CIKARANG, Pena Katolik – Ratusan pasangan suami istri (pasutri) di Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa merayakan syukur atas Sakramen Perkawinan dalam Misa Ulang Tahun Perkawinan (MUP) periode Januari–Mei 2026 pada Sabtu (30/5/2026). Perayaan yang bertepatan dengan Hari Raya Tritunggal Maha Kudus ini menjadi momen refleksi bagi pasangan untuk memperbarui janji setia dan meneguhkan komitmen iman di tengah tantangan zaman.
Misa perayaan ini dipimpin secara konselebrasi oleh Pastor Paroki Cikarang, Romo Ludowikus Andri Novian, bersama Romo Yeremias Uskono dari Paroki Granwisata Cibubur, dan Romo Gregorius Willson dari Paroki Kalvari Lubang Buaya. Momen sakral ini menjadi kesempatan bagi para pasangan untuk memperbaharui janji setia dan memperdalam iman dalam terang Kristus.
Dalam homilinya, Romo Ludo memberikan pesan mendalam mengenai esensi pernikahan di tengah tantangan zaman modern. Ia menekankan bahwa ulang tahun pernikahan bukan sekadar merayakan bertambahnya usia perkawinan, melainkan momen refleksi atas perjalanan dua jiwa yang disatukan dalam rahmat Tuhan.
Cinta kasih keluarga, harus didasarkan kesetiaan dari teladan Tritunggal Maha Kudus
“Semoga para pasutri tidak kehilangan kekaguman akan karunia yang telah dianugerahkan itu. Kekaguman inilah yang menjadi bahan bakar utama untuk terus memperjuangkan biduk rumah tangga di tengah badai kehidupan,” ujar Romo Ludo.
Lebih lanjut, Romo Ludo menyoroti pentingnya mengubah orientasi diri dalam keluarga. Menurutnya, pasangan harus selalu merenungkan kontribusi positif apa yang bisa diberikan untuk keluarga, alih-alih hanya berfokus pada apa yang bisa didapatkan dari hubungan tersebut.
Di tengah kompleksitas dunia saat ini, termasuk pengaruh media sosial yang terkadang mengaburkan makna kesetiaan, Romo Ludo mengajak umat untuk tetap teguh pada komitmen. Ia secara khusus mengingatkan agar tantangan dan perbedaan karakter tidak dipandang sebagai pemisah, melainkan sarana untuk saling melengkapi dalam karya Tuhan.
“Perbedaan bukanlah musuh, melainkan sarana untuk saling melengkapi. Ketekunan dalam menghadapi tantangan adalah bukti nyata dari karya Tuhan yang terus mendampingi setiap langkah pasangan,” tambahnya.
Bagi keluarga Robertus Danang Saputro dan Angea Merici dari Lingkungan Brigitta, momen ini menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan selama 11 tahun pernikahan mereka. Mereka berharap ke depannya paroki dapat memberikan pendampingan yang lebih praktis terkait tantangan kesehatan mental, komunikasi digital, dan ekonomi keluarga. “Terima kasih kepada panitia atas dedikasi luar biasa. Kerja keras ini telah menjadi saluran berkat bagi keluarga-keluarga di paroki kita. Berkah Dalem,” tutup mereka.
Senada dengan hal tersebut, Catarina Sri Harti Wahyu Lestari dan Laurentius Justinianus Sadmo Girimukti dari Lingkungan Yakobus, memandang pernikahan sebagai sarana pengabdian yang melampaui kepentingan diri sendiri. “Pernikahan adalah menyatukan tanggung jawab untuk keluarga, di mana kami belajar saling memaafkan dan mengutamakan keterbukaan sebagai pondasi rasa aman,” ungkap keduanya.
Perayaan misa ditutup dengan harapan agar para pasutri terus menjadi saksi cinta yang bertanggung jawab. Rangkaian acara ini menjadi pengingat bagi seluruh umat bahwa di balik setiap dinamika kehidupan, rahmat Tuhan senantiasa hadir bagi mereka yang teguh dalam perjuangan, pendengaran, dan ketulusan kasih. (Lourentius EP/Cikarang)



