Paus Fransiskus menyalami Nadia Murad tanggal 5 Maret 2017
Paus Fransiskus menyalami Nadia Murad tanggal 5 Maret 2017

Keberanian sangat besar dari Nadia Murad telah menjadi simbol bagi warga Yazidi, dan bagi semua perempuan yang jadi korban kekerasan. Tahun 2014, Nadia diculik oleh ISIS dan diperbudak selama tiga bulan di Irak. Para militan melakukan kampanye brutal untuk memusnahkan populasi kaum minoritas itu. Meski menjadi korban kekerasan yang tak terkatakan, Nadia menolak untuk menyerah, dan sekarang dia menentang segala bentuk kekerasan dari rumah angkatnya di Jerman.

Nadia bertemu Paus Fransiskus tahun 2018, dan memberi Paus buku otobiografinya yang dia tandatangani dengan judul “The Last Girl” (Gadis Terakhir). Paus mengatakan kepada wartawan dalam penerbangan pulang dari Irak bahwa buku itu sangat menyentuh hatinya.

Dalam wawancara dengan Vatican Media di bawah ini, Nadia Murad berbicara tentang buah yang ingin dilihatnya dari kunjungan Paus ke Irak. Dia dengan sepenuh hati menyerukan juga kepada masyarakat internasional untuk membantu membebaskan banyak wanita Yazidi yang masih berada di tangan para jihadis.

Vatican Media: Media seluruh dunia dengan suara bulat menggambarkan kunjungan Paus Fransiskus ke Irak sebagai kunjungan bersejarah. Menurut Anda, apa yang tersisa di hati rakyat Irak dari perjalanan ini?

Kunjungan Paus Fransiskus ke Irak tidak hanya bersejarah, tetapi juga terjadi pada waktu bersejarah bagi rakyat Irak, saat mereka bangun kembali dari genosida, penganiayaan agama, dan puluhan tahun konflik. Kunjungan Paus menyoroti potensi perdamaian dan kebebasan beragama. Kunjungan itu melambangkan bahwa semua orang Irak, tidak peduli apa iman mereka, sama-sama berhak atas martabat dan hak asasi manusia. Paus juga menyampaikan pesan yang jelas bahwa pemulihan tatanan antaragama masyarakat Irak harus dimulai dengan mendukung pemulihan komunitas-komunitas minoritas, seperti Yazidi, yang telah menjadi sasaran kekerasan dan marginalisasi.

Berbicara kepada para wartawan di pesawat, Paus mengatakan bahwa salah satu alasan dia mengunjungi Irak adalah setelah membaca bukumu “The Last Girl”. Dalam pidato pertamanya, yang disampaikan kepada otoritas negara, Paus mengenang penderitaan orang Yazidi. Seberapa penting dukungan Paus ini untuk Anda?

Dalam audiensi saya dengan Paus Fransiskus tahun 2018, kami diskusi mendalam tentang pengalaman genosida komunitas Yazidi, terutama kekerasan yang dialami perempuan dan anak-anak. Saya senang dia tetap mengingat cerita saya dan dia merasa terpanggil untuk membawa pesan ini ke Irak. Dukungan yang Paus sampaikan untuk perkara Yazidi adalah contoh bagi pemimpin agama lain di wilayah itu untuk memperkuat pesan toleransi kaum minoritas agama seperti Yazidi.

Saat ini Anda penerima Hadiah Nobel Perdamaian, seorang Goodwill Ambassador dari PBB, dan Anda telah mendirikan Nadia’s Initiative, organisasi untuk membantu perempuan korban kekerasan. Di mana Anda menemukan kekuatan untuk mengubah semua rasa sakit yang Anda derita menjadi kekuatan untuk kebaikan ini?

Semua orang Yazidi telah menunjukkan kekuatan besar dalam kelangsungan hidup dan kapasitas untuk pulih dengan cepat dari kesulitan. Seluruh komunitas telah melewati trauma luar biasa. Kami tidak akan bisa memulihkan dan membangun kembali hidup kami sendiri. Komunitas itu sangat perlu dukungan dan sumber daya. Nadia’s Initiative berupaya memberdayakan komunitas itu dalam pemulihan mereka dengan memberikan dukungan nyata dan berkelanjutan.

ISIS kalah perang tahun 2017 tetapi Anda mengingatkan bahwa masih ada ribuan wanita, bahkan gadis muda, dalam perbudakan yang belum dibebaskan. Mengapa tragedi ini tidak dapat diakhiri dan apa yang harus dilakukan masyarakat internasional?

Fakta 2.800 perempuan dan anak-anak Yazidi tetap hilang di tahanan setelah hampir tujuh tahun menunjukkan kurangnya kemauan politik untuk melindungi keselamatan dan hak asasi dasar perempuan. Ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual dan perbudakan tidak ditanggapi serius oleh masyarakat internasional. Satuan tugas multilateral harus segera dibentuk dengan satu tujuan untuk menemukan dan menyelamatkan perempuan dan anak-anak ini.

Anda pernah berkata, “Saya ingin jadi wanita terakhir di dunia dengan cerita seperti saya.” Apa yang hendak Anda katakan hari ini kepada banyak wanita yang menderita karena perang dan kekerasan yang mengerikan?

Kepada mereka, saya katakan, “Itu bukan salahmu.” Sistem patriarki global dirancang untuk menaklukkan kita, mengambil untung dari penindasan kita, dan mengelar perang di tubuh kita. Tapi bertahan dan berjuang untuk pengakuan akan ketidakadilan ini adalah aksi perlawanan. Saya juga akan berkata, “Kalian tidak sendiri.” Lebih dari sepertiga wanita di seluruh dunia mengalami kekerasan seksual. Itu tidak berarti kita harus menerimanya. Ada wanita di setiap komunitas yang selamat, berdiri, dan berbicara. Saat kita bersatu untuk memperjuangkan hak kita, perubahan tidak akan bisa dihentikan.(PEN@ Katolik/paul c pati/Alessandro Gisotti/Vatican News)

Nadia Murad dan Paus tanggal 20 Desember 2018
Nadia Murad dan Paus tanggal 20 Desember 2018

Tinggalkan Pesan