PenaKatolik.Com, Pontianak | Kitab Suci tidak hanya mengajarkan manusia untuk mengenal Allah, tetapi juga mengajak setiap orang melihat kembali kehidupan dan panggilannya. Dalam semangat Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026, dosen dan tenaga kependidikan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak diajak mendalami sosok Yesus sebagai Guru yang penuh kuasa melalui Injil Matius.
Ajakan tersebut disampaikan Romo Samuel Sony Gunawan, OP, yang akrab disapa Romo Elson, dalam rekoleksi bagi dosen dan tenaga kependidikan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak di Kapelan, Jumat, 25 September 2026.
Rekoleksi tersebut mengangkat tema BKSN 2026 yang disusun Lembaga Biblika Indonesia (LBI) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yakni “Yesus Guru yang Penuh Kuasa, Wajah Yesus dalam Injil Matius.”
Romo Elson mengawali refleksinya dengan mengajak peserta melihat sosok Yesus dari sudut pandang yang berbeda. Baginya, Injil Matius menjadi salah satu pintu penting untuk memahami siapa Yesus dan bagaimana kuasa-Nya dinyatakan.
“Nah, hari ini coba kita lihat dari kacamata yang lain, dari sudut pandang yang lain,” kata Romo Elson, (25/09).
Menurut dia, tema BKSN tahun ini mengarahkan umat untuk tidak hanya mengetahui kisah-kisah tentang Yesus, tetapi berusaha menemukan wajah Yesus yang ditampilkan oleh Injil Matius.
Mengenal Matius, Mengenal Yesus
Romo Elson kemudian mengajak peserta terlebih dahulu mengenal sosok Matius.
Injil Matius merupakan Injil pertama dalam susunan Perjanjian Baru. Dalam tradisi Gereja, Matius dikenal sebagai salah seorang murid Yesus dan sebelumnya bekerja sebagai pemungut cukai.
Bagi Romo Elson, latar belakang tersebut menarik karena Matius mengalami sendiri panggilan Yesus.
“Matius adalah murid Yesus, seorang mantan pemungut cukai,” ujarnya.
Panggilan Matius memperlihatkan bahwa perjumpaan dengan Yesus dapat mengubah arah kehidupan seseorang. Seorang yang sebelumnya menjalani pekerjaan sebagai pemungut cukai kemudian meninggalkan kehidupannya dan mengikuti Yesus.
Romo Elson menghubungkan pengalaman tersebut dengan gagasan first-hand experience, yakni pengalaman langsung seseorang bersama sebuah peristiwa atau pribadi.
Matius, dalam konteks tersebut, tidak sekadar berbicara mengenai sesuatu yang dia dengar dari kejauhan. Dia berada dalam pengalaman iman yang kemudian menjadi bagian dari pewartaan Gereja.
Refleksi ini juga dapat menjadi pertanyaan bagi para dosen dan tenaga kependidikan yakni sejauh mana iman yang dimiliki bukan hanya pengetahuan, tetapi sungguh menjadi pengalaman hidup?
Seseorang dapat mengetahui banyak hal mengenai Yesus. Namun, pengetahuan tersebut baru menemukan maknanya ketika berbuah dalam cara hidup.

Matius, Markus dan Lukas
Dalam rekoleksi tersebut, Romo Elson juga menjelaskan mengenai Injil Sinoptik.
Matius, Markus, dan Lukas disebut Injil Sinoptik karena ketiganya memiliki sejumlah kesamaan dalam menceritakan kehidupan dan karya Yesus. Meski demikian, masing-masing penulis memiliki perspektif dan penekanan yang berbeda.
“Pengalaman yang disampaikan memang hampir sama, tetapi masing-masing memiliki perspektifnya sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Injil Yohanes memiliki karakter yang berbeda dalam menggambarkan pribadi Yesus.
Romo Elson menjelaskan bahwa Injil Matius memberikan gambaran yang cukup luas mengenai kehidupan Yesus. Narasinya dimulai dari silsilah, kelahiran, perjalanan pelayanan, pengajaran, berbagai tindakan dan tanda, hingga sengsara serta wafat-Nya.
Karena itu, membaca Injil Matius berarti melihat perjalanan Yesus secara lebih utuh.
Namun, yang menjadi perhatian utama bukan sekadar kelengkapan cerita tersebut. Yang lebih penting adalah bagaimana Injil Matius memperkenalkan siapa Yesus.
