Beato Inosensius V, Juru Damai di Mas Kepausan yang Singkat

ROMA, Pena Katolik – Masa kepausannya di abad ke-13 dikelilingi oleh ketegangan politik yang hebat di Italia, terutama persaingan antara faksi-faksi politik dan ambisi Charles dari Anjou (Raja Sisilia). Di sinilah, Paus Inosensius V memilih jalur netral dan bertindak sebagai mediator perdamaian, meski kepausannya hanya lima bulan.

Paus berlatar belakang imam dari Ordo Pewarta (Ordo Praedicatorum/OP) ini berhasil memulihkan hubungan damai antara Republik Pisa dan Florence. Ia dikenal sebagai Paus yang lebih mengutamakan diplomasi damai.

Pemikir Brilian

Paus Inosensius V lahir pada 1225 dengan nama Pierre de Tarentaise di dekat Moûtiers, sebuah kawasan di wilayah Tarentaise yang kala itu merupakan bagian dari Provinsi Savoy. Meskipun demikian, terdapat hipotesis populer lain yang menyebutkan ia lahir di La Salle, Lembaga Aosta (kini wilayah Italia). Pada masa itu, kedua tempat tersebut berada di bawah naungan Kerajaan Arles di Kekaisaran Romawi, meski saat ini Moûtiers terletak di tenggara Prancis dan La Salle di barat laut Italia. Ada pula anggapan dari sejumlah akademisi Prancis yang meyakini Pierre berasal dari wilayah Tarantaise di Burgundy atau departemen Loire.

Memasuki masa mudanya sekitar tahun 1240, Pierre menjawab panggilan hidup religiusnya dengan bergabung ke dalam Ordo Pewarta di biara mereka yang terletak di Lyons. Ketekunan dan kecerdasan Pierre membawanya melangkah lebih jauh. Pada musim panas tahun 1255, ia dipindahkan ke studium generale di Biara S. Jacques, Paris.

Perpindahan ini menjadi titik krusial bagi masa depannya karena membuka jalan baginya untuk menempuh studi di Universitas Paris. Di universitas bergengsi tersebut, Pierre berhasil meraih gelar Master Teologi dan dengan cepat mengukir reputasi yang sangat harum sebagai seorang pengkhotbah yang ulung.

Antara tahun 1259 hingga 1264, karier akademik Pierre mencapai puncaknya ketika ia dipercaya menduduki “Chair of the French”, salah satu dari dua kursi profesor yang secara khusus dialokasikan untuk Ordo Dominikan. Pada tahun 1259, Pierre menghadiri Kapitel Jenderal Ordo Dominikan di Valenciennes yang dipimpin oleh Magister Jenderal Humbertus de Romans. Pertemuan penting ini dihadiri pula oleh para pemikir besar abad pertengahan seperti Albertus Agung, Thomas Aquinas, Bonushomo Britto, dan Florentius. Bersama-sama, mereka merumuskan ratio studiorum atau program studi bagi seluruh Ordo Dominikan, yang secara inovatif mewajibkan studi filsafat sebagai fondasi Pendidikan calon imam, bagi mereka yang belum cukup terlatih untuk mendalami teologi.

Inovasi inilah yang memulai tradisi filsafat skolastik Dominikan di setiap biara, seperti yang kemudian diterapkan di biara Santa Sabina di Roma pada tahun 1265. Setahun setelah kapitel tersebut, Pierre dianugerahi gelar kehormatan sebagai Pengkhotbah Jenderal.

Reputasi Pierre yang tetap diakui membuatnya langsung terpilih menjadi Prior Provinsi (Provinsial) untuk Provinsi Prancis dengan masa jabatan tiga tahun (1264–1267). Setelah dibebaskan dari tugas strukturalnya pada Kapitel Jenderal di Bologna pada Mei 1267 dan setelah argumen pembelaan Thomas Aquinas beredar luas, Pierre pun kembali menduduki kursi profesornya di Universitas Paris. Pada tahun 1269, ia kembali terpilih menjadi Provinsial Prancis dan memegang posisi tersebut sampai ia dipanggil untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar di bawah hierarki tertinggi Gereja.

Menjadi Paus

Pierre diangkat menjadi kardinal pada tanggal 3 Juni 1273, dalam Konsistori yang diadakan di Orvieto oleh Paus Gregorius X, dan diangkat menjadi Uskup Keuskupan pinggiran Ostia. Ia lalu berpartisipasi dalam Konsili Ekumenis Kedua di Lyon.

