Home NUSANTARA Memahami Kehidupan di Pinggiran Indonesia

Memahami Kehidupan di Pinggiran Indonesia

0

Pena Katolik, Indonesia | Perjalanan itu tidak dimulai dari tempat yang benar-benar jauh, tetapi terasa panjang sejak awal. Dari Pontianak, rombongan terlebih dahulu menempuh perjalanan darat menuju Balai Berkuak, sebut saja itu sebagai ibu kota Kecamatan Simpang Hulu dan selama kurang lebih empat jam. Jalanan masih relatif bersahabat pada tahap ini, seolah belum menunjukkan apa yang akan datang berikutnya.

Namun, Balai Berkuak hanyalah gerbang, dan dari titik inilah perjalanan sesungguhnya dimulai. Perjalanan itu membawa rombongan masuk lebih dalam ke wilayah yang semakin sunyi, semakin jauh dari keramaian, dan semakin dekat dengan realitas yang jarang tersentuh.

Perjalanan berlanjut menuju Desa Balai Pinang, lalu diteruskan ke Kualan Hulu di wilayah Paroki St. Maria Botong. Jarak yang ditempuh mungkin tidak terlalu jauh secara hitungan kilometer, tetapi kondisi jalan membuat waktu tempuh menjadi sekitar tiga jam. Jalan tanah yang rusak, berlubang, dan berlumpur menjadikan setiap kilometer terasa lebih panjang dari biasanya.

Mau tidak mau, sepeda motor menjadi satu-satunya pilihan. Kendaraan roda empat tidak lagi mampu menaklukkan jalur ini.

Di sepanjang perjalanan, roda berputar di atas tanah merah yang tak selalu bersahabat, hehe.

Gambar: Arsip Dokumenter, Anggota DPR RI, Fransiscus Maria Agustinus Sibarani mengunjungi Botong

Kadang keras dan berbatu, kadang lunak dan licin, apalagi jangan ditanya deh jika hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur yang bisa menghentikan perjalanan kapan saja. Tidak ada kepastian selain terus bergerak.

Penunjuk arah hampir tidak tersedia, namun masyarakat memiliki cara sendiri untuk membaca jalan dan mengikuti deretan tiang listrik yang berdiri memanjang di sepanjang jalur.

Tiang-tiang itu menjadi semacam “peta diam” yang menuntun perjalanan menuju Botong.

Di kiri dan kanan, hutan lebat membentang tanpa jeda. Desa Kualan Hulu berdiri di tengah lanskap tersebut dan sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan menuju Sekadau. Ia dikenal sebagai salah satu daerah terjauh dan tersulit dijangkau di Kabupaten Ketapang.

Namun, justru di tempat seperti inilah, kehidupan menemukan bentuknya yang paling jujur.

Rombongan hari itu datang bukan sekadar mau melintas, tetapi mereka membawa niat untuk bertemu, untuk hadir, dan untuk mendengar. Penggagas ide ‘gila’ itu yakni DPR RI, Franciscus Maria Agustinus Sibarani, yang memilih turun langsung ke lapangan.

“Kami datang untuk mengunjungi umat dan masyarakat,” ujarnya.

Sibarani menegaskan bahwa kunjungan hari itu adalah bentuk rasa terima kasih sekaligus komitmen untuk hadir secara langsung.

Sebenarnya, Sibarani mau mengungkapkan bahwa kehadiran tidak bisa digantikan oleh laporan, sebab ada hal-hal yang hanya bisa dipahami ketika dilihat dan dirasakan sendiri.

Gambar: Arsip Dokumenter, Anggota DPR RI, Fransiscus Maria Agustinus Sibarani mengunjungi Botong

Perjalanan panjang itu pun menjadi ruang refleksi tersendiri dalam perjalanan hari itu (27–28 Juni 2025). Di tengah guncangan sepeda motor dan jalan yang tak menentu, Sibarani menuliskan kesannya dalam bentuk sajak dalam postingan Instagram 4 Juli 2025, itu adalah sebuah catatan yang lahir dari pengalamannya di momen yang tak tergantikan itu.

