Pemandangan udara menunjukkan kehancuran gedung enam lantai di Kota Gaza (AFP)
Pemandangan udara menunjukkan kehancuran gedung enam lantai di Kota Gaza (AFP)

Pertempuran antara Israel dan Hamas, yang telah merenggut banyak nyawa, termasuk anak-anak, masih belum berhenti. Israel melakukan sejumlah serangan udara, 18 Mei, terhadap, apa yang dikatakannya, sasaran militan di Gaza. Pengeboman itu merobohkan gedung Kahil, yang berisi perpustakaan dan pusat pendidikan milik Universitas Islam.

Meskipun masyarakat internasional berusaha menghentikan kekerasan, Israel terus menyerang wilayah sipil yang berpenduduk padat sebagai tanggapan atas tembakan roket oleh Hamas. Setidaknya 212 warga Palestina tewas dalam serangan udara berat sejauh ini, termasuk 61 anak-anak dan 36 wanita, dengan lebih dari 1.400 orang terluka. Sepuluh orang di Israel, termasuk seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dan seorang tentara, telah tewas.

Mengingat meningkatnya permusuhan saat ini, Caritas Internationalis meluncurkan seruan mendesak untuk memberi bantuan medis bagi penduduk yang terkena dampak pemboman. Di lapangan, Caritas Yerusalem bersiap menanggapi kebutuhan mendesak dari ribuan orang yang terluka dan ribuan orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Saat menggambarkan situasi itu, Suster Bridget Tighe, Sekjen Caritas Yerusalem berkata, “Penembakan itu sangat hebat. Orang-orang Gaza telah mengalami banyak perang selama bertahun-tahun, tetapi semua orang setuju bahwa kali ini sama sekali berbeda. Mereka terjebak di jalur tanah yang padat penduduk ini karena pemboman udara yang kejam dan tidak ada tempat untuk melarikan diri untuk keselamatan.”

Lebih dari dua juta orang tinggal di Jalur Gaza, area sekitar 365 kilometer persegi dan tidak mungkin melarikan diri karena blokade Israel. Orang-orang mencoba menyelamatkan diri dengan mencari perlindungan di sekolah; 17.000 menemukan tempat berlindung, kata Suster Tighe.

Di antara warga Palestina, ada korban termasuk seorang ibu yang empat anaknya tewas dalam serangan udara yang menghantam bangunan tempat tinggal di kamp pengungsi Al Shati, dekat klinik Caritas, yang saat ini ditutup karena serangan berulang terhadap warga sipil dan infrastruktur dapat mempengaruhi klinik itu.

“Pengeboman terus menerus belum memungkinkan Caritas Yerusalem campur tangan, tetapi begitu gencatan senjata diberlakukan, kami akan berikan perawatan trauma rawat jalan dan perawatan kesehatan primer yang penting di klinik kami,” jelas Suster Tighe. Hal yang sama berlaku untuk unit keliling dan tim medis klinik itu.

Caritas perlu sumber daya memadai untuk memberikan perawatan medis, makanan, dan kebutuhan dasar lain bagi penduduk yang terkena dampak di berbagai wilayah di Jalur Gaza. Eskalasi permusuhan baru membawa serta risiko krisis kemanusiaan. Sekitar 40 ribu warga Palestina mengungsi dan 2.500 orang kehilangan rumah akibat pemboman.(PEN@ Katolik/paul c pati/Vatican News)

Tinggalkan Pesan