Antara Romo Mangun, Rara Mendut, dan Meriam Bellina

YOGYAKARTA, Pena Katolik – Salah satu novel ikonik karya Romo Y. B. Mangunwijaya adalah “Rara Mendut”. Novel pertama dari trilogi dengan judul sama ini menjadi karya terbesar imam Keuskupan Agung Semarang ini dalam jagat sastra Indonesia.

Namun, siapa sangka, Romo Mangun bahkan seperti “tidak puas” saat novel ini diangkat ke “layar lebar”. Terutama, ia tidak puas karena di film itu, Meriam Bellina dipilih memerankan “Rara Mendut” dalam film yang diproduksi tahun 1983 itu.

“Rara Mendut kok yang dipilih (memerankan) Miriam Bellina,” demikian kata Romo Mangun dalam obrolan bersama seorang stafnya di Wisma Kuwera Yogyakarta.

Sebagai penulis “Rara Mendut”, maka Romo Mangun memiliki bayangan paling otentik tentang seperti apa perempuan pesisir utara Jawa yang ia gambarkan dalam karya sastranya. Rara Mendut adalah “Si Genduk Bawuk” yang “sewarna kayu muda jati Rembang”, yakni sosok gadis muda yang ‘hitam manis’.

Ketika melihat dalam film, Miriam Bellina dipilih memerankan Rara Mendut. Seketika Romo Mangun merasa bahwa ada ketidak sesuaian pengganbaran. Menurutnya, artis blasteran Belanda, Jerman, Makassar, Jawa, dan Sunda yang berparas ayu dan putih itu tidak mirip dengan sosok Rara Mendut dalam novel yang hitam manis.

“Tidak mirip,” demikian Romo Mangun.

Meski demikian, Rara Mendut menjadi novel pertama karya seorang imam Katolik di Indonesia yang diangkat ke “layar lebar”. Selama produksi film ini, Romo Mangun nyatanya memberi kebebbasa kepada tim produksi film itu.

Di dalam Romo Mendut, tak bisa dipungkiri, tergambar puncak capaian sastra Romo Mangun. Ciri khas karya sastranya terlukis indah dalam trilogi berlatar kehidupan nelayan di pesalisir utara Jawa pada masa kerajaan.

Rohaniwan Komplit

Tidak banyak tokoh Katolik yang memiliki “wajah beragam” seperti Romo Mangun. Selain seorang imam, ia adalah sastrawan, arsitek, tokoh pendidikan, dan aktivis sosial sekaligus.

Rara Mendut secara gamblang menggambarkan keberpihakan Romo Mangun pada “rakyat”. Yang di maksud di sini adalah masyarakat kecil yang sering hanya menjadi objek “kekuasaan” oleh para penguasa politik.

Meski latar yang dipilih Romo Mangun dalam novel itu membawa kita pada masa empat ratus atau lima ratus tahun lalu, namun pergilakan sosial yang diganbarkan, adalah cerminan situasi pada zaman ketika Romo Mangun menyelesaikannya.

Kekuasan nyatanya memang merampas segalanya, tak hanya harta duniawi, namun juga “kebahagiaan” dan “kesederhanaan” rakyat.

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini