Cerita Ketahanan Perempuan dari Kali Lo

0
1472
Lahan di tepi Kali Lo yang ditanami kangkung

TIGA perempuan yaitu Semiyati, Juminten, dan Purwanti pun bergegas berjalan di depan kami. Dengan bertelanjang kaki mereka berjalan melewati hamparan sawah di Desa Serut, Kecamatan Gedangsari, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Semiyati, Juminten, dan Purwanti adalah anggota kelompok Manunggaling Latu Biru. Kelompok ini adalah sebagian dari penerima manfaat Program Ketahanan Pangan. Program ini diinisiasi oleh Karina Keuskupan Agung Semarang (KAS) bekerja sama dengan Carintas Indonesia dan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konferensi Waligereja Indonesia (PSE KWI).

Lahan Pengganti

Siang itu, bersama Semiyati, Juminten, dan Purwanti, kami menuju menuju tempat yang mereka sebut sebagai Kali Lo. Disebut Kali Lo karena dulu di sepanjang kali itu banyak pohon lo, yaitu pohon jenis ficus yang jika sudah sampai tanah, akarnya mengikat kuat tanah dan batu. Tanaman ini berfungsi mencegah erosi dan longsor dan di sela-selanya kadang muncul mata air.

“Dulu, banyak pohon lo di sepanjang kali. Buahnya banyak, tapi tidak enak. Tidak bermanfaat jadi, tidak ada yang mengembangkan. Lama-lama tidak ada tanaman pohon lo di sini,” kenang Purwanti.

Di sebidang tanah di dekat Kali Lo itu, Purwati dan kelompoknya menanam sayuran. Mereka memilih lahan itu bukan tanpa alasan, meski kecil namun air di Kali Lo tidak pernah berhenti. Mereka lalu membendung aliran air itu. Bukan bendungan permanen, supaya air masih bisa merembes dan mengalir ke bawah untuk dimanfaatkan warga yang berada di bawah.

Dengan aliran air itu, maka lahan itu dapat ditanami sayuran organik. Mereka beruntung mendapat lahan itu untuk bercocok tanam. Sebelumnya, mereka mendapat lahan lain, namun karena kemarau, lahan itu tidak dapat ditanami. Air sumur yang diandalkan di tengah lahan ternyata tidak cukup.

Dari situlah, Karina KAS bersama dengan anggota kelompok Manunggaling Latu Biru memutuskan untuk mengadakan rembug bersama. Hasilnya, mereka mendapat lahan di tepi Kali LO, yang saat ini mereka tanami sayuran organik.

Ketahanan Tercapai

Saat ini, mereka sudah merasakan bagaimana menanam sayuran organik bersama dengan kelompok. Sebelum program ketahanan pangan ini, mereka tidak mempunyai aset kelompok. Saat ini setidaknya mereka mendapatkan hasil dari penjualan sayuran di kebun kelompok Rp1.385.500 untuk sekali panen.

Selain itu, mereka juga menanam di pekarangan. Mereka juga saat ini rutin melakukan pembibitan dan memproduksi pupuk organik dari limbah kotoran ternak. “Dulu mereka memang menggunakan pupuk kandang tapi langsung dipakai begitu saja untuk pertanian dan masih ditambah pupuk kimia,” kata Sumar, Koordinator kelompok Manunggaling Latu Biru.

Saat ini untuk memenuhi kebutuhan sayuran harian, semua anggota kelompok tidak usah membeli. Bahkan dari hasil tanam, mereka bisa berbagi dan menjual sayuran. Setidaknya ada 97 KK di luar anggota yang mendapatkan manfaat dari sayuran di pekarangan rumah.

Program ketahanan pangan ini ternyata tidak hanya berdampak anggota memiliki sayuran sendiri tanpa membeli tapi juga tumbuh semangat berbagi sayuran untuk tetangga dan juga berbagi lahan untuk kelompok. Diputuskan bersama bahwa lahan kelompok yang ada di tiga titik dengan akses airnya yang masih baik, akan mereka olah bersama untuk kepentingan kelompok hingga setahun ke depan yaitu sampai Juni 2022. Peempuan-perempuan kelompok Watulumbung memang sangat tangguh. Mulai dari menanam sayuran di pekaraatulumbung memang sangat tangguh.

Perempuan-perempuan itu mengerjakan semuanya, mulai dari menanam sayuran di pekarangan rumah, mengolah lahan dan menanam di kebun kelompok, membuat pupuk organik. Meraka semakin menyadari ketika mereka menanam sayuran sehat setiap hari, mereka pun bisa menyediakan makanan sehat bagi keluarga.

Namun, ketersediaan air memang sangat berpengaruh. Itulah sebabnya mereka melakukan penanaman pohon Gayam dan Loa di sekitar aliran sungai. (AES)

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here