“Langkahku menyusuri jalan —
Dari aspal mulus, hingga tanah merah bebatuan.
Dari deretan tiang listrik, hingga sunyi tanpa kabel.
Dari kanan-kiri rumah penduduk, hingga hutan yang lengang.
Dari nyaman roda empat, hingga roda dua jadi pilihan
Menyeberangi jembatan demi jembatan —”

Penggalan sajak tadi sebanarnya rangkupan reflektif perjalanan yang ia deskripsikan dalam bentuk metafora. Perubahan lanskap dan cerita yang sekaligus mengecap perubahan rasa dari nyaman menuju tantangan.

Di tengah perjalanan, sebuah pertanyaan sederhana sempat terlintas dalam sajak itu.

“Masih jauh?”

Ini jelas bukan soal jarak semata, hal itu hendak mau menjelaskan tentang ketahanan, tentang keyakinan, tentang harapan bahwa perjalanan ini memiliki tujuan yang layak diperjuangkan.

Dan ketika akhirnya tiba di Paroki St. Maria Botong, jawabannya dalam sajak itu hadir dengan tenang, “Ternyata… sampai juga.”

Paroki berdiri dalam kesederhanaan, jelas itu tidaklah megah, tetapi kuat dalam makna. Di tengah keterbatasan akses dan medan yang sulit, kehidupan iman masyarakat justru tumbuh dengan keteguhan yang jarang ditemukan di tempat lain.

Sibarani menyebut Botong sebagai “paroki penuh perjuangan.” Secara tidak langsung, ia menangkap bagaimana umat harus menempuh perjalanan panjang untuk beribadah, bagaimana kebersamaan dibangun di tengah keterbatasan, dan bagaimana kehidupan tetap berjalan meski akses tidak selalu mudah.

Gambar: Arsip Dokumenter, Anggota DPR RI, Fransiscus Maria Agustinus Sibarani mengunjungi Botong

Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan semangat, justru sebaliknya menjadi sumber kekuatan.

Di Botong sendiri, iman bukan sekadar ajaran tetapi hidup dalam keseharian. Pengharapan bukan sekadar kata, pengaharapan itu sungguh dirawat bersama kesabaran dan kasih yang bukan sekadar konsep kata.

Dalam dokumenter perjalanannya, Sibarani mendekati masyarakat dan memulai dialog. Ada dengan Ibu-ibu, ada juga dengan orang muda penjual sayur, masih banyak juga arsip yang tak sempat diolah dalam dokumenter hari itu.

Masyarakat menyampaikan cerita mereka tentang jalan yang rusak, tentang akses yang terbatas, dan tentang harapan akan perhatian yang lebih besar. Sibarani mendengarkan, bukan semata hadir sebagai pejabat, tetapi menjadi bagian dari masyarakat itu.

Dalam refleksi bagian akhir sajaknya, ia menuliskan,

“Di sini,
Iman tumbuh.
Pengharapan menyala.
Kasih berakar dalam hati masyarakatnya.”

Jelas, ini adalah sebuah pengakuan bahwa di tempat yang jauh sekalipun, kehidupan tetap berjalan dengan penuh makna.

Gambar: Arsip Dokumenter, Anggota DPR RI, Fransiscus Maria Agustinus Sibarani mengunjungi Botong

Perjalanan dari Pontianak hingga Botong memang memakan waktu berjam-jam—sekitar empat jam menuju Balai Berkuak, lalu sekitar tiga jam lagi dari Balai Pinang hingga Kualan Hulu karena kondisi jalan yang rusak. Namun lebih dari itu, perjalanan ini adalah tentang memahami Indonesia dari sudut yang berbeda.

Dari jalan tanah yang licin.
Dari jembatan kecil yang menghubungkan harapan.
Dari desa yang berdiri di tengah hutan.

Dan di sanalah, kehadiran menjadi penting, sebab dengan ‘hadir’ itulah manusia benar-benar melihat dan mendengar.

Sibarani menutup sajaknya dengan kalimat yang sederhana,

“Ini Indonesia…
MERDEKA.”

*Sumber: Dokumenter dan Arsip Sibarani.

Gambar: Arsip Dokumenter, Anggota DPR RI, Fransiscus Maria Agustinus Sibarani mengunjungi Paroki Santa Maria Botong.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version