JAKARTA, Pena Katolik – Refleksi mendalam mengenai model ekonomi alternatif mengemuka dalam Hari Studi Sesi II (28/9/2029) yang mengusung tema “Ekonomi Pertobatan dan Alternatif Model Ekonomi: Membangun Ekonomi Belas Kasih, dari Konsumsi ke Komunitas.” Diskusi yang dipandu oleh Mgr. Christophorus Tri Harsono ini mempertemukan Direktur Caritas Indonesia, Romo Fredy Rante Taruk dan Aloysius Nyoman.
Romo Fredy Rante Taruk mengingatkan pentingnya menjaga jati diri CU agar tidak terjebak pada akumulasi modal semata. Menurutnya, pendidikan anggota adalah jiwa dari gerakan koperasi untuk membentuk karakter, kejujuran, dan kepekaan sosial.
Credit Union harus terus mengembangkan pendidikan yang membentuk karakter, tanggung jawab, serta kesadaran akan nilai-nilai kebersamaan. Maka lanjut Romo Fredy, anggota CU bukan sekadar nasabah, melainkan pribadi-pribadi yang bertumbuh dalam semangat solidaritas, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.
“Pendidikan yang berkelanjutan akan melahirkan anggota yang mampu mengelola keuangan dengan bijaksana sekaligus memiliki kepekaan sosial terhadap kebutuhan komunitas.”
Aloysius Nyoman membagikan kisah lahirnya CU di parokinya sebagai jawaban nyata atas penderitaan umat pasca-Bom Bali II. Berakar kuat pada komunitas paroki, CU tumbuh bukan sekadar lembaga keuangan, melainkan wadah gotong royong dan pemberdayaan umat.
“Kekuatan utama koperasi bukan terletak pada besarnya modal, melainkan pada rasa memiliki dan tanggung jawab seluruh anggota,” tegas Aloysius.
Sesi ini menegaskan bahwa ekonomi belas kasih merupakan langkah konkret mengutamakan manusia di atas keuntungan. Di tengah maraknya budaya konsumtif dan individualistis, model ekonomi berbasis komunitas ini menjadi panggilan nyata bagi Gereja untuk menghadirkan wajah ekonomi yang lebih manusiawi, berasaskan solidaritas, dan berorientasi pada kesejahteraan bersama.



