PINELENG, Pena Katolik – Di balik ketenangan Pineleng, Sulawesi Utara, tersimpan sebuah situs rohani yang sarat akan nilai sejarah. Tepat di samping belakang Amphitheater Emmanuel Youth Centre—yang pernah menjadi saksi bisu kemeriahan Indonesian Youth Day 2016—berdiri Gua Maria Bunda Hati Kudus Yesus Lotta. Siapa sangka, tempat ziarah yang kini memancarkan kedamaian ini dahulunya adalah bagian dari taktik bertahan tentara Jepang pada masa Perang Dunia II.
Sejarah gua ini bermula pada tahun 1944. Demi menghindari gempuran serangan udara pasukan Sekutu terhadap Angkatan Laut Jepang di Manado, pasukan Jepang memilih menyingkir ke wilayah Lotta. Di sana, mereka mendirikan sebuah rumah sakit militer.
Untuk melindungi diri dari bom dan tembakan udara, para tentara Jepang menggali sebuah terowongan sepanjang kurang lebih 20 meter di perbukitan kebun kelapa. Namun, setelah Jepang kalah dan meninggalkan Indonesia, gua berbentuk huruf ‘L’ tersebut telantar begitu saja, terlupakan oleh waktu, bahkan sempat beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah.
Titik Balik
Fase titik balik gua ini terjadi pada tahun 1991. Saat itu, ada proyek pembangunan centrum kateketik yang membutuhkan material batu, sehingga area sekitar gua digali kembali. Di saat yang sama, seorang bapak dari Keluarga Lumingkewas-Arianti sedang mencari tempat yang tenang untuk berdoa dan merenung (bersamadi).
Melihat potensi gua tersebut, pengelola tempat menawarkan area tersebut kepadanya. Berbekal tikar dan sebuah lampu, pria tersebut masuk ke dalam gua. Beberapa jam kemudian, ia keluar dengan perasaan takjub.
Sontak, ia mengusulkan agar ujung gua yang berbentuk ‘L’ itu ditata menjadi sebuah kapel alami. Ia terkesan karena suasananya yang sangat mendukung untuk mencari ketenangan batin. Gayung bersambut, usulan tersebut diterima dengan satu syarat: bentuk alami gua harus tetap dipertahankan sesederhana mungkin.

Pemberkatan Gua
Transformasi gua ini menjadi tempat ziarah resmi dimulai pada Hari Raya Kabar Gembira, 25 Maret 1992, ketika Uskup Manado, Mgr. Josef Suwatan MSC memberkati gua ini. Upacara pemberkatan yang syahdu itu dihadiri oleh sekitar 100 umat yang membawa lilin menyala sambil mendaraskan Doa Rosario.
Sejak saat itu, Gua Maria Lotta mulai menarik perhatian banyak tokoh penting spiritual, baik dari dalam maupun luar negeri. Pada Oktober 1992, Pastor Hisashi Nakagwa, seorang imam asal Jepang yang pernah melayani umat di Manado pada masa perang (1942–1945), mengunjungi tempat ini. Ia mengaku sangat terharu melihat bekas proyek militer negaranya kini telah berubah menjadi tempat suci untuk memuji Tuhan.
Selanjutnya pada 13 September 1993, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Pietro Sambi, datang berkunjung dan menyempatkan diri untuk berdoa di dalam gua. Lebih dua puluh tahun kemudian, pada 9 Juli 2017, Kardinal John Ribat MSC (kardinal pertama dari Tarekat MSC asal Papua Nugini) datang berkunjung di sela-sela agenda Pentahbisan Uskup Manado, Mgr. Rolly Untu MSC. Atas permintaan Tarekat MSC Manado, Kardinal Ribat secara khusus memberkati Gua Maria ini.
Daya tarik gua ini bahkan melintasi batas denominasi agama. Pernah suatu ketika, seorang pemuda Protestan datang membawa gitar dan Alkitab. Ia melakukan pengosongan diri (bertapa) di dalam gua selama tiga hari tiga malam tanpa makan, dan hanya minum dari air yang menetes di dalam gua.
Mukjizat Air Kehidupan
Seiring bertambahnya peziarah, penataan gua terus dilakukan di bawah bimbingan Pastor Jan van Paassen MSC. Ia meminta bantuan dari tiga mahasiswa asal Papua untuk menggali dan memperluas gua hingga membentuk formasi sebuah salib.
Untuk mengatasi masalah teknis di dalam gua, beberapa inovasi pun dibuat pipa paralon sepanjang 14 meter dipasang dari puncak bukit kebun kelapa langsung menuju ruang kapel di dalam gua. Saluran ini memastikan sirkulasi udara tetap segar bagi para peziarah. Sebuah rumah walet dibangun di bagian depan luar gua agar kawanan burung walet yang awalnya bersarang di dalam gua pindah dan tidak lagi mengganggu kekhusyukan umat yang berdoa.
Karena kondisi dalam gua yang selalu becek akibat tetesan air murni dari langit-langit, dibangunlah sebuah bak penampungan berkapasitas hingga 6 kubik di ujung kepala salib gua, yang dialirkan juga menuju wisma. Mengenai tetesan air ini, ada kisah iman yang mendalam. Setelah melalui uji laboratorium, air tersebut dinyatakan murni, bersih, dan bebas dari bakteri berbahaya.
“Saya percaya Bunda Maria memberikan air ini untuk kesegaran dan kesehatan kita. Jika Bunda Maria bisa meminta Santa Bernadette menggali tempat yang becek di Lourdes hingga memancarkan mata air besar, di sini pun hal yang sama bisa terjadi,” ujar Pastor Jacobus Ludovikus Wagey Pr (Pastor Sjaak), imam diosesan yang melanjutkan tongkat estafet pelayanan di gua ini setelah Pastor Jan van Paassen MSC wafat.
Oase Iman yang Terus Hidup
Kini, Gua Maria Bunda Hati Kudus Yesus Lotta telah menjadi tempat ziarah yang tak pernah sepi. Setiap harinya, silih berganti anak-anak, kaum muda, hingga orang tua datang merajut doa di hadapan bundanya. Mereka datang tidak hanya untuk mencari ketenangan, mendengarkan irama indah tetesan air, tetapi juga untuk membawa pulang air yang diyakini membawa berkat dan kesembuhan tersebut. Gua yang dulunya digali dengan rasa takut akan desingan peluru perang, kini telah bermutasi sepenuhnya menjadi tempat di mana umat manusia menemukan kedamaian sejati melalui perantaraan Bunda Maria.