GIRISONTA, Pena Katolik — Suasana penuh sukacita dan nilai budaya mewarnai penyelenggaraan Prosesi Obor Salib (POS) 2026 pada Sabtu 8 Agustus 2026. Kegiatan tahunan ini digelar oleh Stasi Maria Assumpta (GSMA), Paroki Santo Stanislaus Girisonta. Prosesi ini diadakan satu minggu sebelum Hari Raya Maria Assumpta, sekaligus menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-59 stasi tersebut.
Kepala Paroki Girisonta, Romo A.P. Danang Bramasti, SJ mengatakan, talenta yang dianugerahkan Tuhan tidak boleh dipendam, melainkan harus terus dikembangkan agar menjadi berkat bagi diri sendiri, masyarakat, dan kemuliaan Tuhan.
POS 2026 tampil beda dengan memadukan unsur iman, kreativitas, dan tradisi lokal secara apik. Rangkaian acara dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni memikat, di antaranya: Pertunjukan Wayang Kulit Lakon Dewa Ruci yang dibawakan secara apik oleh dalang cilik Rafael Doni Tegar. Kemudian ada penampilan maestro tari Didik Nini Thowok (Didik Hadiprayitno) yang menyedot perhatian umat. Harmoni indah dari penampilan Suara Daud OMK GSMA serta kolaborasi Orkestra SMP Pangudi Luhur Ambarawa bersama Bangjo Talent.
Acara puncak ditandai dengan prosesi simbolis penyalaan Obor Salib yang dilanjutkan dengan perarakan bersama seluruh umat. Lebih dari sekadar perayaan rutin, POS 2026 berhasil menyalakan kembali semangat pelayanan, memberi ruang bagi generasi muda, serta merayakan iman dalam balutan seni budaya yang bernilai tinggi.
Kegiatan Orang Muda
Mengusung tema “Titah Makarya Martani Luhuring Asma,” acara ini mengajak umat untuk memaknai obor sebagai wujud doa, syukur, serta ajakan memuliakan nama Tuhan melalui talenta dan karya nyata.
Orang Muda Katolik (OMK) GSMA memegang peranan kunci dalam kepanitiaan. Ketua OMK, Gregorius Virgo Budi Cahyono menyampaikan bahwa penyerahan tanggung jawab kepada OMK merupakan langkah konkret dalam menjaga proses regenerasi pelayanan di gereja stasi.
“Melalui kepercayaan ini, anak-anak muda diberi ruang belajar untuk mengambil tanggung jawab sekaligus meneruskan regenerasi pelayanan gereja,” ungkap Gregorius.
Ketua Panitia Prosesi Obor Salib, Rosa Angela Stefany, menimpali bahwa perarakan obor ini hendaknya tidak berhenti pada simbolis semata, melainkan menjadi pemicu bagi umat untuk terus mengembangkan talenta demi pelayanan sesama.