Wajah Yesus
Dalam refleksinya, Romo Elson menunjukkan setidaknya tiga gambaran mengenai Yesus dalam Injil Matius.
Pertama, Yesus adalah Tuhan yang beserta kita, (Imanuel).
Kedua, Yesus adalah Mesias yang dijanjikan.
Ketiga, Yesus adalah Anak Allah.
Keempat, Guru yang berkuasa.
Keempat itu adalah gambaran menjadi dasar untuk memahami tema BKSN 2026 mengenai Yesus sebagai Guru yang penuh kuasa. Romo Elson menegaskan bahwa Yesus tidak dapat dipahami hanya sebagai seorang guru biasa.
“Dari sana kita dapat melihat bahwa Yesus adalah Guru yang mempunyai kuasa. Dia bukan hanya guru biasa, tetapi Guru yang memiliki kuasa,” tegasnya, (25/09).
Kuasa tersebut tampak melalui pengajaran dan tindakan Yesus.
“Kuasa Yesus terlihat dalam berbagai tindakan dan tanda yang dilakukan-Nya. Dia menunjukkan sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan guru-guru lainnya,” lanjut Romo Elson, (25/09).
Karena itu, menurut dia, ketika umat berbicara mengenai Yesus sebagai Guru yang berkuasa, perhatian tidak boleh berhenti pada kemampuan Yesus dalam mengajar.
Yesus menghadirkan apa yang diajarkan-Nya melalui kehidupan.

Guru yang Menghidupi Pengajaran
Refleksi tersebut memiliki relevansi khusus bagi para dosen dan tenaga kependidikan yang sehari-hari berada dalam lingkungan pendidikan Katolik.
Seorang dosen tidak hanya menyampaikan teori. Dia juga menghadirkan teladan melalui cara berbicara, bersikap, mengambil keputusan, memperlakukan mahasiswa, serta menjalankan tanggung jawab akademik.
Demikian pula tenaga kependidikan. Pelayanan kepada mahasiswa, dosen, orang tua, dan masyarakat merupakan bagian dari wajah institusi yang dilihat secara langsung.
Dalam perspektif tersebut, Yesus sebagai Guru menjadi cermin bagi panggilan pendidikan.
Guru bukan hanya seseorang yang memiliki pengetahuan. Guru juga seseorang yang menghadirkan apa yang diajarkannya dalam kehidupan.
Karena itu, tema BKSN 2026 dapat menjadi kesempatan untuk bertanya lebih jauh, Apakah kehidupan kita sebagai pendidik sudah menjadi kesaksian dari apa yang kita ajarkan?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting dalam sebuah universitas Katolik.
Pendidikan Katolik tidak hanya bertujuan menghasilkan manusia yang memiliki kompetensi intelektual, tetapi juga pribadi yang mampu mengembangkan kehidupan berdasarkan nilai iman, martabat manusia, tanggung jawab, dan kebenaran.
Dari Pengetahuan Menuju Perjumpaan
Bagi Romo Elson, membaca Injil tidak seharusnya berhenti pada penambahan pengetahuan.
Kitab Suci mengajak manusia masuk dalam pengalaman perjumpaan dengan Tuhan.
Matius sendiri menjadi gambaran tentang seseorang yang mengalami perubahan setelah berjumpa dengan Yesus. Dari seorang pemungut cukai, dia menjadi murid dan kemudian menjadi bagian dari pewartaan iman.
Di sinilah pesan BKSN menjadi relevan bagi kehidupan sehari-hari.
Mengenal Yesus berarti memberi ruang bagi-Nya untuk mengubah cara seseorang melihat kehidupan.
Iman bukan hanya sesuatu yang dibicarakan, tetapi sesuatu yang dijalani.
Pengetahuan mengenai Kitab Suci juga bukan sekadar pengetahuan akademik. Sabda Allah diharapkan menyentuh kehidupan dan mengubah cara manusia berelasi dengan Tuhan, sesama, pekerjaan, serta tanggung jawabnya.
Kuasa yang Tampak dalam Kehidupan
Romo Elson kemudian mengingatkan bahwa kuasa Yesus tidak dapat dipisahkan dari karya dan tindakan-Nya.
“Karena itu, ketika kita berbicara mengenai tema ‘Yesus Guru yang Berkuasa’, kita tidak hanya berbicara mengenai Yesus sebagai seorang pengajar. Kita berbicara mengenai Yesus yang memiliki kuasa, baik melalui pengajaran-Nya maupun melalui tindakan dan karya-Nya,” jelasnya, (25/09).
Pernyataan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam rekoleksi.
Yesus mengajar dengan perkataan, tetapi juga dengan tindakan. Apa yang dikatakan-Nya memiliki hubungan dengan apa yang dilakukan-Nya.
Bagi para pendidik, hal ini dapat menjadi bahan pemeriksaan diri. Integritas seorang pendidik tidak hanya terlihat dari materi yang disampaikan di ruang kelas, tetapi juga dari kesesuaian antara perkataan dan tindakan.
Seorang dosen dapat berbicara mengenai kejujuran, tetapi mahasiswa juga akan melihat bagaimana dosen tersebut menjalankan tanggung jawabnya.
Seorang tenaga kependidikan dapat berbicara mengenai pelayanan, tetapi mahasiswa akan merasakan nilai pelayanan tersebut melalui sikap yang mereka terima.
Dengan demikian, pendidikan pada akhirnya bukan hanya proses menyampaikan pengetahuan, melainkan proses menghadirkan nilai melalui kehidupan.
Membaca Wajah Yesus dalam Diri
Rekoleksi di Kapelan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak tersebut akhirnya membawa peserta pada refleksi yang lebih luas mengenai panggilan sebagai bagian dari civitas akademika.
Wajah Yesus dalam Injil Matius tidak hanya untuk dipahami secara teoritis.
Yesus tampil sebagai Tuhan yang menyertai manusia, Mesias yang dijanjikan, dan Anak Allah. Dia juga tampil sebagai Guru yang memiliki kuasa melalui pengajaran, tindakan, dan karya-Nya.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana wajah tersebut diteruskan dalam kehidupan umat.
Bagi dosen dan tenaga kependidikan, pertanyaan itu dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari: apakah kehadiran kita membawa orang lain semakin dekat kepada kebenaran, kebaikan, dan Tuhan?
Matius menunjukkan bahwa panggilan dapat mengubah kehidupan seseorang.
Dia dipanggil dari pekerjaannya sebagai pemungut cukai untuk mengikuti Yesus. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari pewartaan iman yang terus dibaca hingga hari ini.
Dengan demikian, setiap orang yang bekerja dalam dunia pendidikan juga memiliki kesempatan untuk menjadikan pekerjaannya sebagai bagian dari panggilan.
Mengajar dapat menjadi panggilan.
Melayani dapat menjadi panggilan.
Mendampingi mahasiswa dapat menjadi panggilan.
Bahkan pekerjaan administratif yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dapat menjadi bentuk pelayanan.

BKSN sebagai Ruang untuk Kembali kepada Sabda
Bulan Kitab Suci Nasional menjadi kesempatan bagi umat untuk kembali membuka Kitab Suci dan membiarkan Sabda Allah berbicara kepada kehidupan.
Melalui Injil Matius, umat diajak tidak hanya bertanya siapa Yesus, tetapi juga apa arti kehadiran Yesus bagi kehidupan manusia.
Bagi civitas akademika Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, refleksi tersebut menemukan konteksnya dalam tugas pendidikan. Universitas bukan hanya tempat pengetahuan dikembangkan. Universitas juga menjadi ruang tempat manusia dibentuk.
Di dalamnya, dosen dan tenaga kependidikan bukan hanya menjalankan profesi, tetapi turut mengambil bagian dalam proses pembentukan manusia.
Karena itu, mengenal Yesus sebagai Guru yang penuh kuasa menjadi undangan untuk kembali melihat makna panggilan tersebut.
Kuasa Yesus bukan terutama kuasa yang menakutkan. Kuasa itu tampak dalam kemampuan-Nya mengajar, menyembuhkan, mengubah, memanggil, dan membawa manusia kepada kehidupan yang baru.
Dan mungkin di sanalah inti refleksi BKSN bagi para pendidik, seorang guru tidak hanya mengubah apa yang diketahui seseorang, tetapi dapat ikut mengubah cara seseorang memandang dan menjalani kehidupan.
Dalam terang Injil Matius, Yesus menunjukkan bahwa pengajaran yang sejati tidak berhenti pada kata-kata.
Sabda menjadi hidup.
Dan kehidupan itulah yang kemudian menjadi kesaksian. Semoga!!! *Samuel — Pena Katolik.



