Home BERITA TERKINI Takhta Suci Menyatakan Menolak Bergabung dalam “Dewan Perdamaian” Gaza Besutan Donald Trump

Takhta Suci Menyatakan Menolak Bergabung dalam “Dewan Perdamaian” Gaza Besutan Donald Trump

0

ROMA – Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, menegaskan bahwa Takhta Suci “tidak akan berpartisipasi” dalam “Dewan Perdamaian” (Board of Peace) untuk Gaza yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Penolakan ini didasari oleh sejumlah poin dalam rencana tersebut yang dinilai membingungkan.

Pernyataan tersebut disampaikan Kardinal Parolin kepada wartawan pada 17 Februari 2026, usai pertemuan bilateral dengan pemerintah Italia di Palazzo Borromeo, Roma.

Kardinal Parolin menjelaskan bahwa sifat khusus Takhta Suci sebagai otoritas moral dan religius tidak selaras dengan struktur dewan tersebut.

“Ada poin-poin yang membuat kami agak bingung,” ujar Parolin. “Meskipun upaya untuk memberikan respon terhadap krisis adalah hal penting, bagi kami tetap ada masalah krusial yang harus diselesaikan terlebih dahulu.”

Salah satu keberatan utama Vatikan adalah mengenai peran lembaga internasional. Vatikan menegaskan bahwa pengelolaan situasi krisis di tingkat global seharusnya tetap dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB.

“Dewan Perdamaian” ini merupakan bagian dari rencana perdamaian Gaza yang diumumkan Trump pada September lalu. Rencana tersebut mencakup pembentukan “badan transisi internasional baru” yang dipimpin langsung oleh Trump sendiri, dengan melibatkan tokoh-tokoh seperti mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair.

Berikut adalah beberapa detail penting mengenai dewan tersebut. Pertemuan Perdana Dewan Perdamaian berlangsung di Washington pada 19 Februari 2026 di Donald J. Trump Institute of Peace (sebelumnya bernama U.S. Institute of Peace).

Lebih dari dua lusin negara telah menerima undangan, termasuk Israel, Qatar, Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Indonesia. Biaya keanggotaan sebesar 1 miliar dolar AS bagi negara yang ingin bergabung, atau setara 17 triliun.

Sama seperti Vatikan, sekutu utama AS di Eropa sebagian menolak bergabung karena khawatir dewan ini akan melemahkan posisi PBB.

Penolakan juga datang dari akar rumput. Jaringan bernama “Priests Against Genocide USA”, yang mengklaim beranggotakan 2.200 imam, 22 uskup, dan dua kardinal dari 58 negara, mengeluarkan pernyataan keras. Mereka mendesak adanya “pertobatan Prapaskah” dan menyatakan kekhawatiran bahwa dewan bentukan Trump tersebut berisiko meminggirkan suara rakyat Palestina.

Krisis ini berakar pada serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang. Sejak Israel menyatakan perang sebagai balasan, situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk dan mendapat sorotan tajam dunia internasional. Korban jiwa saat ini sudah lebih dari 70.000 warga Palestina tewas dari total 2,1 juta penduduk Gaza sebelum perang. Mayoritas besar korban dilaporkan adalah warga sipil. Gaza kini menghadapi ancaman kelaparan massal dan perpindahan penduduk skala besar.

Angka kematian warga sipil dalam konflik ini tercatat sebagai salah satu yang tertinggi dalam sejarah konflik di abad ke-21. Dengan menolak bergabung dalam dewan besutan Trump, Vatikan tampaknya memilih untuk tetap berdiri pada jalur diplomasi multilateral di bawah naungan PBB.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version