Beato Tiburcio Arnaiz Muñoz: Rasul Pedesaan dari Poyales del Hoyo

AVILA, Pena Katolik – Bertugas di sebuah paroki desa dan bermedan sulit menjadi tempat yang dihindari oleh banyak imam. Namun, Beato Tiburcio Arnaiz Muñoz justru memilih bertugas di Daerah Poyales del Hoyo di Provinsi Ávila, Spanyol, di sebuah paroki miskin dengan pengaruh Islam yang masih kental di kalangan keturunan Andalusia. Di tempat ini, ia setia menjalankan amanan imamatnya sebagai “rasul desa” yang bersahaja.

Banyak yang menganggap, misi di Poyales hanyalah buang-buang tenaga. Namun, Pastor Tiburcio Arnaiz Muñoz justru menyambut tugas itu dengan semangat. Baginya, puncak pelayanan seorang imam adalah ikut memanggul penderitaan kaum marginal.

Arnaiz lahir di Valladolid pada 11 Agustus 1865. Sebagai anak laki-laki yang sangat dinantikan, ia sempat tumbuh menjadi pribadi yang manja dan keras kepala karena perlakuan istimewa dari ayahnya, Ezequiel Muñoz. Namun, roda nasib berputar saat sang ayah wafat pada tahun 1870.

Kematian itu menjadi cambuk bagi Arnaiz yang masih belia. Di usia 12 tahun, ia memutuskan untuk bekerja demi meringankan beban ibunya.

“Aku kasihan melihat ibu membanting tulang sendirian, biarkan aku membantumu,” ujarnya kala itu.

Meski pendidikannya sempat terhambat karena keterbatasan ekonomi, kecerdasannya membuat ia cepat belajar hal baru. Di sisi lain, sang ibu tetap membimbingnya untuk dekat dengan Tuhan hingga Arnaiz menjadi putra sakristi di biara Suster Dominikan, tempat awal kehidupan rohaninya terbangun.

Hidup Membiara

Suster-suster Dominikan itu pun dapat melihat, bagaimana ketulusan dan kerendahan hati Arnaiz. Para suster pun mendorongnya menapaki panggilan religius. Tak hanya mereka, sang ibu juga mendorong Arnaiz untuk menjadi imam. Saat usianya cukup, atas bantuan para suster Dominikan, ia mendaftar ke seminari. Waktu berputar, Arnaiz lalu menyandang

Frater Arnaiz semakin yakin akan panggilannya yang bersumber dari Tuhan. Selama itu pula, ia tidak pernah mau menyusahkan siapapun. Ia menjadi seminaris yang hidup dengan tujuan jelas. Dengan begitu, hasil studinya pun gemilang. “Kupersembahkan hidupku ini untukmu Tuhan,” begitu Frater Arnaiz selalu mengulang dalam doa.

Perjuangan Frater Arnaiz tak sia-sia, saat usianya 25 tahun, ia ditahbiskan menjadi Imam Keuskupan Valladolid oleh Kardinal Antonio María Cascajares y Azara pada 20 April 1890. Setelahnya, ia mendapat tugas perdana menjadi kepala Paroki Villanueva de Duero (1893-1896). Setelah itu, ia melanjutkan studi teologi di Universitas Toledo.

Setelah menggondol gelar Doktor teologi, banyak yang menduga Pastor Arnaiz akan bertugas di sebuah lembaga pendidikan. Sayang, perkiraan ini meleset, ia justru menawarkan diri bekerja di sebuah paroki di Poyales del Hoyo pada 19 Desember 1896. Keputusan yang mengundang senyum banyak kolegianya. Mereka tidak menduga, Pastor Arnaiz mau bertangan kotor bekerja di “paroki miskin” itu.

Sejak memulai pastoralnya di paroki kecil itu, Pastor Arnaiz menjadi sahabat kaum miskin. Ia turut merasakan penderitaan umatnya. Ia menolak segala kemewahan yang ditawarkan umat-umat kaya kepadanya. Sejak itu pula, ia dicintai umat bukan kehebatan berkhotbahnya tetapi ketulusan hatinya. “Aku bahagia tinggal bersama kalian. Aku berharap dapat membantu kalian untuk semakin beriman,” ujar Pastor Arnaiz kepada umat-umatnya yang sederhana itu.

Di tengah karyanya di Poyales del Hoyo, ada sebuah berita duka yang harus diterima Pastor Arnaiz. Sang ibu meninggal menyusul ayahnya yang telah pergi jauh sebelumnya. Sontak ini mendatangkan pedih yang mendalam dalam diri Pastor Arnaiz. Di tengah persaan duka ini, ia dikuatkan oleh umat yang silih berganti datang kepadanya.

Dengan semangat Ignasian, Pastor Arnaiz terus berkarya di medan-medan sulit di Málaga. Ia menaklukan desa-desa terpencil yang tak dijamah Gereja. Ia hadir menceritakan jalan-jalan hening St Ignatius kepada umat. Ia semakin menjelma menjadi pastor energik, bersahabat, dan berkotor tangan. Di waktu bersamaan, ia bisa mengambil peran petani membajak sawah sekaligus berkatekese di sana.

Sang Rasul Pedesaan

Pastor Arnaiz dikenal sebagai imam yang tidak segan “berkotor tangan”. Ia bisa membajak sawah bersama petani sambil berkatekese. Dedikasinya menginspirasi banyak wanita untuk turut membantu misinya. Pada tahun 1922, bersama María Isabel González, ia mendirikan Obra de las Misioneras de las Doctrinas Rurales (MDR), sebuah asosiasi wanita awam yang fokus pada penginjilan di pedesaan miskin.

Meski model pastoralnya terus berkembang subur, namun Pastor Arnaiz sadar bahwa perjalanannya telah sampai. Di tengah karya, ia meninggal sebagai rasul desa pada 18 Juli 1926. Saat itu, usianya 60 tahun.

“Saya telah berjaga dan melayani sepanjang hidupku. Sekarang Tuhan terimalah jiwaku,” demikian doa yang terus diulangnya menjelang wafatnya. Pekerja di kebun anggur Tuhan ini pergi dengan sejuta karya yang masih terus hidup hingga saat ini.

Warisan pelayanannya terus hidup. Proses beatifikasinya yang dimulai sejak era Paus Yohanes Paulus II akhirnya mencapai puncaknya ketika Paus Fransiskus menyetujui dekrit beatifikasinya. Pastor Arnaiz resmi dibeatifikasi pada 20 Oktober 2018, dan diperingati setiap tanggal 18 Juli sebagai teladan kerendahan hati dan pelayanan tanpa batas.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini