(PEN@ Katolik/gsk)
(PEN@ Katolik/gsk)

Uskup Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC tidak gentar terhadap ancaman bom dari terduga pelaku teroris kepada dirinya, sebab ia meyakini bahwa ia tetap aman dalam lindungan Tuhan yang diimaninya.

“Ini penyelenggaraan Tuhan. Saya orang beriman, bukan orang kafir. Saya percaya akan lindungan Tuhan,” kata Mgr Mandagi kepada wartawan di Sekretariat Keuskupan Agung Merauke, 2 Juni. Meski demikian, Mgr Mandagi mengatakan pihaknya tetap waspada dan lebih berhati-hati. “Baik penjagaan maupun para tamu yang datang akan lebih selektif,” jelas prelatus itu.

Sebenarnya, jelas uskup agung itu kepada para wartawan, percobaan pembunuhan yang dilakukan terduga teroris terhadap dirinya di Merauke sudah terjadi dua kali. Pertama, 1 Januari 2021, ketika Mgr Mandagi tiba di Merauke. “Sebelum sampai di Rumah Keuskupan Agung Merauke, ada salah satu terduga teroris datang ke Rumah Keuskupan Merauke dengan membawa tas ransel dengan alasan mencari rumah kos,” padahal dia menunggu kedatangan uskup, jelas Mgr Mandagi.

Karena Mgr Mandagi belum sampai, terduga teroris mengurungkan niat untuk meledakkan bom. Mgr Mandagi menulis kepada Ignatius Kardinal Suharyo yang kini banyak beredar lewat media sosial, “Syukurlah saya tidak langsung datang ke rumah keuskupan, tetapi masih dibawa oleh umat yang menjemput ke Buti, tempat misionaris pertama mendarat dan tempat penguburan para pastor dan biarawati.”

Yang kedua, Minggu, 30 Mei 2021. Rencana pemboman saat Misa di Katedral Merauke itu pun gagal. “Rencana pencobaan pembunuhan yang kedua adalah hari Minggu 30 Mei di saat Misa di Katedral. Teroris itu akan meledakkan diri bersama dengan uskup. Tetapi teroris urungkan niatnya karena uskup tidak ada,” tulis Mgr Mandagi.

Pada hari Minggu itu, jelas Mgr Mandagi, dia berada di Kepi, Kabupaten Mappi untuk melayani Krisma di Saba. “Syukurlah teroris itu sudah ketangkap pada hari Minggu sore, 30 Mei,” lanjut uskup agung itu.

Mgr Mandagi yang memimpin Keuskupan Agung Merauke dan Keuskupan Ambonia sangat bersyukur tidak terjadi ledakan. Dia yakin, “Tuhan sangat mengasihi dia dan masyarakat Papua, karena Merauke dikenal dengan istana damai, istana cinta kasih.”

Karena, uskup berdarah Manado itu yakin, kalau terjadi ledakan pasti terjadi kerusuhan dan balas membalas. “Untuk itu, saya mengajak seluruh umat dari semua agama untuk tidak merasa terganggu tetapi berupaya saling melindungi. Kalau ada orang yang mengatasnamakan salah satu agama dan melakukan kekerasan, usir mereka dari Papua. Karena bagi saya, agama mana pun tidak mengajarkan kekerasan.”

Dengan peristiwa itu, lanjut Mgr Mandagi, umat Katolik menjadi semakin kuat dan tidak takut. “Kekuatan dosa, kekuatan jahat apapun tidak bisa mengalahkan kekuatan Roh Kudus. Tetapi kita tetap waspada dan mendukung polisi dalam menangkap teroris. Waspada terhadap orang di sekitar kita, terutama orang yang datang dari luar yang bermaksud jahat di Merauke,” ajak Mgr Mandagi.

Petugas Densus 88 Anti Teror dengan dukungan Brimop Polda Papua dan Polres Merauke telah menangkap 13 terduga teroris di wilayah Merauke. Pengembangan masih terus dilakukan untuk mengusut tuntas jaringan lainnya. Penangkapan pertama terjadi 28 Mei di beberapa distrik dengan total 10 terduga teroris, dan penangkapan kedua berjumlah dua orang dengan TKP Bandara Mopah Merauke dan daerah Buti.

Terkait kasus ini, Kapolres Merauke AKBP Untung Sangaji meminta dukungan doa dari masyarakat, agar petugas mampu mematahkan kekuatan teroris di Selatan Papua. Selain itu, masyarakat diajak tetap tenang, waspada dalam segala situasi, dan segera memberi informasi jika menemukan hal-hal mencurigakan.(PEN@ Katolik/getrudis saga keo)

Tinggalkan Pesan