Konsili Lyons II dibuka pada 1 Mei 1274. Sesi pertama diadakan pada hari Senin, 7 Mei. Agenda utama adalah Perang Salib, dan penyatuan kembali Gereja Timur dan Barat.

Sebagai Dosen  Teologi ternama di Universitas Paris yang bergelar Doctor Famosissimus, Pierre adalah pemikir utama yang menyusun draf-draf teologis selama konsili. Paus Gregorius X mengandalkan kecemerlangan intelektualnya untuk memimpin debat teologis dan merumuskan dekret-dekret konsili, terutama yang berkaitan dengan reformasi internal Gereja dan pembelaan doktrin iman.

Salah satu babak paling mengharukan dan ikonik dalam sejarah Konsili Lyon II adalah wafatnya Santo Bonaventura. Teolog besar dari Ordo Fransiskan itu wafat di tengah-tengah berlangsungnya konsili pada Juli 1274. Pierre secara khusus dipilih untuk memimpin upacara pemakaman dan menyampaikan khotbah (eulogi) di hadapan seluruh peserta konsili, termasuk Paus dan para raja Eropa.

Konsili Lyons II berhasil mencapai dua poin penting, yaitu upaya persatuan gereja dan perencanaan Perang Salib baru. Melalui konsili ini, Paus Gregorius X sempat mendeklarasikan penyatuan kembali antara Gereja Katolik Barat dan Gereja Ortodoks Timur setelah delegasi Yunani menyepakati formula iman bersama. Selain itu, konsili ini mengesahkan rencana Perang Salib untuk merebut kembali Tanah Suci Yerusalem.

Melalui dekret Ubi Periculum yang disahkan dalam Konsili Lyons II pada 7 Juli 1274, Paus Gregorius X meresmikan format konklaf ketat guna mempercepat pemilihan paus baru dan menghindari kekosongan kekuasaan yang berlarut-larut. Regulasi ini mewajibkan para kardinal berkumpul paling lambat sepuluh hari setelah kematian paus di kota tempat ia wafat untuk dikurung bersama dalam satu ruangan tanpa sekat interior dan diputus komunikasinya dari dunia luar.

Tak lama setelah Konsili Lyons II ini berakhir, Paus Gregorius X wafat. Setelah masa tunggu sepuluh hari yang diwajibkan selesai, dua belas kardinal berkumpul pada tanggal 20 Januari 1276 untuk mengikuti Misa Roh Kudus sebelum memulai pemilihan. Keesokan paginya, 21 Januari, Kardinal Pierre de Tarentaise terpilih secara aklamasi pada pemungutan suara pertama dan mencetak sejarah sebagai anggota Ordo Dominikan pertama yang menjadi Paus. Mengambil nama pontifikal Inosensius V, beliau memutuskan untuk melangsungkan upacara penobatannya di Roma, kota yang sudah bertahun-tahun tidak dihadiri oleh seorang Paus.

Paus Perdamaian

Pada masa kepausannya, Paus Inosensius V dikenal karena “warisan damai” yang ditinggalkannya. Ia menorehkan warisan penting dalam diplomasi perdamaian dan administrasi Gereja, ketika berhasil memfasilitasi perjanjian damai antara Genoa dan Napoli yang ditandatangani pada Juni 1276.

Paus Inosensius V menunjukkan komitmen besar terhadap keputusan Konsili Lyons II dengan terus mengupayakan persatuan dengan Gereja Ortodoks Timur. Ia bahkan mengirimkan delegasi khusus untuk menjembatani perdamaian antara Kaisar Michael VIII dan Raja Charles I.

Langkah-langkah strategis ini terhenti setelah Paus Inosensius V wafat di Roma pada 22 Juni 1276. Ia dimakamkan di Basilika St. Yohanes Lateran dalam sebuah makam yang dibangun oleh Raja Charles I.

Di samping warisan politik dan diplomatiknya, Beato Paus Inosensius V mengukir warisan intelektual yang abadi sebagai penulis ulung dari berbagai karya penting di bidang filsafat, teologi, dan hukum kanonik. Ia dijuluki sebagai famosissimus doctor (doktor yang paling terkenal).

Paus Leo XIII secara resmi membeatifikasikannya pada 14 Maret 1898. Jejak kesuciannya ini terus dikenang oleh Gereja hingga proses kanonisasinya resmi dibuka pada 25 Mei 1943. Teladan kesuciannya diperingati setiap 22 Juni.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini