PenaKatolik.Com | Fransiskus dari Assisi semula merasa San Damiano sudah cukup. Di tempat itu dia menemukan ruang untuk berdoa, bertobat, dan menjalani hidup baru. Namun, Tuhan ternyata memberikan kepadanya sebuah “hadiah kejutan”: para saudara.
Kisah tentang para saudara inilah yang menjadi pintu masuk Pater Paulus Toni, OFMCap, dalam sesi kedua rekoleksi Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat di Aula Santo Fransiskus, Rumah Retret Santo Fransiskus Assisi, Tirta Ria, Kubu Raya, Minggu, 4 Oktober 2026. Sekitar 360 anggota Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Menurut Pater Toni, kehadiran para saudara mengubah perjalanan Fransiskus. Dia tidak lagi berjalan seorang diri. Bersama saudara-saudaranya, Fransiskus menemukan panggilan untuk hidup menurut Injil dan mewartakan damai.
Dalam Testament 14, Fransiskus menulis bahwa setelah Tuhan memberikan kepadanya saudara-saudara, Yang Mahatinggi sendiri mewahyukan kepadanya bahwa dia harus hidup menurut pola Injil Suci.
“Setelah Tuhan memberiku saudara-saudara, tidak seorang pun menunjukkan kepadaku apa yang harus kuperbuat, tetapi Yang Mahatinggi sendiri mewahyukan kepadaku bahwa aku harus hidup menurut pola Injil Suci,” demikian kesaksian Fransiskus yang dikutip Pater Toni.

Persaudaraan tanpa Kuasa
Bagi Pater Toni, persaudaraan Fransiskan tidak dibangun di atas struktur kekuasaan. Fransiskus tidak menghendaki hubungan yang bersifat piramidal, dengan seseorang berdiri di atas dan yang lain berada di bawah.
Sebaliknya, dia membayangkan persaudaraan sebagai sebuah lingkaran. Semua berdiri sebagai saudara.
Karena itu, dalam aturan hidupnya Fransiskus menegaskan, “Janganlah ada yang disebut ‘prior’, tetapi hendaklah setiap orang dipanggil sebagai saudara dina. Hendaklah kita saling mencuci kaki.”
Menurut Pater Toni, gambaran “mencuci kaki” menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam persaudaraan Fransiskan pertama-tama adalah pelayanan.
Seorang pemimpin bukanlah tuan yang harus dilayani, melainkan pelayan dan hamba bagi saudara-saudaranya.
“Pemimpin harus menjadi seperti seorang ibu,” ujar Pater Toni. Dia harus dekat dengan saudara-saudaranya, terutama ketika mereka menghadapi kesulitan, melakukan kesalahan, atau membutuhkan perhatian.
Dari sinilah, menurut dia, lahir suasana rumah dan rasa kekeluargaan. Persaudaraan bukan sekadar hidup bersama dalam satu komunitas, tetapi kesediaan untuk menerima, melayani, dan bertumbuh bersama.
Kesulitan Bukan Kegagalan
Hidup bersama tentu tidak selalu mudah. Perbedaan karakter, cara berpikir, dan latar belakang dapat melahirkan konflik.
Namun, Pater Toni mengajak para peserta rekoleksi melihat kesulitan dalam relasi persaudaraan secara berbeda.
Kesulitan tidak selalu berarti kegagalan. Dalam terang Injil, kesulitan justru dapat menjadi rahmat dan kesempatan untuk bertumbuh dalam kasih.
Di sinilah persaudaraan menjadi sebuah latihan rohani. Orang belajar mengalahkan keinginan untuk menguasai, belajar mengampuni, dan belajar menerima orang lain apa adanya.
Hubungan antarmanusia, ketika dijalani dalam nama Injil, menjadi jalan menuju dunia yang lebih bersaudara.
Salam yang Menjadi Cara Hidup
Persaudaraan kemudian tidak berhenti di dalam komunitas. Dari kehidupan bersama itulah lahir tugas untuk menjadi pembawa damai.
Pater Toni mengingatkan kembali pengalaman Fransiskus ketika Tuhan mewahyukan kepadanya salam yang harus dibawa kepada dunia:
“Semoga Tuhan memberimu damai.”
Bagi Fransiskus, salam tersebut bukan sekadar ungkapan sopan. Itu merupakan program hidup dan cara mewartakan Injil.
Namun, salam damai hanya akan memiliki kekuatan jika pembawanya sendiri hidup sebagai saudara dina—sederhana, rendah hati, dan menjadi hamba bagi semua orang.
Karena itu, Fransiskus menasihati para saudaranya agar ketika berada di tengah masyarakat, mereka tidak bertengkar, tidak menghakimi, tetapi bersikap lemah lembut, damai, sederhana, rendah hati, dan berbicara dengan sopan kepada semua orang.
“Ke dalam setiap rumah yang mereka masuki, pertama-tama mereka menyapa, ‘Damai bagi rumah ini!’” kata Pater Toni, mengutip semangat Fransiskan.
Dengan demikian, damai bukan sesuatu yang pertama-tama diajarkan melalui kata-kata. Damai harus terlihat dalam cara seseorang hadir dan memperlakukan orang lain.
Bukan Tentara yang Menaklukkan Dunia
Pater Toni juga mengingatkan bahwa Fransiskus tidak mengutus saudara-saudaranya sebagai “tentara Kristus” yang datang untuk menaklukkan dunia dengan kekuasaan.
Mereka justru dipanggil untuk hidup sederhana di tengah orang-orang kecil: kaum miskin, orang sakit, penderita kusta, dan mereka yang tidak memiliki kuasa.
Cara hidup tersebut membuat pewartaan damai menjadi nyata.
Fransiskus sendiri menunjukkan bahwa dialog tidak harus lahir dari posisi yang lebih tinggi. Pertemuannya dengan Sultan Malek Al-Kamil menjadi salah satu contoh bagaimana seorang pengikut Kristus dapat hadir dengan kerendahan hati dan membangun jembatan di tengah perbedaan.
Bagi Pater Toni, jalan seperti inilah yang tetap relevan bagi dunia sekarang.
Di tengah dunia yang semakin terhubung tetapi sekaligus dipenuhi ketegangan, persaingan, dan kekerasan, manusia membutuhkan cara baru untuk bertemu: bukan dengan keinginan menguasai, melainkan dengan kesediaan mendengarkan dan berdialog.
Dunia Membutuhkan Saudara
Di akhir permenungannya, Pater Toni mengajak peserta untuk melihat kembali panggilan dasar Fransiskan: menjadi saudara bagi sesama.
Dunia, katanya, tidak pertama-tama membutuhkan orang yang menang atas orang lain. Dunia membutuhkan saudara.
Persaudaraan berarti membebaskan diri dari keinginan untuk berkuasa. Persaudaraan berarti belajar mencuci kaki orang lain. Persaudaraan juga berarti menjadi seperti seorang ibu yang mampu menerima mereka yang melakukan kesalahan dan tetap sabar terhadap mereka yang menyusahkan.
Karena itu, doa yang dibawa dari permenungan tersebut sederhana tetapi dalam:
“Ya Tuhan, yang telah memberikan saudara-saudara kepada Fransiskus, ajarilah saya hidup dalam persaudaraan.”
Doa itu sekaligus menjadi undangan untuk menjalani jalan Fransiskus hari ini: menjadi manusia yang tidak hanya berbicara tentang damai, tetapi menjadi pembawa damai melalui cara hidupnya sendiri.
Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh perbedaan, pesan Fransiskus kembali terdengar sederhana: kita tidak dipanggil untuk menjadi penguasa atas yang lain.
Kita dipanggil untuk menjadi saudara.
Semoga Tuhan memberimu damai.*Samuel, Pena Katolik.