rasoulali | Shutterstock
rasoulali | Shutterstock

Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak membuka jalan, dan sekarang, ada upaya serius untuk membangun kembali kota Ur yang bersejarah sebagai tempat ziarah. Hanya dua bulan setelah kunjungan apostolik itu, perwakilan dari puluhan Gereja dari seluruh dunia akan berkumpul di Kota Ur Kaśdim, tempat Abraham memulai perjalanannya ke Tanah Perjanjian.

Hari Sabtu, 9 Mei, para anggota delegasi itu berdoa bersama di rumah Abraham, dalam ziarah yang juga bertujuan untuk mengungkapkan harapan untuk melihat arus ziarah di daerah itu berlanjut dan tumbuh, menurut Fides, layanan informasi dari Serikat Misi Kepausan.

Sehari sebelumnya, para pemimpin Kristen itu berada di Basra untuk pelantikan Uskup Katolik Suriah Mgr Firas Mundher Drdr sebagai Patriarkal Exarch Basra dan Teluk. Upacara pelantikan itu akan dihadiri Patriark Katolik Suriah dari Antiokhia, Ignace Youssif III Younan.

Para patriark dan klerus lain yang hadir pada pelantikan akan mengunjungi Ur. Kunjungan mereka dipandang sebagai bagian dari upaya mempromosikan daerah tersebut sebagai tujuan ziarah.

Fides menjelaskan: Keinginan untuk meningkatkan pariwisata religius dan arkeologi di Ur dan Kegubernuran Dhi Qar menjadi pusat percakapan antara perwakilan gerejawi dan otoritas sipil lokal dan nasional dalam berbagai kesempatan, bersama seruan untuk mendedikasikan lebih banyak perhatian dan sumber daya untuk sektor pariwisata. Inspektorat Purbakala Dhi Qar telah menjajaki kemungkinan melibatkan LSM-LSM dan organisasi-organisasi internasional sebagai mitra potensial dalam proyek-proyek yang bertujuan untuk mengembangkan infrastruktur wisata di sekitar kota kuno Ur. Lokasi Rumah Abraham di Kota Ur merupakan perangsang potensial dan tak terbantahkan untuk mendorong wisata religi di daerah tersebut.

Paus Yohanes Paulus II ingin mengunjungi Ur sebagai bagian dari perayaan milenium Kristen ketiga, tetapi situasi geopolitik saat itu menghalangi perjalanan itu. Paus Fransiskus tanggal 6 Maret ikut serta dalam kebaktian antaragama di sana, di tengah kunjungan pertama kepausan ke Irak.

Meskipun Irak, dengan sejarah Kristen di masa Para Rasul, bisa dianggap sebagai bagian Tanah Suci, dan Ur dipandang sebagai tonggak awal dalam Sejarah Keselamatan, para peziarah Kristen di Ur sangat sedikit beberapa dekade terakhir. Satu pengecualian penting terjadi tahun 2016, ketika sekitar 200 orang Khaldea dari Baghdad, termasuk Uskup orang Khaldea Mgr Basilio Yaldo dan tujuh imam, berziarah di sana. Pada kesempatan itu, Liturgi Ekaristi dirayakan di situs arkeologi itu, tidak jauh dari Ziggurat Sumeria, di bawah tenda yang didirikan untuk mengenang Abraham.(PEN@ Katolik/paul c pati/ John Burger/Aleteia)

primopiano_12311

Tinggalkan Pesan