang datang membawa kebaikan, melangkah dalam kedamaian, dan menemukan tempat dalam rumah bersama.
Hari itu, Kuasi Paroki Santa Perawan Maria Reinha Rosario Supadio resmi menjadi paroki penuh. Perayaan syukur tersebut sekaligus menjadi momentum pengukuhan RP. Aloysius Luis Kung, OP, yang akrab disapa Romo Aris, sebagai Pastor Kepala Paroki.
Hadir dalam perayaan itu Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap., Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, para imam diosesan dan imam dari berbagai ordo yang melayani di Pontianak, komunitas Dominikan Surabaya, serta para suster dari berbagai kongregasi.
Turut hadir Romo Donatus Jensi, CDD, Pastor Kepala Paroki Santo Agustinus Sungai Raya, paroki induk tempat komunitas Supadio bertumbuh. Kehadirannya menambah kehangatan perayaan sekaligus memperlihatkan ikatan persaudaraan yang terus terpelihara dalam perjalanan kedua komunitas.
Iman yang Menyapa Budaya
Rangkaian penyambutan adat memberi warna khas pada perayaan. Dalam pemaknaan yang menyertai upacara tersebut, berkat kaki menjadi lambang harapan agar setiap langkah yang memasuki rumah bersama membawa kedamaian dan membuka jalan bagi persaudaraan.
Gambaran itu terasa dekat dengan kehidupan Gereja. Sebuah paroki bertumbuh melalui kesediaan untuk menerima, mendengarkan, dan berjalan bersama. Di dalamnya, umat membawa syukur, harapan, pengalaman hidup, serta kerinduan untuk semakin dekat dengan Tuhan.
Setelah penyambutan, perayaan dilanjutkan dengan Misa yang dipimpin oleh Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap. Paduan suara mengiringi liturgi dengan penuh penghayatan. Para misdinar menjalankan pelayanan dengan tertib dan sigap, turut mendukung suasana doa yang khidmat.
Talenta dan pelayanan setiap orang berpadu menjadi ungkapan syukur seluruh komunitas. Dari penyambutan hingga perayaan Ekaristi, terasa semangat umat untuk mengambil bagian dalam hari bersejarah tersebut.
Syukur atas Para Gembala Pendahulu
Sukacita peresmian ini juga membawa ingatan penuh penghargaan kepada para gembala yang telah merawat kehidupan iman umat, khususnya para pastor Kapusin dan para pastor Kongregasi Murid-Murid Tuhan atau CDD.
Jejak pelayanan tersebut terhubung dengan perjalanan Paroki Santo Agustinus Sungai Raya. Menurut sejarah resmi paroki, pelayanan pastoralnya dipercayakan kepada para pastor Kapusin hingga tahun 2010, kemudian dilanjutkan oleh para pastor CDD sejak 2011. Dalam perjalanan itulah kehidupan iman di wilayah paroki induk terus dibina dan dikembangkan.
Dengan penuh syukur, penghargaan disampaikan kepada para gembala pendahulu atas pewartaan, pendampingan, dan kesetiaan mereka. Pelayanan yang telah diberikan menjadi bekal berharga bagi komunitas Supadio untuk memasuki tahap baru.
Kehadiran Pastor Donatus Jensi dalam perayaan ini mempererat hubungan dengan paroki induk. Dari pelayanan para pendahulu hingga karya yang kini dipercayakan kepada Ordo Dominikan, terjalin sebuah perjalanan bersama untuk menumbuhkan iman dan menghadirkan kasih Tuhan di tengah umat.
Bertumbuh dalam Iman dan Pelayanan
Didirikan sebagai kuasi paroki pada 24 Agustus 2025 komunitas Supadio menunjukkan perkembangan dalam kehidupan menggereja, pelayanan pastoral, dan pengelolaan administrasi.
Pertumbuhan tersebut menjadi dasar peningkatan status melalui Dekret Nomor 347/SKR.KAP/X/2026, yang ditetapkan pada 7 Oktober 2026. Dekret itu mengakui kesiapan umat untuk menjadi komunitas paroki yang mandiri dan menetapkan reksa pastoralnya dipercayakan kepada Ordo Dominikan.
Gereja Santo Petrus Kanisius Supadio ditetapkan sebagai gereja paroki, sekaligus pusat kehidupan liturgi dan pelayanan pastoral. Wilayah pelayanannya mencakup Santa Perawan Maria Reinha Rosario, Lanud Supadio; Santo Pius, Benua Indah; dan Santo Mateus, Alas Kusuma.
Penetapan ini menjadi buah yang menggembirakan dari perjalanan komunitas, sekaligus membuka kesempatan untuk mengembangkan pelayanan dan memperkuat keterlibatan umat.
Gembala dan Umat, Melangkah Bersama
Pengukuhan Romo Aris menandai tanggung jawab untuk menggembalakan umat: mewartakan Sabda, merayakan sakramen, mendampingi keluarga, serta hadir dengan kasih dalam berbagai pengalaman hidup mereka.
Dalam pelayanan tersebut, Romo Aris didampingi RP. Bienvenido S. Trinilla Jr., OP, sebagai Pastor Rekan. Bersama umat, keduanya mengemban harapan agar paroki semakin menjadi tempat bertumbuhnya iman, kasih, dan persaudaraan.
Kehidupan paroki dirawat melalui keterlibatan banyak orang. Pelayanan sederhana, kesediaan bekerja bersama, dan perhatian kepada sesama menjadi sumbangan berharga bagi pertumbuhan komunitas.
Setiap umat memiliki tempat dan peran. Doa yang dipanjatkan, talenta yang dibagikan, serta waktu dan tenaga yang diberikan dapat menjadi jalan untuk menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan bersama.
Dari Altar ke Meja Persaudaraan
Seusai Misa, sukacita berlanjut dalam makan bersama, tarian, dan nyanyian. Kehangatan perjumpaan mempererat hubungan di antara umat dan para tamu.
Di situlah makna perayaan terasa utuh. Iman yang dirayakan dalam Ekaristi menemukan ungkapannya dalam tindakan sederhana: saling menyapa, berbagi hidangan, dan menyediakan waktu untuk menikmati kebersamaan.
Tanggal 7 Oktober 2026 menjadi tonggak penuh harapan bagi Paroki Santa Perawan Maria Reinha Rosario Supadio. Dengan rasa syukur atas pelayanan para pendahulu dan semangat untuk melanjutkan karya mereka, para gembala dan umat melangkah bersama di bawah perlindungan Bunda Maria, Ratu Rosario.
Dari langkah-langkah yang diberkati, tumbuh harapan agar paroki ini semakin menjadi umah persaudaraan—tempat Sabda didengarkan, kasih diwujudkan, dan setiap orang dikuatkan untuk melanjutkan perjalanan bersama Tuhan. (Abxy Pebriyanto/Pontianak)



