Home BERITA TERKINI Prinsip Perang Adil yang Sudah Dianggap Usang oleh Gereja Katolik

Prinsip Perang Adil yang Sudah Dianggap Usang oleh Gereja Katolik

0

VATIKAN, Pena Katolik — Di tengah konflik bersenjata yang kerap melanda berbagai belahan dunia, para pemimpin negara sering kali mencoba membenarkan tindakan militer mereka dengan mengutarakan narasi “perang adil”. Narasi politik yang diusung kerap memberi kesan seolah-olah kekerasan dan peperangan adalah satu-satunya jalan keluar yang sah dan adil.

Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan Gereja Katolik mengenai perang? Apakah sebuah negara bebas melancarkan perang terhadap bangsa lain dalam kondisi apa pun?

Dalam ensiklik Magnificat Humanitas (MH), Paus Leo XIV membawa sebuah pernyataan lugas tentang pandangan Gereja tentang “perang adil”. Ia menyatakan, bahwa teori perang yang adil (Just War Theory) “sudah using”. Posisinya ironis mengingat Santo Agustinus (354–430) adalah pencetus teori perang yang adil, dan Paus Leo XIV adalah seorang Augustinian.

Dengan demikian, Paus tampaknya mengambil langkah baru. Ia seakan mengoreksi (memperbaiki) sejarah Gereja dan juga tradisi Agustiniannya sendiri. Dalam Magnifica Humanitas, ia mengatakan, “Saat ini, lebih dari sebelumnya, tanpa mengurangi hak untuk membela diri dalam arti yang paling ketat, penting untuk menegaskan kembali bahwa teori ‘perang yang adil’, yang terlalu sering digunakan untuk membenarkan segala jenis perang, sekarang sudah usang.” (MH,192)

Paus Leo mengungkapkan beberapa kekhawatiran yang valid. Ia memperingatkan “budaya kekuasaan “yang ditandai dengan polarisasi dan kekerasan” yang semakin berkembang dan dibenarkan oleh “ambisi yang tidak manusiawi” (MH, 185). Pertumbuhan teknologi memutuskan hubungan antara tanggung jawab moral dan penggunaan kekerasan sehingga “alat-alat baru” dapat “terlepas dari etika dan tanggung jawab,” dan akibatnya, “keputusan tentang hidup dan mati” dapat “lebih cepat dan impersonal” (MH, 182).

Paus khawatir bahwa “kedewasaan moral masyarakat” (MH, 182) mungkin tidak cukup untuk menghadapi tantangan ini, sehingga perang menjadi norma, bukan pengecualian. Ia takut akan “hilangnya ingatan sejarah yang mengkhawatirkan, karena catatan langsung tentang Holocaust dan dua Perang Dunia menghilang” (MH, 191).

Paus Leo lalu melangkah lebih jauh. Ia menyatakan bahwa era kecerdasan buatan merusak kriteria moral untuk perang yang adil. Ia menegaskan, hanya manusia yang mampu membuat penilaian moral.

Sistem senjata otonom membuat perang “lebih ‘layak’ dan kurang tunduk pada kendali manusia. “Ini melanggar prinsip bahwa kekuatan bersenjata hanya boleh digunakan sebagai upaya terakhir dalam kasus pembelaan diri yang sah.” (MH, 96) Mesin seharusnya tidak membuat keputusan tentang perang, kata Leo.

Meskipun Leo tidak menyebutkan perang spesifik apa pun dalam ensiklik tersebut. Namun, pada saat terbitnya ensiklik ini, Presiden Trump tengah menyerang Iran. Pada 6 Juni 2026, dalam pidatonya dalam perjalanan ke Madrid, Paus Leo menegaskan, “di Iran, kriteria untuk perang yang adil tidak ada. Ia melanjutkan, “teori perang yang adil berasal dari berabad-abad yang lalu ketika mustahil untuk membayangkan senjata dan kapasitas penghancuran yang tersedia bagi umat manusia saat ini.

Teori perang yang adil sebagian besar dikembangkan oleh Santo Agustinus pada abad ke-5 dan diuraikan oleh Santo Thomas Aquinas pada abad ke-13. Mungkin tidak begitu lazim dalam sejarah Gereja, saat seorang Paus mengoreksi ajaran para Kudus. Namun, siapa yang lebih cocok untuk merevisi ajaran utama Santo Agustinus,                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           selain Paus ini, mantan kepala ordo religius yang dinamai menurut nama Agustinus, yang diajar oleh para Augustinian sejak remaja dan menulis disertasinya tentang tata kelola ordo tersebut?

Perang Adil dan Gereja Katolik

Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, Gereja Katolik menggariskan beberapa prinsip “perang adil”. Konsep yang berkembang ini lalu menjadi rujukan juga “pembenaran” oleh seorang pemimpin atas tindakan mereka menyerang negara atau pihak lain. St. Agustinus menjadi salah satu yang paling berpengaruh dalam hal ini.

Pengembangan Teori Perang yang Adil (Just War Theory/JWT) oleh Santo Agustinus terutama ditemukan dalam Contra Faustum Manichaeum (Jawaban kepada Faustus si Manichaean), buku 22, dan dalam risalahnya Kota Tuhan (19.7.12). Ia juga membahas tanggung jawab moral peperangan dalam surat-suratnya, seperti Surat 189 kepada Bonifasius.

Pada zaman selanjutnya, Santo Thomas Aquinas mensintesis dan mengorganisir pemikiran Santo Agustinus. Ia membuat penjelasan sebelumnya tersedia untuk khalayak yang lebih luas, terutama dalam Summa theologiae, khususnya di Bagian Kedua dari Bagian Kedua (2-2.40).

JWT biasanya diorganisir di bawah dua prinsip, “jus ad bello”, ‘keadilan dalam perang’ dan “jus in bellum”, ‘keadilan dalam perang’. Kategori pertama membahas keputusan untuk berperang; kategori kedua membahas strategi dan taktik apa dalam perang yang secara moral diperbolehkan.

Katekismus Gereja Katolik (2309) lalu juga menawarkan pemahaman dan konsep sebuah “perang adil”. Perang seharusnya hanya dilakukan sebagai upaya terakhir. Perang harus memiliki alasan yang adil, artinya dilakukan untuk membela diri, atau, dalam beberapa kasus, untuk tujuan kemanusiaan. Selain itu, perang tidak boleh dilakukan jika tidak ada kemungkinan keberhasilan. Mereka yang mengarahkan upaya perang haruslah otoritas yang sah.

“Syarat-syarat yang memperbolehkan suatu bangsa membela diri secara militer, harus diperhatikan dengan baik. Keputusan semacam itu berakibat besar, sehingga hal itu hanya diperbolehkan secara moral dengan syarat-syarat berikut yang ketat, yang harus serentak terpenuhi:

Kerugian yang diakibatkan oleh penyerang atas bangsa atau kelompok bangsa, harus diketahui dengan pasti, berlangsung lama, dan bersifat berat. Semua cara yang lain untuk mengakhirinya harus terbukti sebagai tidak mungkin atau tidak efektif. Harus ada harapan yang sungguh akan keberhasilan. Penggunaan senjata-senjata tidak boleh mendatangkan kerugian dan kekacauan yang lebih buruk daripada kejahatan yang harus dielakkan. Dalam menentukan apakah syarat-syarat ini terpenuhi, daya rusak yang luar biasa dari persenjataan modern harus dipertimbangkan secara serius.Inilah unsur-unsur biasa, yang ditemukan dalam ajaran yang dinamakan ajaran tentang “perang yang adil”.Penilaian, apakah semua prasyarat yang perlu ini agar diperbolehkan secara moral suatu perang pembelaan sungguh terpenuhi, terletak pada pertimbangan bijaksana dari mereka, yang kepadanya dipercayakan pemeliharaan kesejahteraan umum.”

Setelah perang dimulai, warga sipil tidak boleh menjadi sasaran; bahkan kerusakan tambahan yang tidak disengaja—yaitu, kematian warga sipil non-militer—harus dihindari atau dibatasi sebisa mungkin. Ini disebut sebagai “diskriminasi.” Mereka yang berperang tidak boleh dilatih untuk berperang dengan didorong oleh nafsu darah—kecintaan untuk membunuh atau kesenangan dalam kebrutalan. Strategi perang harus proporsional dengan tujuannya, bukan, misalnya, dengan tujuan pemusnahan total.

Seseorang tidak perlu menjadi seorang Kristen untuk menganut Teori Perang yang Adi; dalam hal ini, agama tidak diperlukan, karena ada tradisi filosofis sekuler yang kuat, seperti dijelaskan di atas.

Sebelum Santo Agustinus, filsuf dan negarawan Romawi Cicero, yang sangat dihormati oleh para pendiri Amerika, memperkenalkan beberapa prinsip Teori Perang yang Adi dalam karyanya On Duties (De Officiis 1.34–40) dan On the Republic (De Re Publica 3). Seorang teoretikus sekuler kontemporer terkemuka, Michael Walzer, menerbitkan karyanya yang paling terkenal, Just and Unjust Wars: A Moral Argument with Historical Illustrations, pada tahun 1977, dan buku itu masih dicetak hingga sekarang. Namun, Walzer mengakui bahwa para teolog Katoliklah yang mempopulerkan teori tersebut.

Gereja menegaskan bahwa umat beriman pertama-tama harus menjadi pembawa damai. Penggunaan kekuatan militer hanya dapat dipertimbangkan oleh pemerintah manakala seluruh upaya perdamaian telah gagal total.

Selain itu, Gereja menegaskan bahwa “Setiap tindakan perang yang ditujukan pada penghancuran tanpa diskriminasi terhadap seluruh kota atau kawasan luas beserta penduduknya adalah kejahatan terhadap Allah dan manusia, yang harus dikutuk secara tegas dan tanpa ragu” (KGK 2314).

Paus Fransiskus secara konsisten menyuarakan pandangannya mengenai dampak buruk perang bagi kemanusiaan. “Perang selalu tidak adil, karena umat Allahlah yang menanggung akibatnya. Hati kita tidak bisa tidak menangis menyaksikan anak-anak dan perempuan yang terbunuh, bersama seluruh korban perang lainnya,” tutur Paus Fransiskus seraya mengingatkan bahwa perpecahan dan peperangan berakar dari kejahatan.

Keputusan untuk berperang tidak boleh diambil secara ringan atau dibenarkan dengan mudah. Oleh karena itu, ketika mendengar kabar jatuhnya konflik bersenjata di dunia, sikap utama yang dipanggil dari umat manusia bukanlah bersorak, melainkan menundukkan kepala dalam doa yang tekun demi hadirnya perdamaian.

Sejarah Perang Adil

Teori perang yang adil (Latin: bellum iustum) adalah doktrin, juga disebut sebagai tradisi, etika militer yang bertujuan untuk memastikan bahwa perang dapat dibenarkan secara moral melalui serangkaian kriteria, yang semuanya harus dipenuhi agar perang dianggap adil.

Tradisi teori “perang adil” memiliki akar sejarah yang panjang dalam berbagai peradaban kuno. Di Mesir Kuno, konsep perang adil berpusat pada legitimasi divine Firaun dan prinsip Maat (keteraturan dan keadilan). Perang dianggap sah jika dilaksanakan atas perintah para dewa untuk memperluas atau mempertahankan negara.

India juga memiliki penjelasan dalam Kitab Mahabharata yang memperkenalkan “dharma-yuddha” (perang sebagai laku dharma/kebaikan). Kitab ini memuat kriteria seperti proporsionalitas, tujuan yang adil, serta perlunya memperlakukan tawanan secara layak. Dalam Sikhisme, “dharamyudh” mengizinkan penggunaan kekuatan militer demi membela keyakinan setelah upaya damai gagal.

Di dunia Asia Timur misalnya di Tiongkok (era Zhou/Perang Antarnegara), perang dinilai sebagai jalan terakhir yang hanya sah jika diputuskan oleh penguasa yang berhak. Jepang kemudian mengadaptasi filosofi Tiongkok ini untuk membenarkan kampanye militer sebagai upaya pasifikasi.

Sementara itu di dunia barat, di Yunani dan Romawi Kuno, Aristoteles memperkenalkan perang sebagai jalan terakhir demi pertahanan diri dan mencapai perdamaian. Filsuf Stoik seperti Panaetius menekankan perlakuan beradab bagi pihak yang kalah. Di Romawi, bellum iustum membutuhkan alasan sah (seperti membalas serangan) serta deklarasi ritual formal untuk menghindari kemurkaan dewa dan mematuhi hukum antarbangsa (ius gentium).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Live RTPPola GacorMahjongMahjong WaysPola Hari IniMahjong Wins 3Slot GacorPola AkuratBaccaratPola AlternatifLive RTPPola GacorMahjongMahjong WaysPola Hari IniMahjong Wins 3Slot GacorPola AkuratBaccaratPola AlternatifKolaborasi AI dan Data RTP PG Soft Dinilai Mendorong Transparansi Baru dalam Ekosistem Gaming DigitalTeknologi Terbaru di Mahjong Ways 2 Mengubah Tempo, Visual, dan Respons Permainan secara MenyeluruhMengupas Data Mahjong Ways dan Ways 3 untuk Menemukan Perbedaan Karakter di Balik Sistem PermainannyaBlack Scatter dengan RTP Stabil Jadi Perhatian, Inilah Cara Membaca Polanya secara Lebih RasionalMengamati Scatter Mahjong Ways 1 dalam 1.000 Putaran, Sejumlah Pola Menarik Mulai TerlihatSweet Bonanza Kembali Populer Berkat Perpaduan Visual dan Animasi IkonikTransformasi Baccarat Digital dari Permainan Klasik Menuju Format yang Lebih ModernMahjong Ways dan Sweet Bonanza Mengisi Tren Gaming Terbaru, Apa Daya TariknyaSweet Bonanza vs Mahjong Ways, Menelusuri Perbedaan Desain dan Kekuatan TemanyaBagaimana Media Sosial Bisa Membuat Sebuah Game Mendadak Ramai DibicarakanKonten Game Berdurasi Pendek Kini Mendominasi Media Sosial, Apa PenyebabnyaKomunitas Gamer Mulai Beralih ke Acara Online yang Lebih Interaktif dan SeruPanduan Menyiapkan Malam Bermain Bersama agar Lebih Seru, Nyaman, dan TeraturLima Kesalahan Umum yang Bisa Mengganggu Keharmonisan Komunitas Game OnlineRekomendasi Format Turnamen Online yang Cocok untuk Komunitas Gamer LokalGates of Olympus dan Rahasia Tempo Putaran, Mengapa Kecepatan serta Ketepatan Waktu Sama PentingnyaMenjelang Hari Kemerdekaan, Mahjong Ways 2 Menghadirkan Nuansa Nusantara yang Lebih SemarakMengenal Teknik Kalibrasi Volatilitas melalui Interval dan Pembacaan Data Visual yang Lebih PresisiIstilah Parlay RTP Kerap Disalahpahami, Begini Peran Statistik dalam Membaca Peluang secara ObjektifModel Saintifik untuk Menjaga Konsistensi ketika Sistem Memasuki Titik Transisi yang Sulit Diprediksi
Mahjong Ways 2 dan Cara Mekanisme Game Dipahami melalui Pendekatan Analisis DataMahjong Ways dan Pemanfaatan Data untuk Memahami Variasi Hasil PermainanPeran Algoritma dalam Membentuk Mekanisme Berbagai Game Digital Masa KiniPerkembangan AI Membuka Perspektif Baru dalam Pengembangan Industri Game DigitalMahjong Ways dalam Perspektif Teknologi Digital dan Perkembangan Industri Game ModernStarlight Princess Menggambarkan Perkembangan Desain Visual dalam Teknologi Game DigitalMemahami RTP dan Volatilitas melalui Pendekatan Statistik dalam Analisis Game DigitalGate of Olympus dan Inovasi Mekanisme Game di Tengah Perkembangan Industri DigitalStarlight Princess dan Evolusi Identitas Visual pada Platform Game Berbasis MobileMemahami Probabilitas pada Game Digital melalui Pendekatan Statistik dan Literasi DataGate of Olympus serta Perkembangan Fitur Interaktif dalam Ekosistem Game OnlineMahjong Ways dan Peran Teknologi dalam Membentuk Pengalaman Interaktif PenggunaMahjong Ways 2 dan Perubahan Desain Interaktif yang Menarik Dikaji dari Sisi TeknologiMahjong Ways 2 Menjadi Objek Menarik untuk Melihat Evolusi Mekanisme Game DigitalBagaimana Data Statistik Membantu Menjelaskan Variasi Hasil pada Permainan DigitalTeknologi Random Number Generator dan Perannya dalam Sistem Game DigitalStarlight Princess dan Hubungan antara Desain Game dengan Pengalaman PenggunaGate of Olympus Memperlihatkan Pemanfaatan Teknologi Grafis dalam Game ModernMengapa Pemain Sering Mengenali Pola pada Sistem Acak dalam Perspektif Perilaku DigitalMahjong Ways dan Perkembangan Teknologi Mobile yang Mengubah Cara Pengguna Bermain
Dari Ilustrasi hingga Animasi, Begini Evolusi Seni Visual dalam Game ModernGate of Olympus dan Eksplorasi Desain Fantasi dalam Lanskap Game Digital Masa KiniStarlight Princess sebagai Gambaran Perkembangan Seni Digital dalam Industri GameMahjong Ways dan Perpaduan Estetika Visual dengan Perkembangan Budaya Game DigitalGate of Olympus dan Evolusi Estetika Visual dalam Industri Game ModernStarlight Princess dalam Perspektif Desain Karakter dan Kreativitas Visual Era DigitalPerilaku Pemain dan Perubahan Cara Menikmati Karya Visual dalam Era Game InteraktifStarlight Princess Memadukan Imajinasi, Desain Karakter, dan Teknologi dalam Satu PengalamanStarlight Princess dan Cara Warna, Karakter, serta Animasi Membentuk Identitas Sebuah GameMahjong Ways 2 Menawarkan Perspektif Menarik tentang Desain Simbol dalam Game DigitalMahjong Ways dan Cara Elemen Budaya Diolah Menjadi Identitas Visual Permainan DigitalKetika Game Menjadi Media Visual, Mahjong Ways dan Perubahan Selera Pengguna DigitalMahjong Ways 2 dan Pergeseran Estetika Game dari Tampilan Konvensional ke InteraktifMahjong Ways dan Perkembangan Bahasa Visual dalam Budaya Permainan DigitalGame Digital sebagai Medium Kreatif, Melihat Hubungan Teknologi, Seni, dan Pengalaman PemainGate of Olympus serta Perkembangan Representasi Mitologi dalam Budaya Game DigitalMengapa Estetika Menjadi Bagian Penting dalam Perancangan Game Digital ModernGate of Olympus Memperlihatkan Peran Efek Visual dalam Membangun Pengalaman InteraktifMahjong Ways 2 dan Hubungan antara Simbol Tradisional dengan Interpretasi Visual ModernDari Seni hingga Teknologi, Mahjong Ways dan Perubahan Lanskap Budaya Game Digital
Starlight PrincessMahjong Ways 2Mahjong WaysRTP LivePola GacorPola LiveRTP GacorMahjong Wins 2Mahjong WaysMahjong Ways 2Mahjong WaysMahjong WaysRTP LiveMahjong Ways 2RTP GacorFortune TigerPG SoftMahjong Ways 2Pola GacorMahjong Ways 2Bonanza GoldMahjong Ways 2Pola GacorAztec GemsAztec GemsMahjong Ways 2Pola GacorPola GacorRTP LiveRTP LivePola Sugar Rush Disebut Hanya Dipahami Pemain Berpengalaman, Seberapa Masuk Akal Klaimnya?Aztec Gems Kerap Dikaitkan dengan Celah Tersembunyi, tetapi Mekanismenya Tetap Berbasis Sistem AcakFluktuasi RTP Starlight Princess Perlu Dibaca sebagai Statistik, Bukan Sinyal Pola BerikutnyaData RTP Gates of Olympus Menjelaskan Probabilitas Jangka Panjang, Bukan Hasil Putaran TertentuMahjong Ways Tetap Relevan saat Teknologi Gaming Modern Mengubah Cara Pengguna BerinteraksiEvolusi Teknologi Visual dan Pengalaman Imersif dalam Permainan DigitalMemahami Distribusi Simbol dalam Sistem Acak lewat Pendekatan MatematikaCara Kerja Algoritma RNG dalam Permainan Modern: Penjelasan Teknis dan BatasannyaData Real-Time dan Perubahan Ritme Sistem Interaktif yang Sering TerlewatMemahami Cara Kerja Multiplier dan Cascade pada Mahjong Ways 2 secara TeknikalMultiplier Berantai Mahjong Ways 2 Berubah Seiring Cascade, Begini Urutan MekanismenyaVolatilitas Permainan Bisa Diukur Lebih Objektif melalui Distribusi Hasil dan Variasi NilainyaAnalisis Real-Time Membantu Mendeteksi Perubahan Ritme Sistem yang Sulit Terlihat SekilasPeta Frekuensi Simbol Menunjukkan Mengapa Susunan Visual Bisa Berbeda dari Satu Sesi ke Sesi LainMahjong Ways Kembali Populer, Perilaku Komunitas Digital Ikut Membentuk Gelombang PerbincangannyaPeran Teknologi dalam Mempelajari Distribusi Simbol di Sistem AcakModel Matematika Membantu Membaca Probabilitas Permainan tanpa Mengubahnya Menjadi PrediksiGolden Spin Starlight Princess Ramai Dibahas, Apa Sebenarnya Fungsi Mekanisme Ini?Scatter Naga Mahjong Ways 2 Terlihat Membentuk Pola, tetapi Apakah Datanya Benar-Benar Konsisten?Putaran Ke-50 Starlight Princess Disebut Menentukan Jackpot, Statistik Justru Menjelaskan Sebaliknya
Exit mobile version