YOGYAKARTA, Pena Katolik – Semangat toleransi dan persaudaraan kebangsaan menggema di Gereja Katolik Paroki Kristus Raja, Baciro, Kota Yogyakarta, pada Senin 2 Maret 2026. Istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid, hadir di tengah umat lintas agama untuk melaksanakan agenda rutin Sahur Keliling, sebuah tradisi yang telah ia rawat selama 26 tahun terakhir.
Dalam tausiyahnya di hadapan ratusan warga, Sinta menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas berbagi makanan, melainkan simbol persatuan.
“Saya ingin melakukannya secara lintas iman sebagai ungkapan rasa persaudaraan, saling menghormati, menghargai, dan bertolong-tolongan dari seluruh rakyat Indonesia karena kami adalah bersaudara,” tegasnya.
Ia berharap agar toleransi yang terbangun di akar rumput juga disadari oleh mereka yang berada di kursi kekuasaan. Ia mengingatkan pentingnya keadilan hukum dan empati pemimpin terhadap rakyat kecil.
“Demikian pula bagi mereka yang ada di tingkat tertinggi, juga bisa menyadari apa yang terjadi di rakyat jelata. Jadi tidak serampangan atau sembarangan main comot, main masukkan bui, dan sebagainya. Itu semua tidak boleh,” ucap Sinta.
Suasana sahur di pelataran gereja tersebut berlangsung hangat dan inklusif. Peserta yang hadir mencerminkan keragaman wajah Indonesia, mulai dari warga sekitar, pengemudi ojek online, pengangkut sampah, kaum duafa, penyandang disabilitas, hingga kelompok marginal lainnya.
Ketua panitia pelaksana sekaligus Pastor Paroki Kristus Raja Baciro, Romo Andreas Novian Ardi Priatmoko, mengungkapkan rasa syukur dan harunya atas kehadiran Ibu Sinta. Bagi komunitas Katolik dan lintas iman di Jogja, sosok Sinta adalah inspirasi yang tak lekang oleh waktu.
“Di tengah usia yang sudah sepuh, beliau masih bersemangat menjadi duta perdamaian dan pengayom bangsa. Setiap kali Ibu menyuarakan perdamaian dan toleransi, itu menjadi siraman rohani bagi kami,” ujar Romo Andreas.
Kegiatan sahur keliling ini merupakan program konsisten dari Yayasan Puan Amal Hayati yang diinisiasi Sinta Nuriyah sejak tahun 2000. Memasuki tahun ke-26 pelaksanaannya pada 2026 ini, kegiatan tersebut terus menggandeng berbagai komunitas, lembaga, hingga pemerintah daerah untuk memastikan pesan perdamaian sampai ke seluruh lapisan masyarakat.
Melalui momen di Gereja Baciro ini, Sinta kembali membuktikan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk duduk bersama di satu meja demi membangun bangsa yang lebih baik, rukun, dan damai.
