Renungan dan Bacaan Harian, Senin 04 Oktober 2021 Pekan Biasa XXVII; Peringatan Wajib Santo Fransiskus Asisi, Pengaku Iman, Santo Kuintinus

0
708
www.churchofjesuschrist.org

Bacaan I

Yunus 1:1-2;2:1-2.11

Yunus siap melarikan diri dari hadapan Tuhan.

Datanglah sabda Tuhan kepada Yunus bin Amitai demikian, “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan berserulah terhadap mereka, sebab kejahatannya telah sampai kepada-Ku.”

Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan. Ia pergi ke Yafo, dan di sana mendapat sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan.

Tetapi Tuhan menurunkan angin ribut ke laut; lalu terjadilah badai besar sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. Awak kapal menjadi takut; masing-masing berteriak kepada allahnya, dan mereka membuang segala muatan ke dalam laut untuk meringankan kapal.

Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah, dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak. Datanglah nahkoda mendapatkannya sambil berkata, “Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak?

Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allahmu itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa.” Lalu berkatalah mereka satu sama lain, “Marilah kita buang undi, supaya kita tahu, karena siapa kita ditimpa malapetaka ini.”  

Mereka lalu membuang undi, dan Yunuslah yang kena. Maka berkatalah mereka kepadanya, “Beritahu kami, karena siapa kita ditimpa malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang? Manakah negerimu dan dari bangsa manakah engkau?”

Sahut Yunus kepada mereka, “Aku ini seorang Ibrani. Aku takwa pada Tuhan, Allah yang menguasai langit, yang telah menjadikan laut dan daratan.” Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya, “Apa yang telah kauperbuat?” Sebab orang-orang itu tahu, bahwa ia telah melarikan diri, jauh dari hadapan Tuhan.

Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka. Bertanyalah mereka, “Akan kami apakan dikau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi? Sebab laut semakin bergelora.” Sahut Yunus kepada mereka, “Angkatlah aku dan campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kalian lagi.

Sebab aku tahu, karena akulah badai besar ini menyerang kalian.” Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka.

Lalu berserulah mereka kepada Tuhan, katanya, “Ya Tuhan, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini, dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, Tuhan, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki.” Kemudian mereka mengangkat Yunus dan mencampakkannya ke dalam laut.

Maka laut berhenti mengamuk. Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada Tuhan, lalu mempersembahkan kurban sembelihan kepada Tuhan serta mengikrarkan nazar. Maka atas penentuan Tuhan datanglah seekor ikan besar yang menelan Yunus.

Dan Yunus tinggal di dalam perut ikan itu tiga hari tiga malam lamanya. Lalu bersabdalah Tuhan kepada ikan itu, dan ikan itu pun memuntahkan Yunus ke darat.

Mazmur Tanggapan

Yunus 2:2,3,4,5,8

Ref. Engkau mengangkat nyawaku dari dalam liang kubur.

  • Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku. Dari tengah-tengah-tengah alam maut aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.
  • Engkau telah melemparkan daku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.
  • Aku berkata, “Telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?”
  • Ketika jiwaku letih lesu dalam diriku,teringatlah aku kepada Tuhan, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

Pengantar Injil

Yohanes 13:34

Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan; yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu.

Bacaan Injil

Lukas 10:25-37

Siapakah sesamaku?

Pada suatu ketika, seorang ahli Kitab berdiri hendak mencobai Yesus, “Guru, apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”

Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Kata Yesus kepadanya, “Benar jawabmu itu. Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata lagi, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho.

Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya, dan sesudah itu meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu.

Ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu. Ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datanglah ke tempat itu seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan.

Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasih. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya, ‘Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya waktu aku kembali’.

Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasih kepadanya.” Yesus berkata kepadanya, “Pergilah, dan lakukan demikian.”

Siapakah Sesamaku

Dalam perikop Injil hari ini dikisahkan bahwa TUHAN YESUS kembali dijebak oleh seorang ahli Taurat. Pertanyaannya sederhana, apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. IA tidak menjawab langsung tapi malah balik bertanya, apa yang diperintahkan dalam hukum Taurat. Dan dengan fasihnya si ahli Taurat ini menjawab tentang mengasihi TUHAN dan sesamanya. Jawaban ini dibenarkan oleh YESUS. Tetapi karena si ahli Taurat ini hanya mau menjebak dan cari benarnya sendiri, ia masih bertanya kepada-NYA: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk. 10: 28). IA lalu berkisah tentang orang Samaria yang dianggap asing dan kafir itu ternyata sangat berbelas kasih dan bermurah hati. Dikisahkan bahwa ada orang yang sedang dirampok, diambil miliknya dan disakiti badannya hingga ia luka parah sampai hampir sekarat. Seorang imam dan seorang Lewi lewat tempat kejadian, mereka melihat ada orang luka parah. Tetapi mereka lewat begitu saja, tanpa ada rasa empati atau simpati. Berbeda dengan orang Samaria yang masih dianggap kafir itu ternyata ia bermurah hati. Ia turun tangan sendiri menolong orang itu dan mengantarkannya ke penginapan dan dititipkan disana sambil berpesan agar ia boleh istirahat di sana dan semua dibayar oleh orang asing dan kafir itu! Dan sesudah dia selesai urusannya maka ketika kembali ia akan membereskan segala pembiayaannya.

Jadi, “belas kasih” bukanlah seuntaian kata indah yang harus dihafal rumusannya. “Belas kasih” juga bukan hanya teori dan kata-kata kosong tanpa makna! Belas kasih adalah suatu aksi, tindakan nyata yang berujung pada tindakan penyelamatan. Orang Samaria itu pasti tidak mengenal orang yang dirampok itu. Namun, karena ia punya perasaan yang halus, peka terhadap aksi bela rasa, maka pada akhirnya ia  bertekad untuk menolong dan menyelamatkan korban perampokan itu sampai tuntas. Kasih memang tidak mengenal untung rugi.

Kisah penyelamatan yang dilakukan orang Samaria itu bisa menjadi aksi setiap orang yang berkehendak baik untuk mewujudkan kasih itu dalam suatu tindakan nyata. Yang penting tindakan kasih itu dilakukan secara murni, tulus, ikhlas dan tuntas tanpa suatu pamrih minta dibalas atau menjadi “bahan kampanye diri”. Tinggal sekarang kemauan kita sendiri: mau atau tidak untuk berbelas kasih?

Berbeda sekali sikapnya dengan seorang imam dan orang Lewi yang merasa diri mereka penting dan tidak mau kehilangan waktu serta merasa “jijik” untuk menolong orang luka parah yang tidak jelas identitasnya itu. Mereka ini type orang yang merasa penting dan sibuk, tetapi sebenarnya menolak atau lari dari tanggung jawab sosialnya.

Demikian pula Yunus yang dipanggil TUHAN untuk mempertobatkan penduduk Niniwe, malah melarikan diri dan menghindari tanggung jawabnya, seperti dikisahkan dalam Bacaan Pertama. Yunus ingin lari dari TUHAN, tetapi Kehendak TUHAN tidak bisa digagalkan. Gara-gara Yunus telah lari dari TUHAN itu, terjadilah angin taufan yang menyebabkan perahu hampir tenggelam. Yunus merasa dirinya salah dan jadi penyebab kecelakaan itu akhirnya minta dibuang ke laut dan seekor ikan yang besar menelan dia dan membawanya sampai tiga hari di dalam perut ikan itu. Dan orang-orang di kapal itu setelah angin ribut itu reda justru akhirnya mengakui kebesaran TUHAN dan mempersembahkan kurban kepada-NYA.

Seperti Yunus, kita pun kadang mau melarikan diri dari tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Maka kita mulai menjauhkan diri dari TUHAN. Akan tetapi TUHAN “tidak tidur.”  DIA pasti akan menegur kita dengan berbagai cara dan peristiwa yang dahsyat dan memukul diri kita!

Hari ini Gereja memperingati seorang Kudus pendiri Ordo Saudara-saudara Dina atau Fransiskan, yaitu Santo Fransiskus dari Asisi (1181-1226). Ia anak seorang pedagang kain yang kaya raya. Ketika perang saudara berkecamuk, ia ditangkap dan dipenjara selama satu tahun sampai jatuh sakit. Pengalaman pahit inilah yang kelak mengubah pola hidupnya. Ketika berada di gereja San Damiano, ia seolah mendengar ajakan TUHAN agar ia memperbaiki Rumah-NYA. Dan tanpa pikir panjang, ia mengambil sejumlah kain mahal dari gudang ayahnya dan dijualnya. Uangnya disumbangkan untuk memperbaiki gedung gereja yang rusak. Maka meledaklah amarah ayahnya dan mengusir Fransiskus. Kondisi ini tidak menyebabkan ia bersedih, sebaliknya ia merasa saatnya untuk lebih berkonsentrasi memuji TUHAN. Hidupnya berlangsung dengan cara mengemis setiap  hari,  dan sebagian hasilnya disumbangkan untuk para pengemis yang lain. Semangat persaudaraan, hidup sangat sederhana, berdoa terus dan mencintai alam semesta menjadi ciri utama tarekat yang baru didirikan itu. Pada usia ke 43 tahun, ia mengalami stigmata (luka-luka seperti YESUS di tangan, kaki dan lambung). Luka-luka ini menjadi babak baru penderitaan baginya. Hidupnya sangat sederhana, menderita kelaparan dan sakit, namun ia tetap mendendangkan madah pujian Kidung Matahari. Di kala Gereja menjadi lemah dan sakit karena kekuasaan, harta kekayaan, maka Fransiskus menemukan kembali cita-cita Injil yang asli yaitu Kerendahan hati, Kemiskinan dan Cinta kasih!

Ya TUHAN, ajarilah aku untuk semakin peka melihat sesamaku yang menderita, khususnya pada masa pandemi Covid-19 ini. Berilah aku keberanian untuk menyatakan cinta kasihku secara konkrit kepada orang yang menderita. Santo Fransiskus Asisi, doakanlah aku. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas pada awal minggu sesuai dengan Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.

PK/hr.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here