Pastor Hendrik Maku SVD (dok pribadi)
Pastor Hendrik Maku SVD (dok pribadi)

“Kalau agama-agama itu sendiri di dalam dirinya sangat kaya dengan ajaran mengenai toleransi dan kerukunan, mengapa masih saja ada dusta di antara umat beragama?” tanya Pastor Hendrik Maku SVD yang mewakili Ketua FKUB Sikka pada Buka Puasa bersama Karyawan-Karyawati Kemenag Sikka.

Dalam acara yang dilaksanakan di kantor Kemenag Sikka, 4 Mei, pastor pegiat lintas agama itu memuji prakarsa panitia buka puasa bersama itu sebagai sesuatu yang “sangat baik” bahkan dikatakan “sebuah respons cerdas terhadap kampanye anti kerukunan dan anti toleransi dari oknum-oknum tertentu.”

“Betapa tidak!” kata Dosen STFK Ledalero itu. “Belakangan ini di media sosial beredar video berisikan narasi sensitif bahwa ada warga Sikka yang terpapar paham radikal. Kicauan ini sampai juga kepada saya. Saya tahu dan paham betul bahwa kicauan itu hadir sebagai api yang sedang berkobar, dan karena itu, respon saya harus bijak dan tepat. Kami di Sikka baik-baik saja. Kami, umat beragama di Sikka sudah, sedang dan akan terus bergandengan tangan dalam merawat toleransi dan kerukunan hidup beragama. Tolong jangan mengusik keamanan dan kenyamanan kami di Sikka.”

Seraya berterima kasih sudah mengundangnya dalam acara itu, imam itu mengatakan, “Apa yang kalian lakukan sore ini sungguh inspiratif. Saya percaya, umat beragama di tempat lain akan terinspirasi oleh contoh baik ini. Selanjutnya, bagi kaum Muslim dan Muslimah, kami dari FKUB menyatakan dukungan tulus untuk ibadah puasa yang sudah dan sedang dijalankan ini. Dukungan yang ikhlas juga untuk semua rangkaian kegiatan menyambut Lebaran.”

Dalam kesempatan itu, Pastor Hendrik kembali menyampaikan pesan kerukunan dari berbagai agama. “Om basudewa kumtu ba kamyang” (semua manusia bersaudara), menurut imam itu adalah ungkapan Agama Hindu yang berarti, “setiap pribadi yang terlahir sebagai manusia selalu merasa terpanggil untuk berelasi dengan yang lain dalam semangat persaudaraan. Persaudaraan yang dijalin itu bersifat universal. Sebuah persaudaraan yang tidak dibatasi oleh sekat suku, agama, ras dan golongan.”

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap jiwamu dan segenap akal budimu” adalah hukum yang terutama dan yang pertama bagi Agama Protestan dan Katolik. Dan hukum kedua, yang sama dengan itu, ialah “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” lanjut imam itu adalah kutipan Injil Matius 22: 37-40 yang merupakan “hukum cinta kasih kepada Allah dan kepada sesama.”

Penggalan “kasihilah sesamamu manusia,” menurut Dosen Islamologi itu, adalah ajaran untuk mengasihi siapa pun, tanpa membeda-bedakan, sama dengan ajaran tentang persaudaraan dalam Islam, yakni ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia). “Yang bukan saudaramu seiman adalah saudara dalam kemanusiaan,” tegas imam itu.

Dalam agama Budha, lanjutnya, “kita menimba air toleransi dan kerukunan yang bersumber pada tiga kata paling sakti, yakni Metta (welas kasih menyeluruh terhadap semua makhluk, sebagai kasih ibu terhadap putranya yang tunggal), Karunia (kasih sayang terhadap sesama dan kencenderungan untuk selalu meringankan penderitaan makhluk lain), dan Mudita (perasaan turut bahagia dengan kebahagiaan makhluk lain tanpa benci, iri hati dan perasaan prihatin bila makhluk lain menderita).

Dan, dalam agama Islam ada Surat al-Hujarat ayat 13 yang berbunyi, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Selain itu, kata biarawan SVD itu, ada cerita tentang Nabi Muhammad yang toleran. “Pada suatu hari Nabi menerima tamu non-Muslim. Setelah lama berbicara, para tamu meminta waktu untuk berdoa menurut agamanya. Nabi lalu mempersilakan para tamunya berdoa dalam masjidnya… Cerita lain adalah ketika Nabi peduli dengan seorang jompo yang sangat tua. Jompo itu sudah tidak punya gigi. Setiap hari Nabi mengantarkan makanan untuk jompo itu. Nabi bahkan mengunyah makanan itu lalu meminta si jompo menelannya guna menyambung benang hidupnya…” Menurut Pastor Hendrik, “cerita-cerita seperti ini perlu kita bagikan kepada yang lain agar makin banyak orang terinspirasi oleh perbuatan-perbuatan baik.”(PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

Buka Puasa

Tinggalkan Pesan