JAKARTA, Pena Katolik – Pancasila adalah manifestasi hak keberadaan bangsa Indonesia yang lahir setelah ratusan tahun dijajah. Gagasan ini ditegaskan kembali dalam Forum PRAKSIS Seri ke-21 bertema “Bersama Bung Karno Kembali Mengobarkan Semangat Pancasila bagi Indonesia dan Dunia” di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).
Acara yang digelar oleh PRAKSIS bekerja sama dengan Yayasan Bung Karno ini menghadirkan mantan ajudan terakhir Bung Karno sekaligus mantan Ketua MPR RI, Mayjen Pol. (Purn.) Sidarto Danusubroto, serta diplomat madya Indonesia, Sigit Aris Prasetyo, Ph.D.
Sidarto mengulas bagaimana Pancasila digali dari perenungan panjang Bung Karno di Ende hingga dicetuskan dalam pidato BPUPKI 1 Juni 1945. Ia juga mengingatkan peran vital Soekarno saat memperkenalkan Pancasila di Sidang Umum PBB tahun 1960.
“Konsep pemikiran Sukarno inilah yang mendorong terciptanya perdamaian dunia, yang kemudian terwujud melalui lahirnya Gerakan Nonblok pada tahun 1961,” ujar Sidarto.
Sementara itu, Sigit Aris Prasetyo menyoroti dimensi global pemikiran Bung Karno yang menolak bipolaritas Perang Dingin dan konsisten melawan kolonialisme baru. Menurut Sigit, nilai universal Pancasila kini semakin relevan di tengah krisis geopolitik, polarisasi sosial, dan ketimpangan ekonomi dunia. Pancasila dinilai mampu menawarkan solusi nyata bagi solidaritas global.
“Lebih dari delapan puluh tahun setelah lahirnya Pancasila, dunia justru menghadapi tantangan yang membuat nilai-nilainya semakin penting,” ujarnya.
Melalui forum ini, generasi muda diajak untuk terus menghidupi warisan pemikiran Bung Karno, menjadikan Pancasila sebagai kompas dalam menghadapi berbagai tantangan nasional maupun global yang kian kompleks.
