Perayaan Misa Syukur 64 Tahun Bruder Steph, OFMCap Tentang Iman yang Menjadi Pelayanan

PenaKatolik.Com | Iman tidak berhenti pada apa yang diketahui tentang Tuhan. Iman menemukan kedalamannya ketika menjadi doa, membentuk kehidupan, dan berbuah dalam pelayanan kepada sesama.

Pesan itu disampaikan Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap., dalam homili Perayaan Ekaristi Syukur 64 tahun Bruder Stephanus Paiman, OFMCap., di Sekretariat Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), Jalan Purnama, Pontianak, Senin, 28 September 2026.

Ekaristi dipimpin Mgr. Samuel selaku Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak. Perayaan tersebut turut didampingi Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak RD. Alexius Alex, RP. Pionius Hendi, OFMCap., dan RP. Innocentius, OFMCap. Hadir pula Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus serta tokoh masyarakat Heri Saman.

Dalam homilinya, Uskup Samuel mengangkat kehidupan Santo Padre Pio dari Pietrelcina sebagai teladan iman yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam kehidupan.

Suasana Perayaan Syukur Ulang Tahun Bruder Stehp, OFMCap, misa dipimpin langsung oleh selebran utama Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, Senin, 28 September 2026.

Menurutnya, manusia dapat mengetahui banyak hal tentang Tuhan melalui Kitab Suci, buku-buku rohani, maupun ajaran Gereja. Namun, pengetahuan tersebut tidak dengan sendirinya membuat seseorang mengalami kedekatan dengan Tuhan.

Uskup Samuel mengutip ungkapan Padre Pio: “Dalam kitab-kitab kita mencari Tuhan, dalam doa kita menemukan-Nya. Doa adalah kunci yang membuka hati Tuhan.”

Bagi Mgr. Samuel, doa menjadi bagian penting dalam perjalanan iman karena melalui doa seseorang tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi membuka diri untuk mengalami kehadiran-Nya.

Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus hadir dalam perayaan ulang tahun ke- 64, Bruder Stephanus Paiman, OFMCap (28 September 2026)

Iman yang Dihidupi

Padre Pio, yang lahir dengan nama Francesco Forgione di Pietrelcina, Italia, pada 25 Mei 1887, masuk Ordo Kapusin pada usia 16 tahun. Dia ditahbiskan menjadi imam pada 10 Agustus 1910 dan kemudian menjalani sebagian besar hidup pelayanannya di San Giovanni Rotondo.

Dalam refleksinya, Uskup Samuel menempatkan Padre Pio sebagai contoh seseorang yang menjadikan doa sebagai bagian mendalam dari kehidupannya. Iman Padre Pio tidak hanya tampak dalam pengetahuan atau perkataan, tetapi juga dalam ketekunan berdoa dan kesetiaannya melayani umat.

Menurut Uskup Samuel, teladan tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan iman memiliki hubungan erat dengan tindakan. Doa menjadi sumber kekuatan batin, sementara pelayanan menjadi salah satu bentuk nyata dari iman yang dihidupi, oleh karenanya iman tidak cukup hanya dipahami. Iman perlu membentuk cara seseorang memandang kehidupan, memperlakukan sesama, dan menjalankan tanggung jawabnya.

Dari Doa Menuju Pelayanan

Pesan tersebut menjadi semakin relevan dalam perayaan ulang tahun Bruder Stephanus Paiman, OFMCap. Menurut Mgr. Samuel, pertambahan usia bukan hanya kesempatan untuk mengenang perjalanan hidup, tetapi juga momentum untuk melihat kembali panggilan dan pelayanan yang telah dijalani.

Perayaan 64 tahun Bruder Stephanus itu sekaligus berlangsung dalam rangkaian syukuran 21 tahun FRKP dan 8 tahun FRKP West Borneo Vespa Lovers (WBVL).

FRKP selama ini menjadi ruang bagi para relawan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan. Sementara WBVL menjadikan persaudaraan dan komunitas sebagai ruang untuk membangun relasi serta menghadirkan kepedulian sosial.

Dalam konteks tersebut, Mgr. Samuel mengajak umat melihat bahwa iman memiliki dimensi sosial. Relasi dengan Tuhan tidak berhenti dalam ruang doa, tetapi seharusnya mengalir menjadi kepedulian terhadap manusia dan lingkungan.

Iman yang bertumbuh, menurut Mgr. Samuel, akan mendorong seseorang untuk keluar dari dirinya sendiri dan hadir bagi orang lain.

Karena itu, perjalanan iman tidak dapat diukur hanya dari seberapa banyak seseorang mengetahui tentang Tuhan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana pengetahuan tersebut mengubah kehidupan.

Perayaan Ekaristi Syukur 64 tahun Bruder Stephanus Paiman, OFMCap (2026)

Teladan untuk Perjalanan Hidup

Melalui teladan Padre Pio, Mgr. Samuel mengajak umat untuk tidak memiliki iman yang berhenti pada pengetahuan. Pengetahuan tentang Tuhan perlu membawa manusia kepada doa, sementara doa diharapkan melahirkan kehidupan yang semakin dekat dengan sesama.

Dalam konteks perayaan ulang tahun Bruder Stephanus, pesan tersebut juga menjadi refleksi atas perjalanan pelayanan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Usia 64 tahun menjadi kesempatan untuk bersyukur sekaligus melihat kembali apa yang telah dilakukan bagi Gereja, masyarakat, dan lingkungan. Demikian pula perjalanan 21 tahun FRKP menjadi penanda bahwa kepedulian dapat terus dirawat ketika iman diterjemahkan dalam tindakan bersama.

Pada akhirnya, homili Uskup Samuel mengarahkan umat pada satu gerak sederhana, mengenal Tuhan, menemukan-Nya dalam doa, lalu membawa pengalaman tersebut ke dalam kehidupan.

Sebab, iman yang dihidupi bukan hanya iman yang berbicara tentang Tuhan, melainkan iman yang membuat seseorang semakin mampu melayani, mengasihi, dan merawat kehidupan.*Samuel — Pena Katolik.

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini