LANDAK, Pena Katolik – Sekilas, mengajar bahasa Inggris kepada siswa Indonesia tanpa menguasai bahasa Indonesia terdengar mustahil. Namun,ketika tantangan itulah yang dijalani oleh Agustine (23), seorang pemuda asal Prancis yang mengikuti program DominGo (Dominican Volunteer) selama enam bulan di Pontianak, Kalimantan Barat.
Selain bekerja sebagai tukang kayu, Agustine mengabdikan dirinya sebagai relawan dengan mengajar bahasa Inggris di SMK Petukangan Santo Yusup Pontianak. Ia juga membantu berbagai aktivitas di workshop sekolah sebagai bagian dari pelayanan yang dijalankannya.
Agustine menjelaskan bahwa DominGo merupakan sebuah organisasi yang mengirimkan sukarelawan ke berbagai negara di dunia untuk melayani masyarakat melalui berbagai bidang keahlian.
“DominGo adalah asosiasi yang mengirimkan sukarelawan seperti saya ke seluruh dunia. Anggotanya terdiri dari pria dan wanita, meskipun sebagian besar adalah perempuan. Mereka memiliki latar belakang profesi yang beragam, seperti teknik, pendidikan, dan berbagai bidang lainnya,” jelas Agustine.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah kendala bahasa. Sebagai pengajar bahasa Inggris, Agustine belum dapat berbahasa Indonesia, sementara sebagian besar siswanya belum fasih berbahasa Inggris. Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang.
Dalam setiap proses belajar mengajar, Agustine memanfaatkan Google Translate untuk menyampaikan materi dan instruksi kepada para siswa. Ia mengetik pesan yang ingin disampaikan, menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, kemudian siswa mengikuti arahan tersebut. Cara sederhana ini justru menjadi jembatan komunikasi yang efektif selama proses pembelajaran berlangsung.
Bagi Agustine, pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Ia merasa diterima dengan hangat oleh para siswa dan menemukan semangat belajar yang tinggi di dalam kelas.
“Mereka menerima saya dengan sangat baik. Mereka ingin belajar dari saya, dan saya juga sungguh-sungguh ingin belajar dari mereka,” ungkapnya.
Tidak hanya belajar tentang budaya baru, Agustine juga menemukan nilai yang menurutnya mulai memudar di negara asalnya. Ia mengaku terkesan dengan budaya gotong royong masyarakat Indonesia yang begitu kuat.
“Orang Indonesia sangat senang membantu satu sama lain. Berbeda dengan di Prancis yang mulai sedikit kehilangan hal tersebut, karena kami lebih sering fokus pada diri sendiri,” tuturnya.
Di balik pengalamannya sebagai relawan, tersimpan kisah pribadi yang menginspirasi. Agustine mengaku dirinya merupakan seorang pribadi yang introvert dan dahulu sangat sulit berbicara di depan umum. Bahkan, ia tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang guru.
“Jangan takut untuk bertanya. Saya seorang introvert. Dulu sangat sulit bagi saya untuk berbicara seperti sekarang. Saya bahkan tidak pernah membayangkan akan mengajar atau berdiri di depan banyak orang,” katanya.
Kesempatan menjadi relawan melalui program DominGo telah mengubah hidupnya. Pengalaman mengajar, berinteraksi dengan masyarakat, dan menghadapi tantangan di negeri yang jauh dari kampung halamannya telah menumbuhkan rasa percaya diri yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kisah Agustine membuktikan bahwa perbedaan bahasa bukanlah penghalang untuk berbagi ilmu dan membangun persahabatan. Dengan kemauan untuk belajar, keberanian melangkah keluar dari zona nyaman, serta bantuan teknologi sederhana seperti Google Translate, ia berhasil menjembatani dua budaya dan meninggalkan inspirasi bagi banyak orang di Kalimantan. (Abxy)



