Duabelas Pesan Paus Fransiskus Dalam Masa Prapaskah

0
492
Paus Fransiskus. Vatican News

Oleh : Romo Yadel Neno (Imam Diosesan Atambua)

Pertama : Kisah Transfigurasi

Kisah Transfigurasi yang kita kenal sebagai pemuliaan Yesus sebetulnya merupakan suatu tanggapan illahi berupa pencerahan meyakinkan terhadap kegagalan pada murid dalam memahami Yesus.

Simon Petrus, Ketua Kelas para Murid,  awalnya berselisih dengan Sang Guru karena paradoks keberimanannya. Dikatakan paradoks, karena Petrus memang beriman, namun bagi Yesus, beriman dengan menyangkal nubuat penderitaan merupakan suatu mental yang dapat dikategorikan sebagai iblis, yang harus dienyahkan. Karena itu, ketika Simon Petrus menolak nubuat tentang Sengsara dan Salib, Yesus dengan keras menegurnya: “Enyahlah, Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia!” (Mat 16:23).

Kedua : Minggu Transfigurasi

Paus Fransiskus menyebut bahwa pada Minggu Kedua dalam Masa Prapaskah Bacaan yang selalu dibacakan diambil dari Injil tentang Kisah Transfigurasi. Boleh dikatakan, Minggu Kedua dalam Masa Prapaskah disebut Minggu Transfigurasi.

Paus menulis ; selama masa liturgi prapaskah, Tuhan membawa kita bersama-Nya ke tempat yang terpisah. Menurut Paus, tindakan Yesus ke tempat yang terpisah merupakan suatu solusi bijak atas suatu cara paksa oleh kebiasaan kita, yang seringkali membuat kita diam di tempat yang biasa, dalam berulangnya rutinitas yang terkadang membosankan. Maka, selama Prapaskah ini kita diundang untuk mendaki “gunung yang tinggi” bersama Yesus dan menjalani suatu pengalaman khusus tentang pengolahan rohani – askese – sebagai umat Allah yang kudus.

Bapa Suci mengatakan; kalaupun orang tidak dapat  secara rutin mendengarkan Sabda Allah dalam Ekaristi, minimal Umat Allah dapat membaca SabdaNya dalam Alkitab setiap hari, dan bahkan Bapa Suci dengan gamblang menyebutkan bahwa atas bantuan internet, Bacaan Suci dapat diakses secara mudah

Ketiga : Pertobatan Prapaskah

Ada beberapa hal yang disebutkan Paus Fransiskus dalam rangka mengisi momen  pertobatan di Masa Prapaskah:

Menurut Paus Fransiskus, komitmen beriman perlu ditopang oleh rahmat. Ketika komitmen manusia berjumpa dengan Rahmat Allah, kelemahan iman akan teratasi dan prinsip kemuridan mengikuti Salib Yesus semakin kuat.

Paus Fransiskus mencatat bahwa hal seperti itu juga nampak dalam diri Petrus dan Murid-Murid. Itulah sebabnya Paus menulis, hal komitmen iman juga perlu dilakukan oleh Petrus dan para Murid.

Melepaskan Diri dari Kesombongan dan Keadaan Biasa-Biasa Saja, Paus menulis ; Agar dapat memperdalam pengetahuan kita tentang Guru, memahami-Nya dengan sungguh dan merangkul misteri keselamatan-Nya, yang dicapai dalam penyerahan diri sepenuhnya yang diilhami oleh cinta, kita harus membiarkan diri kita sendiri untuk dikesampingkan oleh-Nya dan untuk melepaskan diri kita dari keadaan biasa-biasa saja dan kesombongan.

Pengorbanan dan Konsentrasi merupakan Syarat bagi Perjalanan Sinodal Gereja, Untuk keluar dari keadaan biasa-biasa saja, kita perlu mengambil langkah menanjak, ibarat menanjak gunung yang membutuhkan upaya, pengorbanan dan konsentrasi. Hal seperti ini menjadi penting bagi orang beriman, dan terutama dalam perjalan sinodal Gereja. Karena perjalanan sinodal merupakan suatu perjalanan bersama, maka daya juang pengorbanan dan konsentrasi merupakan syarat utama.

Keempat : Bersaksi Berarti Pengalaman Iman dibagikan dan Bukan Sendirian

Ketiak di Gunung Tabor, Yesus membawa serta tiga Murid yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes. Yesus menghendaki agar mereka menjadi saksi akan semua yang terjadi. Dari fakta ini, Paus Fransiskus menulis bahwa Yesus menghendaki agar pengalaman kasih karunia itu dibagikan, bukan sendirian, sama seperti seluruh hidup iman kita adalah pengalaman yang dibagikan. Menurut Paus Fransiskus, kita hanya dapat mengikuti Yesus, dalam kebersamaan.

Dari perjalanan bersama mendaki Gunung Tabor, Paus Fransiskus menulis makna penting bagi umat beriman Kristiani dalam Masa Prapaskah ini, bahwa perjalanan Prapaskah kita adalah “sinodal”, karena kita membuatnya bersama di jalan yang sama, sebagai murid dari satu Guru. Karena kita tahu  bahwa Yesus sendiri adalah Jalan, dan karena itu, baik dalam perjalanan liturgis maupun dalam perjalanan Sinode, Gereja tidak melakukan apa-apa selain masuk lebih dalam dan sepenuhnya ke dalam misteri Kristus Sang Juru Selamat.

Kelima : Wajah yang Bersinar dan Pakaian yang Putih seperti Cahaya

Puncak perjalanan bersama itu adalah Yesus “diubah rupa di hadapan mereka; wajahnya bersinar seperti matahari dan pakaiannya menjadi putih bersinar seperti cahaya” (Mat 17:2).

Pasca pendakian, para Murid mendapat Rahmat untuk menyaksikan Kemuliaan yang terjadi dalam diri Yesus, yang disebut Paus Fransiskus sebagai bercahaya dalam sinar adikodrati.

Para Murid tidak dibiarkan semacam lelah percuma. Begitu mereka tiba di Puncak, kepada mereka disediakan Rahmat pelepas dahaga fisik dan iman, yakni mereka menyaksikan Kemegahan Keagungan dan Kemuliaan Allah. Dengan kisah kemuliaan itu, menjadi tampak bagi kita bahwa pewartaan iman akan menakjubkan, jika kita memahami kehendak Allah dan misi kita dalam melayani Kerajaan Allah.

Keenam : Perjalanan Sinodal Berakar Pada Tradisi Gereja

Ketika Yesus berubah rupa, di samping Yesus hadir Musa dan Elia. Kehadiran keduanya, masing-masing menandakan Hukum dan Para Nabi. Dengan menekankan kehadiran Musa dan Elia, Paus Fransiskus menegaskan bahawa kebaruan Kristus sebetulnya merupakan pemenuhan perjanjian dan janji kuno, dan hal seperti ini, menurut Paus Franiskus, tidak dapat dilepaskan dari sejarah Tuhan dan UmatNya. Kisah transfigurasi yang menghadirkan Musa dan Elia membawa serta suatu kesadaran rohani bahwa perjanalan sinodal sesunggunya berakar pada tradisi Gereja dan sekaligus terbuka pada kebaruan.

Hadirnya Musa dan Elia menunjuk pada suatu tradisi Perjanjian Lama, yang tak terlupakan, dan kisah Transfigurasi Yesus merupakan unsur kebaruannya.

Ketujuh : Tradisi merupakan Sumber Inspirasi Untuk Menghindari Godaan Kemapanan

Paus Fransiskus mencatat bahwa tradisi sumber inspirasi untuk mencari jalan baru dan untuk menghindari godaan kemapanan yang berlawanan dan eksperimen yang tak dipersiapkan (spontan).

