Seorang Ibu Muslim Mengantar Anaknya Ditahbiskan Menjadi Imam

0
696
Diakon Antonius Panji Satrio berpelukan dengan ibunya sebelum ritus penumpangan tangan. IST

BANDUNG, Pena Katolik – Suasana haru menyelimuti Misa Tahbisan Imam di Gereja Katolik Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Buah Batu, Bandung, 8 September 2023. Momen haru itu terjadi saat seorang Ibu Muslim menghadiri pentahbisan putranya yang memilih panggilan menjadi seorang imam.

Romo Anthonius Panji Satrio ditahbiskan menjadi imam pada hari ini diantar ibunda yang seorang Muslimah. Pada kesempatan ini, Ibu Romo Panji ikut bersukacita atas panggilan putranya.

Pada kesempatan ini, Romo Panji ditahbiskan bersama tiga imam lain yaitu: Romo Antonius Jonmedi Tarigan, Romo Bonaventura Priyo Sutejo, dan Romo Yustinus Yung Sutrisno Yusuf, OSC. Misa Tahbisan ini dipimpin Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin OSC.

Terpanggil Sejak SMP

Panggilan Romo Panji berawal ketika masa remaja. Saat itu, Panji belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kanisius Pakem Yogyakarta. Pada saat itu, ia sering melayani sebagai misdinar.

“Saya sering dipanggil misdinar manten, karena sering menjadi misdinar saat upacara pernikahan,” kenang Romo Panji.

Dalam banyak pelayanan sebagai misdinar ini, Panji begitu terkesan dengan pelayanan seorang imam di Paroki St. Maria Assumta Pakem, Keuskupan Agung Semarang. Ia bahkan sering diajak untuk melayani Misa di berbagai tempat. Sesekali, Panji juga diajak romo itu untuk menghadiri berbagai kegiatan.

“Di situ saya mulai mengenal apa itu panggilan menjadi seorang imam saat melihat pribadi beliau yang melayani sungguh-sungguh,” kata Romo Panji.

Panji menjadi semakin terkesan dengan imam yang sering mengajaknya pelayanan ketika pada suatu hari ia ikut melayani dalam sebuah Misa alam. Ia terkesan karena meski dengan peralatan seadanya, dan dengan tempat yang terbatas, ia dapat melayani Misa dengan kusyuk.

“Saya terpukau ketika Misa misa alam dengan alat dan tempat seadanya, beliau bisa melayani Misa dengan penuh dedikasi. Ini membuat saya kagum dengan pribadi imam itu,’ kenang Romo Panji.

Selanjutnya, panggilan Romo Panji semakin berkembang pada masa SMP ini. Seorang teman mengajaknya untuk melanjutkan pendidikan di Seminari Menengah St. Petrus Kanisius Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Benar saja, Panji kemudian melanjutkan pendidikan di seminari setelah lulus SMP.

Setelah lulus dari Seminari Mertoyudan, Panji lalu memilih untuk melanjutkan panggilannya sebagai calon imam Keuskupan Bandung. Dengan pilihan ini, Frater Panji ingin melayani sebagai imam yang membawa kedamaian untuk umat.

“Pada akhirnya, saya tertarik untuk masuk Seminari Tinggi Termentum Bandung untuk hadir di tengah umat,” ujar Romo Panji.

Merefleksikan panggilannya, Romo Panji menyadari, bahwa perjalanannya selama ini terjadi berkat dukungan dari banyak orang di sekitarnya. Ia menyadari, dukungan dan penyertaan ini termasuk dari sosok ibu yang selama ini mendukungnya dalam panggilan.  

“I never walk alone, itulah yang saya refleksikan selama menjalani panggilan seorang imam,” katanya.

Diakon Antonius Panji Satrio dibantu ibunya memakai kasula sebelum ritus penumpangan tangan. IST

Momen Haru

Setelah Doa Tahbisan, Diakon Panji yang dibantu oleh Ibunya ketika mengenakan kasula. Sang ibu memeriksa dan merapikan bagian kasula itu. Di situlah, simbol seorang ibu yang merelakan anaknya untuk menjalani panggilan sebagai seorang imam.

Setelah mengenakan kasula pada Diakon Panji, mamanya pun tanpa ragu memeluk anak tercinta. Ekspresi haru dari mama pun terlihat ketika ia merasa bangga karena Diakon Panji sudah bisa menjadi imam untuk umat Katolik.

Momen isak tangis yang menghiasi acara ini menjadi haru tersendiri bagi banyak orang.  Ibunya tetap menemani Diakon Panji hingga pada momen tersebut dilanjutkan dengan ritus Pengurapan Tangan.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here