Mencintai

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu Paskah ke-6 [B], 9 Mei 2021: Yohanes 15: 9-17)

Yesus memberi para murid-Nya perintah baru: untuk saling mengasihi seperti Yesus telah mengasihi mereka. Pertanyaan yang mungkin muncul: mengapa perlu ada hukum baru? Alkitab memiliki banyak hukum dan peraturan. Dalam Perjanjian Lama saja, ada ratusan peraturan yang masih berlaku untuk orang Yahudi sampai sekarang. Gereja juga memiliki banyak hukum tentang berbagai aspek dari kehidupan Kristiani mulai dari bagaimana berpartisipasi dengan benar dalam Ekaristi hingga bagaimana memilih seorang paus. Selain Alkitab dan Gereja, kita memiliki banyak hukum lain di dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Tidak heran jika seringkali kita melihat hukum dan peraturan sebagai beban di pundak dan pembatasan kebebasan kita. Bahkan bagi sebagian orang, ketaatan pada hukum adalah tanda kelemahan, dan melanggar aturan adalah prestasi. Namun, jika kita menyelidiki perspektif yang lebih besar dan tujuan hukum, kita akan menemukan bahwa hukum tidak mengekang seperti yang dirasakan. Setidaknya, ada dua tujuan hukum.

Pertama, hukum memiliki unsur edukatif. Perintah-perintah itu mungkin membatasi, tetapi itu membentuk dan mendidik kita. Coba bayangkan, dalam pertandingan sepak bola tidak ada aturan tentang ‘hand ball‘. Akibatnya, pemain tidak hanya akan menyentuh bola seenaknya, tetapi juga menyimpannya mereka bawa pulang. Ini tidak lagi menjadi permainan sepak bola! Dengan aturan sederhana dan mendasar ini, pemain ‘dipaksa’ menggunakan kakinya untuk mengontrol bola. Hal ini mendorong pemain untuk berlatih keras untuk menguasai skill tersebut, dan harapannya tentu, bisa menjadi pemain kelas dunia. Sebagai anak-anak, kita dilatih untuk tepat waktu dengan mengikuti jadwal, baik di rumah maupun di sekolah. Aturan sederhana ini tidak berarti membatasi anak-anak kita, tetapi untuk mengajar seorang anak akan pentingnya nilai sebuah waktu.

Kedua, hukum menyelamatkan kita. Hukum mungkin membatasi pergerakan kita, tetapi hal ini ada untuk keamanan dan kenyamanan kita. Coba bayangkan bahwa dalam pertandingan sepak bola, tekel keras dan kontak fisik membahayakan bukanlah pelanggaran. Pemain akan saling mulai meninju, dan beberapa detik kemudian akan menjadi tauran. Ini tidak lagi menjadi permainan sepak bola! Dengan aturan ini, pemain akan memperhatikan cedera yang dapat mereka timbulkan, namun mereka dapat terus menikmati permainan karena tidak ada yang cedera atau terluka.

Kedua elemen hukum ini juga ada dalam perintah kasih. Hukum kasih membentuk kita menjadi orang yang lebih mengasihi. Kasih sejati itu sulit, bahkan untuk mengasihi orang-orang yang kita sayangi. Sulit untuk memaafkan, bahkan teman dekat kita. Tidak mudah untuk membuat pengorbanan setiap hari untuk anak-anak dan anggota keluarga kita. Tidak mudah bersabar dengan orang-orang yang kita layani di komunitas atau Gereja. Namun, jika kita memilih untuk mematuhi perintah, kita tumbuh menjadi orang yang lebih pengasih. Kasih berubah menjadi kebiasaan dan keutamaan kita dan kita mengasihi secara spontan. Jika Tuhan itu kasih, kita menjadi seperti Tuhan setiap hari.

Hukum kisah menyelamatkan kita. Santo Yohanes dari Salib pernah berkata, “di masa senja hidup kita, Tuhan tidak akan menghakimi kita atas harta benda duniawi dan keberhasilan manusia, tetapi pada seberapa baik kita telah mencintai.” Surga adalah tempat kasih yang sempurna, dan untuk mencapai kesempurnaan itu, kita perlu membangunnya secara bertahap di bumi ini. Semakin kita mematuhi perintah, semakin mengasihi, semakin surga terbuka bagi kita. Cinta kasih menyelamatkan kita untuk kebahagiaan abadi.

Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Tinggalkan Pesan