Penakatolik.com – Pontianak, 30 April 2026 | Aula Lantai 4 Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Pontianak, siang itu tidak sekadar menjadi ruang kuliah. Ruang tersebut berubah menjadi wadah refleksi ketika Daud Yordan berdiri di hadapan ratusan mahasiswa, bukan sebagai petinju di atas ring, melainkan sebagai narator kehidupan yang mengajak generasi muda membaca ulang arti perjuangan.
Dalam kuliah umum bertajuk “Dari Ring Tinju ke Panggung Dunia: Mental Juara untuk Generasi Muda” yang diselenggarakan oleh AKUB Pontianak, Daud tidak membuka dengan daftar prestasi, tetapi dengan cerita sederhana yakni tentang seorang anak petani yang harus meninggalkan rumah di usia delapan tahun.
Daud Yordan berkisah bahwa sejak kecil telah merasakan hidup jauh dari orang tua, merantau ke Ketapang demi pendidikan, sekaligus mulai mengenal dunia tinju.
Pengalaman itu, menurutnya, bukanlah beban, melainkan fondasi yang membentuk daya tahan mentalnya.

“Yang terpenting bukan dari mana kita berasal, tapi seberapa kuat kita bertahan dan terus berjuang,” ujarnya, disambut hening yang penuh perhatian dari para peserta.
Cerita itu tidak berhenti di kampung halaman, Daud melanjutkan kisahnya tentang perjalanan ke Jakarta fase hidup yang ia gambarkan sebagai titik ujian antara menyerah atau melanjutkan mimpi.
Secara tidak langsung, Daud Yordan menegaskan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk bekerja lebih keras.
Daud Yordan juga menekankan bahwa mental juara bukan sesuatu yang lahir secara instan di atas ring, melainkan hasil dari kebiasaan sehari-hari, disiplin, konsistensi, dan keberanian menghadapi ketidakpastian. Menurutnya, generasi muda perlu berani keluar dari zona nyaman jika ingin bertumbuh.
Di sisi lain, penyelenggara melihat kegiatan ini sebagai lebih dari sekadar kuliah umum. Perwakilan Biro Mahasiswa dan Alumni AKUB Pontianak, Agusandi, menyampaikan bahwa kehadiran figur seperti Daud Yordan diharapkan mampu menjadi “pemantik kesadaran” bagi mahasiswa.

Agusandi menyatakan bahwa mahasiswa perlu mulai serius memaksimalkan potensi diri sejak dini. Menurutnya, tantangan masa depan tidak hanya menuntut kecerdasan akademik, tetapi juga ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi dalam kehidupan sosial.
Kuliah umum yang dimulai pukul 14.00 WIB ini diikuti tidak hanya oleh mahasiswa, tetapi juga dosen dan tendik. Antusiasme terlihat dari keterlibatan peserta yang menyimak setiap bagian cerita, seolah menemukan potongan pengalaman yang relevan dengan kehidupan mereka sendiri.
Berbeda dari seminar motivasi pada umumnya, pertemuan ini terasa lebih personal. Bukan sekadar ajakan untuk “sukses”, tetapi dorongan untuk memahami bahwa proses panjang bahkan yang penuh keterbatasan adalah bagian penting dari keberhasilan itu sendiri.
Melalui kegiatan itu, Unika San Agustin dan AKUB Pontianak kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang-ruang belajar yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif. Harapannya, mahasiswa tidak hanya pulang dengan catatan, tetapi juga dengan perspektif baru tentang hidup.
Bagi banyak peserta, kisah Daud Yordan hari itu bukan sekadar cerita seorang juara dunia, melainkan cermin bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari tempat yang paling sederhana selama ada keberanian untuk terus melangkah. *Sumber: Agusandi.



