Paus Fransiskus dalam audiensi 3 Maret di Perpustakaan Apostolik
Paus Fransiskus dalam audiensi 3 Maret di Perpustakaan Apostolik

Tanpa Yesus, kita tidak bisa memahami saling cinta di antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus dalam Tritunggal, dan tidak akan bisa mulai memahami “bahwa cinta ilahi ini akan berkembang dan mendarat di pantai manusia kita,” kata Paus Fransiskus dalam katekese berkelanjutan tentang doa, dengan fokus minggu ini, dan selanjutnya, pada hubungan antara doa dan Tritunggal, seperti dilaporkan Christopher Wells dari Vatican News.

Mengutip Katekismus Gereja Katolik, Paus Fransiskus menjelaskan dalam audiensi yang dipancarkan dari Perpustakaan Apostolik 3 Maret 2021 itu, “Oleh karena itu, kemanusiaan yang suci dari Yesus adalah cara yang Roh Kudus gunakan untuk mengajar kita berdoa kepada Allah Bapa kita.” Hal itu, tegas Paus, “adalah anugerah iman kita. Kita benar-benar tidak bisa mengharapkan panggilan lebih tinggi: kemanusiaan Yesus membuat kita bisa melihat kehidupan Tritunggal yang sebenarnya.”

Paus menjelaskan “Yesuslah yang membukakan Surga bagi kita dan memproyeksikan kita ke dalam hubungan dengan Allah. Yesus telah mengungkapkan kepada kita identitas, identitas Allah, Bapa, Putra, dan Roh Kudus ini.” Maka, Paus berterima kasih kepada Yesus Kristus, karena “doa itu membuka bagi kita lautan luas Allah sebagai cinta.”

Paus mencatat, tidak semua doa itu sama, dan memberi kesan bahwa “mungkin Allah kadang-kadang tidak puas dengan doa-doa kita, dan kita pun tidak menyadarinya.” Paus mengutip kata-kata Santo Fransiskus dari Assisi, dalam Kidung Matahari, “Tiada insan satu pun layak menyebut nama-Mu,” serta kata-kata dari perwira dari Injil itu, “Ya Tuhan, saya tidak pantas, Engkau datang kepada saya,” yang kita ulangi di setiap Misa.

“Tidak ada alasan yang jelas” mengapa “umat manusia harus begitu dicintai oleh Allah,” atau mengapa Dia harus mendengarkan doa-doa kita, kata Paus. Paus mencatat bahwa sepanjang sejarah, orang-orang melihat dewa-dewa sebagai sesuatu yang jauh dan tidak peduli, tidak peduli akan urusan manusia. “Jika ada,” kata Paus, “kita yang mencoba meyakinkan dewa dan menyenangkan matanya.”

Menurut Paus, hanya melalui Yesuslah kita punya “keberanian” untuk percaya akan satu Allah yang mencintai umat manusia. Kita melihat kasih Allah dalam perumpamaan-perumpamaan tentang bapa yang baik hati dan gembala yang pergi mencari domba yang hilang. Tapi, kata Paus, “Kita tidak akan bisa membayangkan atau bahkan memahami cerita seperti itu jika kita tidak bertemu Yesus.”

Allah yang mana yang siap mati untuk manusia? Allah yang mana yang selalu dan sabar mencintai, tanpa menuntut balasan untuk dicintai? Allah mana yang menerima kurangnya rasa syukur yang luar biasa dari seorang putra yang meminta warisannya terlebih dahulu dan meninggalkan rumah, dan memboroskan segalanya?

Melalui hidup-Nya, dan kesediaan-Nya untuk mati bagi kita, Yesus menunjukkan kepada kita “sejauh mana Allah adalah Bapa kita… kebapakan yang merupakan kedekatan, kasih sayang, dan kelembutan.” (PEN@ Katolik/paul c pati/Vatican News)

1 komentar

Tinggalkan Pesan