PenaKatolik.Com | Kemajuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah menghadirkan perubahan besar dalam kehidupan sosial manusia. Teknologi yang dahulu hanya membantu pekerjaan fisik kini mulai memasuki ruang yang lebih dalam: cara manusia berpikir, berkomunikasi, membangun relasi, bahkan memahami dirinya sendiri.
Di tengah perkembangan tersebut, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Samuel Oton Sidin, mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh kehilangan kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi.
“Untuk orang muda, saya berharap agar dengan bijak dan kritis memanfaatkan AI supaya jangan disesatkan,” pesannya dalam rangkaian Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII Tahun 2026 di Pontianak.
Pesan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan sosial yang semakin nyata di tengah masyarakat. AI bukan lagi sekadar alat bantu kerja atau sarana mencari informasi. Kehadirannya mulai memengaruhi cara manusia membangun hubungan, membentuk opini, dan memandang realitas.
Ketika Yang Palsu Tampak Nyata
Salah satu dampak sosial yang paling terasa dari perkembangan teknologi digital adalah semakin kaburnya batas antara yang nyata dan yang artifisial.
Hari ini, foto dapat dimanipulasi dalam hitungan detik. Video dapat dibuat seolah-olah seseorang mengucapkan sesuatu yang tidak pernah ia katakan. Suara dapat ditiru dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi. Bahkan tulisan yang tampak meyakinkan bisa saja sepenuhnya dihasilkan oleh mesin.
Dalam sesi dialog PKSN, Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Digital, Rosarita Niken Widiastuti, menunjukkan bagaimana AI mampu mengubah gambar, video, dan teks dengan sangat mudah.
Kemampuan tersebut tentu membawa manfaat. Namun pada saat yang sama, masyarakat juga menghadapi ancaman baru berupa disinformasi, penipuan digital, manipulasi identitas, hingga menurunnya kepercayaan terhadap informasi yang beredar di ruang publik.
Dalam situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk memeriksa, memverifikasi, dan tidak mudah percaya pada setiap informasi yang muncul di layar gawai.
Krisis Keaslian di Era Digital
Pakar teknologi informasi Prof. Dr. Richardus Eko Indrajit menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai budaya kepalsuan (curated self). Di media sosial, banyak orang hanya menampilkan sisi terbaik kehidupannya demi memperoleh pengakuan dan validasi.
Akibatnya, masyarakat semakin terbiasa melihat kehidupan yang telah disunting, dipoles, dan direkayasa. Orang mulai membandingkan dirinya dengan gambaran yang sebenarnya tidak utuh.
Fenomena ini melahirkan berbagai persoalan sosial, mulai dari krisis kepercayaan diri, kecemasan sosial, hingga hubungan antarmanusia yang semakin dangkal.
Di tengah budaya yang serba artifisial itu, manusia perlahan kehilangan keberanian untuk tampil apa adanya.

Padahal, menurut Prof. Eko, justru keaslian merupakan kekuatan utama manusia.
“Kita tidak perlu takut memperlihatkan wajah dan suara kita yang penuh keterbatasan. Wajah dan suara kita adalah suci karena kita adalah gambar Allah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh citra yang dibangun di ruang digital, melainkan oleh martabat yang melekat pada dirinya sebagai pribadi.
Teknologi dan Relasi Sosial
Persoalan lain yang muncul adalah berkurangnya kualitas perjumpaan antarmanusia.
Teknologi memang membuat komunikasi menjadi lebih mudah. Seseorang dapat berbicara dengan siapa saja tanpa dibatasi jarak dan waktu. Namun kemudahan itu tidak selalu menghasilkan kedekatan yang sesungguhnya.
Banyak orang kini memiliki ribuan koneksi digital, tetapi merasa kesepian dalam kehidupan nyata. Mereka aktif di media sosial, tetapi semakin jarang mengalami perjumpaan yang mendalam dengan sesama.
Dalam konteks ini, Prof. Eko mengingatkan bahwa teknologi seharusnya digunakan untuk memperkuat hubungan manusia, bukan menggantikannya.
“Teknologi digunakan untuk menguatkan perjumpaan, bukan mengurangi perjumpaan,” katanya.
Pernyataan tersebut relevan dengan kondisi masyarakat saat ini yang semakin bergantung pada perangkat digital dalam hampir seluruh aspek kehidupan.
Menempatkan Manusia sebagai Pusat
Perkembangan AI sering kali memunculkan kekhawatiran bahwa suatu hari mesin akan menggantikan manusia. Namun tantangan yang lebih mendesak sebenarnya adalah bagaimana memastikan manusia tetap menjadi pusat dari perkembangan teknologi.
AI dapat menghasilkan jawaban, tetapi tidak memiliki hati nurani. AI dapat menganalisis data, tetapi tidak mampu memahami makna kemanusiaan sebagaimana manusia memahaminya. AI dapat meniru emosi, tetapi tidak benar-benar merasakan sukacita, kesedihan, kasih, maupun pengampunan.
Karena itu, kemajuan teknologi harus selalu diimbangi dengan penguatan nilai-nilai sosial seperti empati, solidaritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Teknologi yang digunakan tanpa kebijaksanaan dapat memperlebar jarak antarmanusia. Sebaliknya, teknologi yang digunakan dengan kesadaran sosial dapat menjadi sarana untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif dan manusiawi.
Menjadi Masyarakat yang Bijak
Pesan Mgr. Samuel Oton Sidin pada akhirnya bukan hanya ditujukan kepada kaum muda, melainkan kepada seluruh masyarakat.
Era AI menuntut kemampuan baru, bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan menjaga kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi itu sendiri.
Di tengah banjir informasi, manusia dituntut tetap kritis. Di tengah maraknya manipulasi digital, manusia dituntut tetap jujur. Di tengah dunia yang semakin dipenuhi kecerdasan buatan, manusia dituntut tetap menghidupi kecerdasan moral dan sosialnya.
Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah masyarakat tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologinya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga wajah manusia tetap hadir, nyata, dan bermartabat di tengah perubahan zaman.*Samuel – PKSN 2026.