PenaKatolik.Com | Delapan abad setelah wafatnya Santo Fransiskus dari Assisi, pesan perdamaian dan pertobatannya kembali dibaca dalam konteks dunia yang diliputi perang, perpecahan, ketakutan, dan krisis lingkungan. Dalam rekoleksi Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat, Pater Paulus Toni, OFMCap, mengajak peserta melihat kembali akar spiritualitas Fransiskus diantaranya adalah belas kasih, kemiskinan, dan perjumpaan dengan Kristus yang tersalib.
Peringatan 800 tahun Transitus Santo Fransiskus dari Assisi tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang wafat seorang santo. Bagi Pater Paulus Toni, OFMCap, peringatan ini merupakan kesempatan untuk kembali menemukan warisan spiritual Fransiskus yang relevan bagi dunia hari ini, damai, pertobatan, belas kasih, dan persaudaraan.
Hal itu disampaikan Pater Paulus Toni, OFMCap, dalam sesi pertama rekoleksi Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat di Aula Santo Fransiskus, Rumah Retret Santo Fransiskus Assisi, Tirta Ria, Kubu Raya, Minggu, 4 Oktober 2026.
Mengawali refleksinya, Pater Toni mengangkat surat Paus Leo XIV kepada para Minister General Keluarga Fransiskan dalam rangka peringatan 800 tahun perjumpaan Santo Fransiskus dengan “Saudari Maut”.
Menurut dia, perhatian Paus Leo XIV terhadap peringatan tersebut terutama berkaitan dengan kontribusi Fransiskus dalam menghadirkan pesan perdamaian.
Pesan itu, kata Pater Toni, sebenarnya telah berakar kuat dalam pengalaman rohani Fransiskus sendiri. Dalam Wasiat 23, Fransiskus menulis bahwa Tuhan sendiri mewahyukan kepadanya untuk menyampaikan salam, “Semoga Tuhan memberimu damai!”
Bagi Pater Toni, salam tersebut bukan sekadar ungkapan sosial atau formula sapaan. Di dalamnya terkandung keyakinan bahwa damai merupakan karunia Allah.
“Damai sejati bukan usaha manusiawi belaka. Damai adalah karunia, tetapi karunia yang aktif dan harus dialami dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Damai yang Menyentuh Seluruh Ciptaan
Pater Toni menjelaskan, spiritualitas damai Fransiskus tidak dapat dipisahkan dari pengalaman iman yang menyeluruh. Damai Fransiskus bukan kumpulan petunjuk teknis tentang bagaimana manusia menghindari konflik.
Sebaliknya, seluruh hidup Fransiskus menunjuk kepada sumber damai sejati.
Di tengah dunia yang diwarnai perpecahan, perang, perselisihan, kecurigaan, dan ketakutan, Fransiskus tetap menyuarakan damai. Namun, damai yang dimaksud tidak berhenti pada hubungan antarmanusia.
“Damai bukan sekadar keselarasan hubungan antarmanusia,” jelas Pater Toni.
Damai, lanjut dia, mencakup keharmonisan manusia dengan dirinya sendiri, sesama, Allah, dan seluruh ciptaan.
Karena itu, Fransiskus dapat menyebut matahari sebagai saudara dan bulan sebagai saudari. Cara pandang tersebut menunjukkan bahwa manusia tidak berdiri terpisah dari alam.
Dalam konteks krisis ekologis saat ini, pesan tersebut menjadi semakin relevan. Alam yang dieksploitasi dan terancam, menurut Pater Toni, seolah ikut mengerang kesakitan.
“Kita memerlukan suatu rekonsiliasi universal,” tegasnya.
Fransiskus sebagai Benih Injil
Pater Toni kemudian membawa peserta pada gambaran Fransiskus sebagai “benih” yang menghasilkan kehidupan.
Dia mengutip Surat Paulus kepada Jemaat di Galatia 6:8; “Siapa yang menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”
Menurut Pater Toni, perkataan tersebut menemukan bentuk yang nyata dalam kehidupan Fransiskus. Fransiskus membiarkan Roh Kristus tersemai dalam dirinya hingga tanda-tanda Kristus bahkan hadir dalam tubuhnya sendiri.
Karena itu, Fransiskus menjadi seperti benih Injil yang menghasilkan buah kehidupan kekal.
Warisan tersebut kemudian menjadi legasi bagi semua orang yang mengikuti jejaknya.
“Kita adalah anak-anak damai,” katanya.
Pater Toni mengingatkan kembali perkataan dalam AngBul 10:8 tentang memiliki “roh Tuhan dan kegiatan-kegiatan kudus-Nya”. Warisan Fransiskus, menurut dia, bukan sekadar kenangan sejarah, tetapi menjadi tuntunan konkret dalam menjalani hidup Injili.
Dia menghubungkannya dengan Anggaran Dasar Ordo Fransiskan, khususnya rumusan bahwa hidup para saudara dina adalah menepati Injil suci Tuhan Yesus Kristus dengan hidup dalam ketaatan, tanpa milik dan dalam kemurnian.
Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Bagian penting dalam refleksi Pater Toni adalah pengalaman pertobatan Fransiskus.
Dalam Wasiat-nya, Fransiskus mengatakan, “Tuhan memberi aku, saudara Fransiskus, rahmat untuk mulai melakukan pertobatan.”
Menurut Pater Toni, kalimat tersebut merupakan awal dari pengakuan Fransiskus tentang sebuah pertobatan rohani yang mendalam.
Tuhan mengaruniakan kepada Fransiskus perubahan radikal dalam cara memandang dan mengalami kehidupan.
Fransiskus tidak lagi melihat dunia dengan mata seorang ksatria yang berusaha mencapai kejayaan dengan mengalahkan para pesaing. Dia mulai melihat kehidupan dengan mata seorang saudara yang berbagi nasib dengan mereka yang berada di kelompok terbawah dan tersingkir.
“Dia merendahkan diri menjadi bagian dari kaum kecil, sebab dia pun menjadi seperti seorang penderita kusta,” ujar Pater Toni.
Pengalaman tersebut mengubah logika akal budi sekaligus hasrat terdalam Fransiskus. Dia dibebaskan dari kepahitan hidup yang dibangun oleh persaingan dan mulai menemukan “kemanisan” dalam hidup yang saling berbagi.
Mata Para Penderita Kusta
Perubahan Fransiskus, menurut Pater Toni, tidak dapat dilepaskan dari dua perjumpaan penting: perjumpaan dengan para penderita kusta dan perjumpaan dengan Kristus yang tersalib.
Fransiskus meninggalkan kenyamanan dan keamanan Assisi. Dia keluar dari tembok kota dan bergabung dengan mereka yang selama itu disingkirkan.
Dalam Wasiat, Fransiskus mengenang pengalaman tersebut dengan mengatakan, “Tuhan sendiri menuntunku kepada mereka dan saya menaruh belas kasih kepada mereka.”
Perjumpaan itu menjadi titik balik.
Cita-cita menjadi seorang ksatria terhormat bergeser menjadi panggilan menjadi saudara dina bagi kaum miskin dan sederhana. Gambaran Kristus yang megah dan agung juga bergeser menjadi Kristus yang terpinggirkan, menderita, hina, miskin, bersaudara, dan menjadi teman seperjalanan manusia.
Pater Toni menunjukkan bahwa banyak peristiwa penting dalam perjalanan Fransiskus justru terjadi “di luar tembok kota”: ketika dia tertawan, berjumpa dengan orang kusta, mendengarkan Injil, mendengar suara Kristus di San Damiano, serta mengalami permenungan di hutan, Portiuncula, dan Rivotorto.
“Di luar tembok kota itulah krisis identitas Fransiskus diuji,” katanya.
Kemiskinan Berakar pada Belas Kasih
Dari seluruh perjalanan tersebut, Pater Toni menekankan satu kata kunci, belas kasih.
Menurut dia, Fransiskus berubah bukan terutama karena memilih kemiskinan, tetapi karena mengalami dan memberikan belas kasih.
“Kemiskinan merupakan cara dia menunjukkan belas kasihnya untuk sampai kepada tujuannya,” jelasnya.
Fransiskus harus memilih menjadi sesama bagi orang miskin dan mengalami sendiri nasib mereka. Dengan cara itu, dia mampu memberikan hatinya kepada mereka.
Pilihan hidup miskin kemudian membawa Fransiskus kepada nilai-nilai lain: kerendahan hati, kesabaran, kesederhanaan, dan kedinaan.
Namun, Pater Toni mengingatkan agar kemiskinan dan belas kasih tidak dipisahkan.
“Jangan pernah memisahkan kedua kata kunci ini. Kemiskinan tanpa belas kasih menjadi idol, tanpa isi dan makna. Belas kasih tanpa kemiskinan menjadi sekadar ideologi,” tegasnya.
Mata yang Tersalib
Pertobatan Fransiskus kemudian disempurnakan dalam perjumpaannya dengan Kristus yang tersalib di San Damiano.
Di hadapan salib, lahir doa yang kemudian menjadi bagian penting dari spiritualitasnya:
“Kami menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, di semua gereja di seluruh dunia dan kami memuji Engkau, sebab dengan salib suci-Mu Engkau telah menebus dunia.”
Menurut Pater Toni, doa tersebut bersama doa Bapa Kami kemudian dilantunkan Fransiskus bersama para saudaranya dan dimasukkan ke dalam Wasiat.
Pater Toni mengajak peserta melihat lebih dalam wajah Kristus yang tersalib. Mata Kristus yang terbuka mengarah kepada Allah Bapa menjadi tanda kasih Allah kepada manusia yang terluka dan membutuhkan keselamatan.
“Itulah pesan salib San Damiano: Allah menjadi miskin, merendahkan diri, hidup di antara kita untuk mengasihi kita,” katanya.
Karena pengalaman tersebut, setiap kali Fransiskus berkontemplasi tentang Kristus, dia tidak hanya melihat sebuah gambar atau simbol. Dia mengalami wajah Kristus yang dikenalnya, sehingga dari pengalaman itu lahir pujian, penghormatan, penyembahan, dan syukur.
Lahir Manusia Baru
Pada akhirnya, Pater Paulus Toni OFMCap menggambarkan perjalanan Fransiskus sebagai kelahiran seorang manusia baru.
Mata penderita kusta dan mata Yang Tersalib menjadi dua pengalaman yang menghadiahkan kepada Fransiskus “benih kehidupan kekal”.
Sejak saat itu, Fransiskus memulai hidup dalam pujian kepada Allah Bapa yang dinyatakan dalam diri Kristus.
Dia menemukan Kristus yang rendah hati, mengalami dirinya sebagai putra yang dikasihi, dan belajar berbelas kasih kepada semua manusia yang kemudian diterimanya sebagai saudara.
“Seorang manusia baru lahir, yang berakar pada Injil, dan karenanya meraih kebijaksanaan baru terhadap diri, sesama, dan Allah,” ujar Pater Toni.
Bagi peserta rekoleksi, refleksi tersebut menjadi undangan untuk tidak berhenti pada peringatan 800 tahun Transitus. Warisan Fransiskus justru menuntut sebuah pertanyaan yang lebih personal yakni apakah benih Injil, belas kasih, kemiskinan, persaudaraan, dan damai yang diwariskan Fransiskus masih sungguh hidup dalam diri para pengikutnya hari ini?
Delapan abad setelah Fransiskus meninggalkan dunia, warisan itu belum selesai. Ia terus menunggu untuk dihidupi—dalam cara manusia memandang orang miskin, memperlakukan sesama, berdamai dengan diri sendiri, merawat ciptaan, dan akhirnya kembali menemukan Kristus dalam wajah mereka yang terluka.*Samuel, Pena Katolik.