Kisah pendakian gunung merupakan suatu jalan baru, karena tak biasa. Puncak pendakian itu menunjuk pada tradisi yang terkandung dalam diri Musa dan Elia, sebagai figur Perjanjian Lama yang mensyaratkan kehadiran Yahweh-Elohim-El Shaddai.

Terpancar makna luhur bahwa godaan kemapanan yang termakhtub dalam pernyataan Petrus tentang kenyamanan di Gunung Tabor ditepis Yesus dengan teguran keras; Enyalah Kau Iblis. Itulah tanda bahwa kemapanan jasmaniah sesunguhnya bukan merupakan tujuan utama Yesus. Dengan kisah Transfigurasi, Yesus meletakkan tradisi jitu kepada para Murid tentang antipasi kemuliaan yang akan terjadi setelah penderitaan. Itu berarti kemuliaan tidak mengingkari penderitaan. Hal ini menjadi penting karena godaan kemapanan seringkali membuat kita ingin meloloskan diri dari penderitaan.

Kedelapan : Transformasi Mengikuti Transfigurasi Yesus

Paus Fransiskus menulis bahwa perjalanan pertobatan Prapaskah dan perjalanan sinoda sama-sama memiliki tujuan Transfigurasi, baik pribadi maupun gerejawi. Dalam kedua kasus ini, ada transformasi yang tampak. Transformasi ini mengikuti model Transfigurasi Yesus dan dicapai dengan rahmat misteri Paskahnya.

Kesembilan : Dua Jalan Bagi Nyatanya Transfigurasi Dalam Diri Umat Beriman

Paus Fransiskus mengusulkan “dua jalan” sebagai upaya menyatakan Transfigurasi bagi hidup umat beriman, dalam perjalanan mendaki gunung mencapai tujuan bersama Yesus.

Kesepuluh : Ret-Ret sebagai Persiapan Mengalami Sengsara Tuhan dan Salib

Paus menyebutkan bahwa Praspaskah merupakan masa di mana kita diarahkan kepada Paskah. Masa Prapaskah disebutnya sebagai ret-ret, dan menurut Paus Fransiskus; ret-ret bukanlah tujuan dalam dirinya sendiri, tetapi merupakan sarana yang mempersiapkan kita mengalami sengsara Tuhan dan salib dengan iman, harapan dan cinta, dan dengan demikian sampai pada kebangkitan.

Kesebelas : Menjadi Pelaku Sinodalitas yang tidak Merasa Berkecukupan

Di dalam perjalanan sinodal, Tuhan memberikan RahmatNya kepada kita. Rahmat itu adalah Rahmat Persekutuan yang kuat. Paus Fransiskus mencatat bahwa dengan adanya Rahmat persekutuan ini, kita tidak boleh merasa berkecukupan. Hal ini nampak dalam pernyataan Paus bahwa kita tidak boleh membayangkan bahwa kita telah tiba.

Menurut Paus Fransiskus, dalam Rahmat Persekutuan itu, kepada kita Tuhan mengulangi FirmanNya kepada kita; “Bangunlah, dan janganlah takut”. Itulah sebabnya, kita perlu memperkuat kehidupan komunitas sebagai syarat kuat menjadi pelaku sinodalitas. Dalam semangat komunitas, Tuhan menemukan semangat kerekanan, dan kedalam semangat kerekanan itu, Tuhan menuangkan secara istimewa rahmat dan kekuatanNya, ibarat yang telah dikatakanNya kepada para Muris; Bangunlah dan janganlah takut.

Keduabelas : Menjadi Kemuliaan Bagi Umat dan Terang Bagi Bangsa-Bangsa

Pada Akhirnya Bapa Suci menulis ; Saudari dan saudara yang terkasih, semoga Roh Kudus mengilhami dan menopang kita pada masa Prapaskah ini dalam pendakian kita bersama Yesus sehingga kita boleh mengalami keagungan ilahi-Nya dan dengan demikian, diteguhkan dalam iman, bertekun dalam perjalanan kita bersama dengan-Nya, menjadi kemuliaan bagi umat-Nya dan terang bagi bangsa-bangsa.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here