JAKARTA, Pena Katolik – Hari ini menandai Kamis ke-900 di mana Maria Catarina Sumarsih melakukan aksi di depan Istana Negara, di samping Monas, untuk menuntut kedilan bagi putranya Benardinus Realino Norma Irawan (Wawan), gugur ditembus peluru tajam dalam Tragedi Semanggi I tahun 1998.
Setiap hari Kamis, sejak 18 Januari 2007, pada sore hari pukul 16.00 hingga 17.00, Sumarsih bediri diam di depan Istana Negara. Dengan demikian, sudah hampir 20 tahun, Sumarsih berdiri setiap Kamis untuk memperjuangkan keadilan bagi anaknya. Lewat aksi ini, ia seakan berkata, “Keadilan, di mana kami berada.”
Di setiap Kamis, Sumarsih berdiri dengan sebuah payung hitam terbuka lebar, bukan sekadar untuk berteduh, melainkan sebagai simbol duka yang belum usai dan keadilan yang masih tertidur lelap.
Hari ini, menandai tepat pada Aksi Kamisan ke-900, Sumarsih kembali menatap gerbang kokoh Istana Negara. Angka 900 bukanlah sekadar statistik; itu adalah akumulasi dari belasan tahun ketabahan, ribuan jam berdiri, dan jutaan doa yang dipanjatkan di atas trotoar.
Wawan gugur ditembus peluru tajam dalam Tragedi Semanggi I tahun 1998. Waktu seolah berhenti bagi Sumarsih. Ia tidak sedang mencari simpati; ia sedang mencari pertanggungjawaban.
Menolak Mundur
Aksi ke-900 ini menjadi monumen hidup tentang betapa panjangnya napas perjuangan rakyat. Di samping Sumarsih, kini berdiri generasi muda yang bahkan belum lahir saat reformasi 1998 meletus. Mereka hadir karena terinspirasi oleh satu hal: keteguhan hati seorang ibu.
Sumarsih telah mengubah duka pribadinya menjadi energi penggerak bagi kemanusiaan. Meski rambutnya kian memutih dan langkahnya mungkin melambat, semangatnya justru kian membara. Di depan Istana yang membisu, ia adalah pengingat paling keras bahwa keadilan tidak akan pernah diberikan secara cuma-cuma; ia harus terus ditagih, Kamis demi Kamis, hingga fajar kebenaran benar-benar menyingsing.
