Senjakala Mahkota Kepausan, Mengenang Ketika Seorang Paus Memiliki Mahkota

VATIKAn, Pena Katolik – Dalam bukunya yang terbit pada tahun 1937 berjudul A Reporter at the Papal Court, Thomas B. Morgan—yang kala itu menjabat sebagai Kepala Biro The United Press di Roma—menuliskan sebuah kesaksian yang memukau. Ia menggambarkan, bahwa upacara pelantikan Paus Pius XI pada tahun 1922 berlangsung dengan jauh “lebih memukau dan penuh warna”. Ia membandingkannya dengan penobatan Raja Inggris, yang masih kalah.

Salah satu faktor utama yang memicu decak kagum tersebut adalah momen saat seorang Paus memakai “mahkota” kepausan. Sejak abad ke-12 hingga pertengahan abad ke-20, misa pelantikan seorang Paus salah satunya mencakup saat pontifex dimahkotai dengan sebuah tiara emas yang bertaburkan batu permata. Namun, tradisi agung ini berakhir ketika Paus Paulus VI. Paus dengan nama asli Giovanni Battista Enrico Antonio Maria Montini ini  memutuskan untuk berhenti menggunakan mahkota kepausan pada tahun 1964.

Menanggalkan Mahkota

Pada Misa Inagurasinya, Paus Paulus VI memutuskan “menanggalkan” tiara kepausan. Ia memilih hanya mengenakan mitra (topi liturgi uskup) sebagai gantinya. Langkah merakyat ini kemudian terus diikuti oleh para penerusnya hingga hari ini.

Menariknya, tiara kepausan terakhir yang pernah digunakan oleh Paulus VI tersebut akhirnya dikirim ke Amerika Serikat. Kini, mahkota bersejarah itu disimpan dan dipajang di Basilica St. Maria Imakulata Washington, D.C.

Gagasan untuk meninggalkan “simbol kemegahan duniawi” ini juga ditegaskan oleh penerusnya dua dekade kemudian. Dalam homili Misa Inagurasnya pada 22 Oktober 1978, Paus Yohanes Paulus II menyinggung tentang mahkota ini. Ia menegaskan, fokus Gereja saat ini harus diarahkan ke tempat lain, bukan pada “kemegahan” semata.

“Ini bukanlah saatnya untuk kembali kepada sebuah upacara dan sebuah objek yang dianggap, secara keliru, sebagai simbol kekuasaan duniawi para Paus,” tegas Paus Yohanes Paulus II.

Menghapuskan tradisi mahkota kepausan sebetulnya bukanlah satu-satunya cara Paus Paulus VI dalam membuka pintu Gereja bagi dunia modern. Dalam semangat keterbukaan yang sama, ia juga memindahkan lokasi upacara penobatan ke area luar ruangan, tepat di depan basilika.

Di sana, Paus Paulus VI diarak ditandu menembus kerumunan umat di Lapangan St. Petrus. Ia diarak dengan tandu yang diangkat anggota persaudaraan awam kepausan. Persaudaran awa mini hingga kini masih memiliki peran penting di Vatikan. Perarakan dengan tandu ini tidak lagi dilakukan ketika Paus mulai menggunakan “mobil kepausan” dalam perarakan publik. Namun, peran para anggota persaudaraan awam kepausan ini masih memiliki peran. Merekalah yang bertugas membawa peti jenazah Paus Fransiskus.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini