VATIKAN, Pena Katolik — Paus Leo XIV menyampaikan permohonan tertulis terakhir yang menyentuh hati kepada Superior Jenderal beserta para uskup, imam, seminaris, dan umat yang tergabung dalam Serikat Santo Pius X (SSPX). Dalam surat tertanggal 29 Juni 2026, Paus meminta dengan sangat agar mereka membatalkan rencana penahbisan uskup tanpa mandat kepausan yang dijadwalkan berlangsung pada hari ini Juli 2026.
“Saya merasa ini adalah tugas saya, melalui otoritas yang diterima dari Kristus, untuk meminta Anda menghentikan tindakan yang Anda niatkan ini,” tegas Paus Leo XIV dalam surat yang dipublikasikan oleh Vatikan pada 30 Juni 2026. Berbicara sebagai penjamin tertinggi kesatuan dan ortodoksi dalam Gereja Katolik, Paus mengingatkan dengan tegas bahwa “merobek jubah Kristus yang tanpa jahitan adalah dosa yang sangat berat”.
Kekhawatiran bahwa SSPX akan tetap melanjutkan tindakan skismatik (perpecahan) dengan menahbiskan empat uskup di seminari Écône, Swiss, sebelumnya telah mencuat dalam Konsistori Luar Biasa para kardinal pada 26–27 Juni 2026 lalu. Meski konsistori tidak mengeluarkan pernyataan resmi, Vatikan memilih untuk langsung merilis teks surat pribadi Paus hari ini.
Saat ini, SSPX memiliki sekitar 600.000 anggota di seluruh dunia, didukung oleh 700 imam dan seminaris, serta dua uskup.
Kronologi Upaya Dialog Vatikan
Menanggapi surat tersebut, Pastor Davide Pagliarani (Superior Jenderal SSPX), mengirimkan surat resmi yang meminta Paus Leo XIV untuk mempertimbangkan sebelum menjatuhkan sanksi apa pun.
“Jauh dari tekad kami untuk memisahkan diri dari Gereja Roma. Sebaliknya, kami ingin melayaninya dengan cara-cara yang luar biasa, seperti seseorang yang membantu seorang ibu yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan pertolongan khusus, meskipun bantuan tersebut tidak dipahami oleh semua orang,” tulis Pastor Pagliarani.
Sebelum ketegangan ini meruncing, Prefek Dikasteri Doktrin Iman Vatikan, Kardinal Víctor Manuel Fernández, telah bertemu dengan Pastor Pagliarani pada 12 Februari 2026 lalu. Dalam pertemuan tersebut, Kardinal Fernández menawarkan jalur dialog teologis khusus dengan metodologi khusus untuk membahas poin-poin yang belum diperjelas di antara kedua belah pihak.
Namun, tawaran dialog tersebut diberikan dengan syarat, SSPX “menangguhkan” rencana penahbisan pada 1 Juli 2026. Namun, SSPX memberikan respons negative.
Sebagai tanggapan, Kardinal Fernández mengeluarkan surat pada 13 Mei 2026, di mana ia memperingatkan bahwa menahbiskan uskup tanpa mandat kepausan adalah tindakan skismatik. > tindakan ini secara otomatis berujung pada “hukuman ekskomunikasi”.
Pada 16 Juni 2026 di Castel Gandolfo, Paus Leo XIV sempat menyampaikan pandangannya kepada jurnalis mengenai rencana penahbisan ini.
“Kami telah mengundang mereka, dan saya masih mempertimbangkan untuk membuat seruan lain… Namun, itu adalah pilihan mereka. Mereka harus memahami apa artinya ini bagi mereka dan bagi Gereja,” ujar Paus.
Ia menambahkan, bahwa perpecahan di antara umat Kristen selalu menyakitkan.
“Mereka menolak untuk menerima elemen-elemen fundamental tertentu dari Gereja, dimulai dengan berbagai poin dari Konsili Vatikan II. Jika mereka memilih jalan itu, saya sedih, namun kita harus terus melangkah maju,” tegas Paus Leo XIV.
Sentuhan Pastoral
Surat yang dikirimkan Paus pada Hari Raya Santo Petrus dan Paulus tersebut sejatinya merupakan pemenuhan dari janji seruan terakhirnya. Ditulis dengan gaya pastoral sebagai gembala Gereja Katolik semesta, Paus Leo XIV mengawali suratnya dengan penuh kasih.
“Dengan hati bapa, dan sadar akan tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya oleh Tuhan sebagai Penerus Rasul Petrus, saya menyapa Anda. Gereja mengakui devosi pada kehidupan liturgi, komitmen pada formasi imamat, semangat apostolik, dan kerinduan akan kesetiaan pada Tradisi yang menjadi ciri khas banyak orang dan komunitas yang terhubung dengan persaudaraan anda,” tulis Paus.
Apresiasi tersebut, lanjut Paus, menjadi alasan mengapa empat pendahulunya: Paus Paulus VI, Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, dan Fransiskus—selalu menunjukkan sikap penuh perhatian dan kemurahan hati demi membawa SSPX kembali ke persekutuan penuh.
“Dalam semangat ini, dan dipenuhi dengan kasih sayang Kristiani, saya memohon kepada Anda dengan sepenuh hati: tolong berbaliklah.
“Saya mendesak Anda untuk mempertimbangkan dengan cermat kebaikan rohani umat beriman, karena tindakan skismatik yang akan Anda lakukan akan merampas hak mereka untuk menerima sakramen secara sah,” tegas Paus.
Paus mengakhiri suratnya dengan doa agar Tuhan menerangi hati dan nurani para pengurus SSPX, serta menyerahkan situasi ini ke dalam perlindungan Hati Tersuci Maria, Bunda Penasihat yang Baik.
Meski pintu dialog dan pemahaman yang digerakkan Roh Kudus tetap dibuka oleh Vatikan, konsekuensi hukum gereja tetap berjalan. Sumber-sumber internal Vatikan mengonfirmasi, jika SSPX gagal merespons positif permohonan terakhir Paus ini, Vatikan akan segera mendeklarasikan status ekskomunikasi bagi semua pihak yang terlibat dalam penahbisan ilegal tersebut.
Dalam pengumumam di media SSPX, ada empat imam yang akan ditahbiskan menjadi uskup yakni: Pastor Pascal Schreiber (dari Swiss); Pastor Michael Goldade (dari Amerika Serikat); Pastor Michel Poinsinet de Sivry (dari Prancis); dan Pastor Marc Hanappier (dari Prancis). Tahbisan ini akan berlangsung di Écône, Swiss, tempat yang sama ketika Uskup Agung, Marcel Lefebvre menahbiskan beberapa imam SSPX menjadi uskup pada tahun 1988.
