MERAUKE, Pena Katolik – Pemandangan menyejukkan terlihat di areal Goa Santa Maria Ratu Rosario, Paroki Sang Penebus Kampung Baru, Merauke. Puluhan peserta didik dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Citra Domba Bersahaja tampak bahu-membahu membersihkan tempat suci umat Katolik tersebut, Jumat (17/4/2026).
Menariknya, aksi sosial ini melibatkan peserta didik dengan latar belakang agama yang beragam, termasuk siswa Muslim yang mengenakan jilbab serta siswa beragama Protestan.
Sikap toleransi ini mendapat apresiasi tinggi dari Vikep Merauke, Romo Samson Walewawan. Ia mengaku menaruh hormat atas ketulusan para tutor dan peserta didik yang mau merawat tempat suci agama lain tanpa memandang perbedaan iman.
“Mereka berhati mulia karena rela membersihkan tempat suci ini. Meskipun memiliki keterbatasan dalam pendidikan formal sebelumnya, mereka menunjukkan kualitas moral yang luar biasa dengan menjaga kerukunan antarumat beragama,” ujar Romo Samson.
Pendiri PKBM Citra Domba Bersahaja, Felix Defalois Sando, menjelaskan bahwa kegiatan kerja bakti di lokasi religi merupakan bagian dari pembentukan karakter dan edukasi toleransi secara langsung.
“Peserta didik kami datang dari latar belakang beragam; ada yang putus sekolah, ibu rumah tangga, penyapu jalan, hingga PNS yang ingin menyelesaikan ijazah setara SD dan SMP. Meskipun mayoritas tutor beragama Katolik, nilai kemanusiaan adalah yang utama,” jelas Felix.
Ia menegaskan prinsip lembaga yang dipimpinnya, bahwa ilmu tidak mengenal usia, latar belakang, suku, dan agama. PKBM ini hadir khusus untuk membantu warga yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung agar mendapatkan hak pendidikan yang setara dengan jalur formal.
Masliah, salah satu peserta didik beragama Islam, mengaku gembira bisa ikut serta dalam pembersihan taman doa tersebut. Menurutnya, menghormati tempat ibadah agama lain adalah wujud pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Saya justru senang bisa bekerja di taman doa umat Katolik. Ini adalah bentuk rasa hormat saya kepada sesama, agar umat lain juga menaruh hormat kepada keyakinan kami. Itulah nilai toleransi yang sebenarnya,” tutur Masliah.
Wakil PKBM, Susana Santy, memaparkan bahwa saat ini terdapat 46 peserta didik dengan rentang usia belasan hingga 50 tahun. Lembaga ini didukung oleh 8 tutor yang sebagian besar adalah guru sekolah formal yang mendedikasikan waktu mereka di siang hari. Susana menambahkan bahwa pihaknya terus berupaya menjaga inklusivitas, termasuk berencana menambah tutor beragama Islam dalam waktu dekat.
“Ketulusan, tanggung jawab, dan disiplin adalah kunci kesuksesan. Manusia adalah aset utama, jauh lebih penting daripada uang,” tutup Susana. Agapitus Batbual/Merauke



