MADRID, Pena Katolik – Tepat dua minggu setelah menerbitkan ensiklik bertajuk Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV menceritakan pengalamannya, ketika sempat iseng membuka sebuah chatbox AI, ternyata mesin itu “lupa”, siapa Paus saat ini. Paus menceritakan momen unik nan jenaka ini terjadi di sela-sela kunjungan historisnya di Madrid, Spanyol, 9 Juni 2026.
Kisah ini dibagikan oleh Yago de la Cierva, seorang akademisi Spanyol, sekaligus panitia penyelenggara kunjungan kepausan. Pada satu kesempatan di luar agenda resmi dan Meski tidak terekam kamera Paus Leo XIV bercerita bahwa sebelum bertolak ke Spanyol, ia sempat iseng berkonsultasi dengan sebuah chatbot AI. Saat itu, ia mengajukan pertanyaan, “Apa yang harus dikatakan Paus kepada para uskup Spanyol?”
Sesaat kemudian, secara mengejutkan, AI tersebut menjawab, “Paus Fransiskus akan mengatakan…” Melihat jawaban itu, Paus langsung menyela, “Ah, tapi saya rasa sekarang paus-nya sudah berganti.” Mesin pintar itu pun dengan polosnya merespons, “Oh, benar, maaf. Sekarang adalah Paus Leo.”
Paus Leo XIV menyaksikan sendiri secara langsung kelemahan AI yang kadang masih dapat ditemukan. Tanpa merasa tersinggung, Paus Leo XIV menarik sebuah refleksi dari insiden menggelitik tersebut.
“Kita, di sisi lain, memiliki ‘algoritma’ yang berbeda. Dan algoritma kita ini menuntun kita untuk mencintai sesama, mendampingi sesama, dan menjadikan diri kita sebagai pelayan Firman Tuhan,” seloroh Paus di hadapan para uskup.
Saksi Kristus di Ruang Digital
Kelakar penuh makna ini selaras dengan pesan utama yang digaungkan Paus Leo XIV selama di Spanyol. Pada Sabtu malam, 6 Juni 2026, di hadapan sekitar 600.000 anak muda yang memadati Plaza de Lima di pusat kota Madrid, Paus mendesak generasi muda untuk menjadi murid Kristus, tidak hanya dalam hubungan nyata, tetapi juga di dunia digital.
“Melihat kalian, orang-orang muda yang terkasih, dipenuhi dengan antusiasme yang lahir dari iman, saya menaruh harapan besar pada kemampuan kalian untuk menjadi saksi Kristus di dunia—termasuk di ranah media digital—dan untuk mengomunikasikan nilai-nilai serta keindahan Injil,” pesan Paus Leo XIV.
Refleksi Paus ini beresonansi kuat dengan generasi muda. Esteban, seorang mahasiswa Spanyol yang kebetulan sedang mendalami studi AI, mengaku sangat tertarik dengan pandangan Paus, meskipun ia sendiri belum sempat membaca ensiklik terbaru karena sibuk menghadapi ujian akhir semester.
“Kata-kata Paus sangat cocok dengan filosofi hidup saya. Saya percaya AI adalah alat yang luar biasa untuk dunia profesional dan kita harus belajar menggunakannya dengan baik. Namun, teknologi ini mutlak tidak boleh menggantikan persahabatan dan hubungan antarmanusia,” ujar Esteban.
Tantangan Peradaban
Bagi Paus Leo XIV, menjaga hubungan yang sehat dengan AI adalah tantangan peradaban terbesar di zaman ini. Ia menegaskan bahwa perkembangan teknologi yang masif harus selalu dibarengi dengan makna kehidupan.
Melalui kunjungan dan pesannya di Spanyol, Paus Leo XIV tidak sedang mengajak dunia untuk menolak teknologi. Sebaliknya, ia sedang menancapkan tonggak sejarah baru dalam pontifikatnya: sebuah misi untuk merujukan sains dengan hati nurani demi mencegah runtuhnya jiwa manusia di era digital.



