Seorang yang Pindah Agama dari Islam ke katolik, Ditahbiskan Menjadi Imam di Negara di Mana Gereja Dianiaya

0
1064
Pastor Idris Moses Gwanube. IST

NIGERIA, Pena Katolik – Pastor Idris Moses Gwanube dilahirkan dalam keluarga Muslim dan di wilayah mayoritas Islam di Nigeria. Selama beberapa tahun, tempat kelahirannya dilanda gelombang serangan berdarah terhadap orang Kristen, pelakunya terutama kelompok fundamentalis Islam seperti teroris Boko Haram dan Fulani. Di kampong halaman Pastor Idris, sulit bagi seseorang untuk hidup sebagai orang Kristen, lebih berbahaya lagi mereka yang berpindah dari Islam ke Kristen.

Pastor Idris dibaptis pada usia 14 tahun. Awalnya, ia sering berjualan roti di depan sebuah gereja Katolik. Lambat laun, ia mulai berkenalan dan dekat dengan beberapa umat Katolik. Di sanalah, berkat kedekatan ini, ia mulai belajar tentang agama Katolik dan menjadi seorang katekumen.

“Gereja Katolik dulu dan masih jauh dari rumah kami. Saya senang karena orang tua tidak mengetahuinya, karena Gereja jauh dari rumah saya. Keluarga saya tidak pernah tahu untuk waktu yang lama.”

Berusaha menyembunyikan “keyakinan” barunya, pada akhirnya seorang kerabat mengetahui. Suatu kali, kerabat itu tahu, Idris datang ke gereja. Setelah ia pulang ke rumah, kakak-kakaknya memukulinya, teman-temannya menolaknya, dan bahkan ibunya membiarkan dia kelaparan. Mereka mencoba menguncinya di kamar, agar ia tidak pergi ke pertemuan Doa Karismatik di paroki. Tetapi, dia melarikan diri melalui jendela rumahnya, agar dia bisa ke gereja. Alhasil, Idris akhirnya diusir dari rumahnya.

Memasuki seminari

Tak punya tempat tinggal. Idris dirawat oleh ayah baptisnya, yang kemudian juga mendapat ancaman. Sekitar waktu yang sama, pastor paroki setempat, Pastor Kieran Danfulani, membantu Idris masuk Seminari Menengah Hati Kudus di Jalingo, di bagian timur laut Nigeria. Tepat ini juga salah satu daerah yang paling terpengaruh oleh aksi kelompok Islam fanatik.

Dari seminari menengah, Idris melanjutkan ke seminari tinggi St. Agustinus di Jos, di mana ia belajar filsafat dan teologi. Ia mempersiapkan diri untuk menerima pentahbisan diakonat pada Juli 2021. Ia akhirnya ditahbiskan imamat pada 25 Februari 2022.

Siapa sangka, pada Misa tahbisan ini, kedua orangtuanya datang dan menyaksikan tahbisan putranya.

 “Saya senang orang tua saya menghadiri penahbisan saya. Itu menunjukkan semua pengorbanan saya tidak sia-sia,” katanya.

Tantangan Saat Ini

Setelah ditahbiskan, Pastor Idris melayani di paroki Keluarga Kudus di Takum. Ia mengatakan kepada kantor berita tentang tantangan intoleransi agama dan penganiayaan anti-Kristen di negara terpadat di benua Afrika. Ia menjelaskan, misalnya, di beberapa negara bagian Nigeria, tidak mungkin menjual tanah kepada orang Kristen untuk membangun gereja. Dia juga menyebutkan situasi penculikan dan pembunuhan para imam dan frater di Nigeria saat ini.

Meskipun berisiko tinggi menjadi seorang Kristen di beberapa daerah di negara ini, Pastor Idris mendorong semua orang untuk membangun perdamaian. Ia juga mendorong semua umat Katolik untuk mengikuti teladan Kristus, yang menanggung segalanya demi penebusan kita.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here