Apologia St. Yustinus, Pembelaan Iman yang Gugur Memeluk Ekaristi

ROMA, Pena Katolik – Pada abad kedua, Kekaisaran Romawi dipenuhi dengan kecurigaan dan rumor miring tentang sekte keagamaan baru bernama Kekristenan. Banyak orang pagan (penyembah dewa-dewi) salah paham dan menuduh umat Kristen melakukan ritual kanibalisme. Apa pasal, hal ini karena mereka mendengar selentingan tentang “makan tubuh dan minum darah”.

Di tengah situasi yang mengancam nyawa ini, St. Yustinus maju ke garis depan. Antara tahun 100 hingga 165, pria yang berprofesi sebagai filsuf dan apologis (pembela iman) Kristen ini bertekad mematahkan kesalahpahaman tersebut. Ia ingin menjelaskan iman Kristen dengan bahasa yang rasional dan dapat dipahami oleh masyarakat pagan Romawi.

Apologia Yustinus

Yustinus kemudian mengirimkan sebuah surat pembelaan resmi yang dikenal sebagai Apologia Pertama kepada Kaisar Romawi saat itu, Antonius Pius yang ditulis sekitar 155-157. Dalam dokumen bersejarah tersebut, ia menjabarkan secara transparan bagaimana umat Kristen perdana beribadah, termasuk memberikan kesaksian tegas mengenai Ekaristi:

“Makanan ini kami sebut Εὐχαριστία [Ekaristi]. Tidak ada seorang pun yang diizinkan menerimanya, kecuali mereka yang percaya, bahwa apa yang kami ajarkan adalah benar, telah dibasuh dalam pemandian demi pengampunan dosa dan kelahiran kembali [Baptisan], serta hidup sesuai dengan perintah Kristus.

Sebab, kami menerima ini bukan sebagai roti biasa atau minuman biasa. Sama seperti Yesus Kristus Juru Selamat kita yang telah menjadi manusia oleh Firman Allah, serta memiliki daging dan darah demi keselamatan kita; demikian pula kami telah diajarkan bahwa makanan yang diberkati melalui doa syukur dari firman-Nya adalah benar-benar “daging dan darah dari Yesus” yang telah menjadi manusia itu.”

Untuk memperkuat argumennya di hadapan kaisar, St. Yustinus menegaskan bahwa keyakinan ini bukanlah karangan baru, melainkan amanat langsung dari Kristus yang dicatat oleh para rasul.

“Sebab para rasul, dalam kitab kenangan yang mereka tulis dan disebut Injil, telah menyampaikan kepada kami apa yang diperintahkan kepada mereka: bahwa Yesus mengambil roti, dan setelah mengucap syukur, Ia berkata, ‘Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku, ini adalah tubuh-Ku.’ Dan dengan cara yang sama, setelah mengambil cawan dan mengucap syukur, Ia berkata, ‘Ini adalah darah-Ku,’ lalu memberikannya kepada mereka saja.”

Melalui narasi pembelaan ini, sejarah membuktikan bahwa ajaran Gereja Katolik mengenai Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi—sebagaimana tercantum dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1374) bahwa Ekaristi mengandung tubuh, darah, jiwa, dan keallahan Yesus secara substansial—bukanlah ciptaan abad pertengahan. Doktrin ini telah dihidupi, diimani, dan dipertahankan sejak fajar Kekristenan dimulai.

Ringkasan Perjalanan Hidup St. Yustinus Martir

Kelahiran di Flavia Neapolis Sekitar 100 M. Lahir dari keluarga pagan keturunan Yunani di Flavia Neapolis (sekarang Nablus, Tepi Barat/Palestina). Ia mendapatkan pendidikan kafir yang sangat baik.

Pada usia muda, ia mengembara dari satu sekolah filsafat ke sekolah filsafat lainnya. Ia berturut-turut mempelajari pemikiran Stoikisme, Peripatetik, Pythagorean, hingga Platonisme, namun tidak ada satu pun yang memuaskan dahaga jiwanya akan Tuhan.

Sekitar 130 M, saat berjalan di tepi pantai, ia bertemu dengan seorang pria tua misterius yang mengajarkan kepadanya tentang para nabi Perjanjian Lama dan Kristus. Ditambah kekagumannya pada keberanian para martir Kristen yang tidak takut mati, Yustinus akhirnya bertobat dan dibaptis.

Sekitar 150 M, Yustinus mendirikan Sekolah Filsafat Kristen di Roma. Ia mengenakan jubah filsuf (pallium) dan melakukan perjalanan sebagai pengajar. Ia menetap di Roma dan mendirikan sekolah gratis untuk mengajarkan Kekristenan sebagai “satu-satunya filsafat yang sejati dan aman”.

Pada antara 150 – 160 M, Yustinus menulis Apologia Pertama dan Apologia Kedua yang ditujukan kepada Kaisar Antoninus Pius dan Marcus Aurelius, serta karya Dialog dengan Trypho untuk menjembatani iman Kristen dengan Yudaisme.

Tahun 165, ia wafat sebagai Martir. Sebelumnya, Yustinus ditangkap di Roma bersama beberapa muridnya saat itu, ia divonis bersalah dan dihukum mati. Ia menjadi “martir” sebagai bagian dari namanya karena kesetiaannya yang radikal pada Kebenaran.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini