Mengenang Shireen Abu Aklah, Jurnalis Beragama Katolik yang Gugur Ditembak Tentara Israel

0
757
Beberapa ibu di Yerusalem memegang foto Shireen Abu Akleh saat protes atas penembakan reporter Al-Jazeraa itu. IST

YERUSALEM, Pena Katolik – Kematian jurnalis Al Jazeera Shireen Abu Akleh yang tewas karena sniper Israel di Tepi Barat terus jadi pembicaraan di internet. Ia ditembak Rabu 11 Mei 2022 saat meliput bentrokan antara IDF dan Palestina bersenjata selama serangan militer Israel di Jenin.

Pejabat dan saksi di pihak Palestina, termasuk wartawan yang bersamanya, mengatakan dia dibunuh oleh tembakan tentara. Militer Israel awalnya mengatakan orang-orang bersenjata Palestina mungkin bertanggung jawab. Belakangan Militer Israel mengatakan Shireen mungkin telah terkena tembakan Israel yang salah. Hingga saat ini kesimpulan siapa yang bertanggungjawab atas kasus ini belum diperoleh.

Shireen adalah seorang reporter keturunan Palestina-Amerika yang beragama Katolik. Ia adalah reporter veteran yang sudah 25 tahun bekerja di Al-Jazeera. Shireen lahir 3 Januari 1971, lahir dari keluarga Katolik di Palestina dan kini memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat (AS).

Keluarga besar Shireen Abu Akleh berasal dari Betlehem, Palestina. Ia kemudian pindah ke AS dan menjadi warga negara dari keluarga ibunya yang tinggal di New Jersey. Abu Akleh adalah seorang reporter veteran dan salah satu jurnalis terkemuka di dunia Arab. Karirnya menterengnya termasuk melaporkan peristiwa besar Palestina serta menganalisis politik Israel.

Shireen adalah jurnalis terkenal di tanah Arab. Ia sering melaporkan kejadian di Palestina dan menganalisis politik Israel, dia menginspirasi banyak orang Palestina dan Arab untuk mengejar karier sebagai jurnalis.

Shireen adalah murid di sebuah sekolah di Beit Hanina, kemudian mendaftar di Universitas Sains dan Teknologi Yordania untuk studi tentang arsitektur, namun kemudian ia tidak melanjutkan masa studinya; ia kemudian mendaftar ke Universitas Yarmouk di Yordania, dari sana ia lulus dari studi tentang jurnalisme. Setelah lulus, Shireen kembali ke Palestina.

Sebelum bekerja di Al Jazeera, Shireen bekerja sebagai jurnalis di Radio Monte Carlo dan Voice of Palestine. Ia juga bekerja untuk UNWRA, Amman Satelite Channel, dan MIFTAH. Pada 1997, dia mulai bekerja untuk Al Jazeera sebagai jurnalis, sebagai salah satu koresponden lapangan, kemudian dia mulai dikenal di kanal berita berbahasa Arab.

Shireen tinggal dan bekerja di Yerusalem Timur, ia sering melaporkan kejadian-kejadian terkait Palestina termasuk Intifada Kedua, dan juga mencakup berita mengenai politik Israel. Dia sering meliput pemakaman orang Palestina yang dibunuh oleh pasukan Israel.

Shireen menginspirasi orang Palestina dan Arab lainnya untuk menjadi jurnalis; siaran televisinya termasuk terkenal. Setelah kematiannya, The New York Times dan National Public Radio menyebutnya sebagai orang terkenal di Palestina. The Times of Israel mendeskripsikannya sebagai jurnalis senior dan orang penting di dunia Arab.BBC menyebutnya sebagai orang terkenal dan dikagumi oleh pemirsa dan koleganya. Ia juga sedang mempelajari bahasa Ibrani untuk lebih mengerti narasi yang diberikan oleh media massa Israel.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here