Paus Yohanes Paulus II dan Pancasila, Payung Toleransi Kebebasan Beriman

JAKARTA, Pena Katolik – Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Indonesia pada 9 hingga 14 Oktober 1989. Ia tiba pada 9 Oktober di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur dan pada sore hari, ia langsung memimpin Misa bersama ribuan umat sudah menanti untuk Misa bersama Sri Paus di Lapangan Utama Senayan.

Hujan gerimis yang turun hari itu tidak menyurutkan lagkah Sri Paus Yohanes Paulus II untuk mencium bumi Indonesia begitu pesawat DC-10 Korea Airlinea, yang membawa rombongannya, mendarat. Ketika Paus Yohanes Paulus II mencium tanah Jakarta, itu menandai kedatangannya ke Indonesia.

Namun, ada satu hal yang menarik hati Paus Yohanes Paulus II, bahkan sebelum kedatangannya ke Indonesia pada hari itu. Ia tertarik pada Pancasila, lima butir nilai-nilai kebangsaan, yang dipetik Soekarno dari serambi di biara SVD di Kota Ende, saat ia diasingkan antara 1934-1938.

“Saya memahami azas dasar yang menjadi landasan negara Anda sekalian, yakni Pancasila, yang merupakan khazanah kebudayaan (peradaban dan nilai-nilai luhur) bangsa Anda dan mencanangkan kebebasan beragama di antara berbagai hak azasi lainnya,” demikian Paus Yohanes Paulus II dalam suratnya bertanggal 28 April 1984.

Surat untuk Indonesia

Tahun 1984, Gereja Katolik Indonesia memperingati 450 kehadiran Gereja di Nusantara. Di Indonesia, orang pertama yang menjadi Katolik adalah orang Maluku, Kolano (kepala kampung) Mamuya (di Halmahera, Maluku Utara) yang dibaptis seorang awam pedagang Portugis, Gonzalo Veloso, bersama sebagian besar warga kampungnya pada tahun 1534 setelah menerima pemberitaan Injil. Peristiwa itu menjadi titik tolak peringatan 450 tahun Gereja Katolik di Indonesia pada 1984.

Momen ini dikenang oleh Gereja Universal melalui surat yang dikirim Paus Yohanes Paulus II kepada umat Katolik di Indonesia.Pemikiran Paus tentang Pancasila memperkaya khasanah iman bagi umat Katolik.

Sangat mudah menemukan khasanah ini, sila pertama Pancasila jelas menunjukkan dasar “ketuhanan” yang mengandaikan dasar religiusitas dalam berjalannya kehidupan bernegara di Indonesia. Inilah arti krusial yang dilihat Yohanes Paulus II, yang menurutnya menjadikan Pancasila begitu memiliki arti bagi kehidupan beriman warga negara Indonesia.

“Hal ini (Pancasila) menjamin bahwa umat Katolik Indonesia dapat menghayati imannya dengan bebas, dan dengan demikian bersama semua golongan sesama warga negara, bekerja untuk membangun bangsanya.”

Pancasila dinilai berhasil membuka ruang hidup bagi umat Katolik untuk eksis, berkembang, dan berkontribusi nyata. Melalui payung Pancasila, Gereja Katolik di Indonesia mampu bergerak aktif dalam bidang sosial dan pembangunan nasional—mulai dari mendirikan sekolah, perguruan tinggi, hingga rumah sakit, baik di kota besar maupun pelosok daerah, demi meningkatkan kesejahteraan sesama warga negara.

Harmoni di Bumi Nusantara

Duta Besar Vatikan untuk Indonesia saat itu, Mgr. Francesco Canalini mengatakan, salah satu agenda utama kedatangan Paus adalah untuk melihat dari dekat bagaimana toleransi beragama. Mgr. Canalini mengatakan, Paus memuji, kerukunan dapat dipraktikkan dengan sangat baik di Indonesia.

Dengan penjelasan ini, ketertarikan Paus Yohanes Paulus II menjadi semakin lengkap. Pancasila adalah ikatan yang dapat dilihat sebagai intisari dari keragaman Indonesia. Pemahaman Paus tentang Indonesia dengan demikian membentang setidaknya sejak lima tahun sebelim kedatangannya ke tanah air, ketika ia menulis surat untuk umat Katolik pada 1984.

Paus Yohanes Paulus II bertemu dengan Presiden Soeharto di Istana Merdeka, sesaat setelah ia mendarat di Jakarta. Pada kesempatan ini, Paus kembali menyampaikan pujiannya pada nilai-nilai yang tersampaikan dalam Pancasila. Di mata sang Paus, Indonesia telah berhasil mewujudkan etos nasional yang luar biasa melalui Pancasila, karena mampu menciptakan kerukunan, menjamin perdamaian, dan menyatukan keberagaman.

Kunjungan Paus Yohanes Paulus II bersifat kunjungan pastoral. Ini berarti, Paus sedang mengunjungi umat Katolik dalam kapasitasnya sebagai pemimpin umat Katolik seluruh dunia. Dalam kunjungan pastoral ini, Paus memberikan petunjuk, bimbingan, pengarahan, hiburan, nasihat, penghiburan rohani bagi umatnya. Namun, kunjungan ini juga bersifat kenegaraan, ketika ia juga berjumpa dengan Presiden Suharto di Jakarta.

“Kedatangan Sri Paus kala itu fenomenal dan amat menggetarkan, khususnya bagi mereka yang beruntung bisa melihat dengan mata kepala sendiri, tidak akan bisa melupakan. Berbagai Pernik kunjungan telah diabadikan melalui kliping koran, foto, kartu pos, dan bermacam-macam souvenir cetakan keramik yang jumlahnya sulit dihitung,” kenang Mayjen (Purn.) Tono Suratman, perwira Kopassus yang ditunjuk menjadi komandan pengawal Tim Lima untuk pengamanan Sri Paus, dalam Santo Yohanes Paulus II Mencium Bumi Indonesia.

Arti Penting Pancasila

Kembali, dari altar Senayan, di bawah naungan nilai-nilai Pancasila yang ia kagumi, Paus Yohanes Paulus II tidak hanya menyapa umatnya, tetapi juga mengulurkan tangan persahabatan yang tulus kepada umat Kristen lainnya serta umat Islam yang merupakan mayoritas di negeri ini, mengikat mereka dalam satu kepercayaan bersama akan Allah Yang Esa.

Paus Yohanes Paulus II juga menyapa umat Islam yang menjadi kelompok terbesar di Indonesia. Ia mengulurkan tangan persahabatan dan kasih, sebuah ajakan dari saudara untuk saudara yang lain.

“Kepada semua saudara dan saudari kita yang beragama Islam, yang amat besar jumlahnya di negeri ini, saya mengulurkan tangan persahabatan tulus dan sepenuh hati dalam kepercayaan kita Bersama akan Allah Yang Esa,” demikian pesan Paus Yohanes Paulus II pada 10 Oktober 1989.

Paus Yohanes Paulus II menekankan, pentingnya bagi setiap bangsa untuk memiliki pandangan hidup. Nilai yang mendasari kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila dan nilai-nilai filosofis ia ulang dalam pidato dan homily di berbagai kota yang dikunjunginya di Indonesia. Pada kunjungan kali itu, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi dan merayakan Misa di Jakarta, Yogyakarta, Medan, Maumere, dan Dili, yang saat itu masih menjadi bagian dari Indonesia.

Pada 10 Oktober 1989, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Di tempat ini, ia memberkati sebuah gereja dengan pelindung St. Theresia yang berdiri di dalamnya. Tentu, kebhinekaan, keragaman Indonesia kembali ia lihat hari itu. Selanjutnya, ia bertemu dengan para biarawan dan biarawati di Gereja Katedral Jakarta. Ia mengakhiri hari itu dengan melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, di mana kedatangannya disambut dengan antusiasme oleh umat Katolik di Lapangan Dirgantara Yogyakarta. Setidaknya 160 ribu umat mengikuti Misa yang dipimpin Paus.

Meski raga sang gembala hanya singgah dalam waktu yang relatif singkat di bumi Nusantara, lawatan Paus Yohanes Paulus II meninggalkan jejak spiritual yang teramat dalam. Kehadirannya membawa pesan-pesan bernas yang secara khusus ditiupkan ke dalam sanubari umat Katolik Indonesia, yakni sebuah seruan kuat untuk semakin memperkokoh akar iman mereka kepada Kristus.

Di tengah kemajemukan bangsa, Sri Paus mengimbau seluruh umat Katolik untuk tidak lelah menjadi pembawa kabar baik. Ia mengajak umat untuk terus mengalirkan pesan kasih dan dengan gigih menjaga nyala perdamaian di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Lebih dari sekadar kunjungan seremonial, lawatan historis ini juga membawa misi khusus untuk menyalakan api sukacita dan semangat di hati anak-anak serta generasi muda Katolik. Paus Yohanes Paulus II ingin menginspirasi mereka agar berani melangkah lebih dalam dalam kehidupan spiritual, sekaligus memperteguh kepercayaan mereka kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat yang hidup.

Pada akhirnya, kunjungan pastoral ini berhasil melampaui batas ruang dan waktu. Kehadiran Sri Paus tidak hanya mempererat ikatan batin yang suci antara Gereja Katolik universal di Vatikan dengan umat di Indonesia, tetapi juga menjadi pemantik utama yang menghidupkan kembali semangat serta gairah keagamaan di kalangan generasi muda—para penerus altar dan bangsa.

Paus Yohanes Paulus II saat tiba di Bandara Halim Perdana Kusuma 9 Oktober 1989.Sekneg
Paus Yohanes Paulus II Mencium Bumi Indonesia sesat setelah mendarat di Indonesia. Sekneg

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini