Audiensi Umum Paus  Fransiskus di Lapangan Damasus di Istana Apostolik, 2 Juni
Audiensi Umum Paus Fransiskus di Lapangan Damasus di Istana Apostolik, 2 Juni

Paus Fransiskus melanjutkan katekese tentang doa Kristen dalam Audiensi Umum, 2 Juni, dengan mengambil beberapa contoh dari Injil untuk menjelaskan bahwa doa adalah hal mendasar dalam hubungan Yesus dengan murid-murid-Nya.

Sebelum memilih murid-murid-Nya, kata Lukas, Yesus naik gunung untuk berdoa dan menghabiskan sepanjang malam berdoa kepada Allah. Pada siang hari, Dia memilih murid-murid-Nya dan menamai mereka para rasul. Doa, yang merupakan dialog dengan Bapa, kata Paus, adalah kriteria dari pilihan ini. Banyak yang dipilih tampaknya bukan yang terbaik, terutama berkaitan dengan Yudas, yang nanti menjadi pengkhianat. Tetapi Paus mengatakan, nama-nama para murid tertulis dalam rencana Allah.

Paus menunjukkan bahwa para rasul terkadang menjadi penyebab keprihatinan bagi Yesus, tetapi Dia membawa mereka dalam hati-Nya bahkan dalam kesalahan mereka dan ketika mereka jatuh, karena Dia menerima mereka dari Bapa. Maka, doa bagi mereka selalu muncul dalam kehidupan Yesus.

Sebagai guru dan sahabat, lanjut Paus, Yesus menunggu dengan sabar pertobatan murid, seperti yang terbukti dengan Petrus pada Perjamuan Terakhir. Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa Dia telah berdoa agar imannya tidak gagal dan kalau dia bertobat, dia harus meneguhkan saudara-saudaranya. “Selama masa kelemahan murid-Nya, kasih Yesus tidak berhenti, melainkan menjadi lebih kuat, dan kita berada di pusat doa-Nya.”

Paus meyakinkan umat Kristiani bahwa Yesus terus mencintai dan berdoa bahkan bagi orang-orang yang berada dalam dosa berat dan dosa paling buruk sekalipun. Kasih dan doa-Nya bagi kita masing-masing tidak pernah berhenti, malah semakin intens. Dia meyakinkan umat Kristen bahwa saat ini Dia sedang berdoa untuk kita dan menunjukkan kepada Bapa luka-luka-Nya, harga dari keselamatan kita.

Sekali lagi, Yesus berada di tempat yang sunyi dan berdoa, kapan Dia mau memverifikasi iman murid-murid-Nya. Ketika Dia bertanya kepada mereka, menurut mereka siapa Dia, Petrus menjawab, “Kristus dari Allah.”

Titik balik besar misi Yesus,” kata Paus, “selalu didahului dengan doa intens dan berlangsung lama.” Ujian iman ini adalah “titik awal baru bagi para murid,” karena sejak saat itu, kata Paus, Yesus mengambil nada baru dalam misi-Nya, dan berbicara secara terbuka kepada mereka tentang sengsara, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Saat mengumumkan saat akhir-Nya, yang secara naluriah membangkitkan rasa tidak suka pada murid-murid-Nya dan pada kita, Paus berkata, “doa adalah satu-satunya sumber cahaya dan kekuatan.” Paus tambahkan, “Perlu doa lebih intens di setiap jalan menanjak.”

Segera setelah berbicara tentang nasib-Nya di Yerusalem, episode Transfigurasi terjadi. Lukas mengatakan bahwa Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus ke atas gunung untuk berdoa. Saat itu wajah-Nya berubah rupa dan pakaian-Nya menjadi putih dan bercahaya. Dalam kemuliaan, Musa dan Elia berbicara dengan Yesus tentang kepergian-Nya yang akan digenapi di Yerusalem.

“Oleh karena itu,” jelas Paus, “perwujudan kemuliaan Yesus yang diantisipasi ini terjadi dalam doa, sementara Putra masuk dalam persekutuan dengan Bapa dan sepenuhnya menyetujui kehendak kasih-Nya, pada rencana keselamatan-Nya.” Dan dari doa itu, lanjut Paus, muncul kata yang jelas untuk ketiga murid yang terlibat, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.”

Dengan demikian, kata Paus, Yesus tidak hanya ingin kita berdoa sebagaimana Dia berdoa, tetapi meyakinkan kita bahwa, bahkan jika usaha kita dalam berdoa sama sekali sia-sia dan tidak efektif, kita selalu bisa mengandalkan doa-Nya.

Paus dorong umat Kristen mengulangi dan mengingat bahwa Yesus selalu berdoa untuk kita. “Kalau ada sedikit kesulitan, kalau Anda berada dalam lingkaran gangguan: Yesus berdoa untuk saya,” kata Paus seraya menambahkan, Yesus sendiri yang mengatakannya. “Janganlah kita lupa bahwa yang menopang setiap kita dalam hidup adalah doa Yesus untuk kita masing-masing, dengan nama, nama keluarga, di hadapan Bapa, dan menunjukkan kepada-Nya luka-luka yang merupakan harga keselamatan kita.

Paus menegaskan “meskipun doa kita hanya tergagap, kalau doa-doa itu dikompromikan oleh iman yang goyah, kita tidak boleh berhenti percaya akan Dia,” dan “Didukung oleh doa Yesus, doa kita yang malu-malu bertumpu pada sayap elang dan membubung ke Surga.”(PEN@ Katolik/paul c pati/Robin Gomes/Vatican News)

Tinggalkan Pesan