Uskup-Jayapura

Mungkin karena kemajuan berbagai bidang, kita merasa kuat, “mampu menjamin kesejahteraan umat manusia, mampu menjamin hidup manusia sampai usia paling lanjut. Mungkin kita merasa diri aman karena semua yang kita butuhkan dan inginkan tersedia. Tahu-tahu virus korona menggoncangkan semua. Yang kaya rayapun tidak bisa tertolong dengan satu tabung oksigen. Dari masyarakat biasa sampai penguasa dan pejabat tinggi, siapa saja bisa dibuat tak berdaya oleh virus halus itu.”

Ungkapan Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar OFM dalam Surat Gembala Prapaskah 2021 berjudul “Pertobatan dan Puasa dalam Masa Pandemi Covid-19” itu adalah bagian pertama kesadaran kita akibat serangan Covid-19 yang cepat menyebar ke seluruh dunia.

Pertama, sadar akan kerapuhan. “Orang beragama pun, dari umat biasa sampai uskup, kardinal, ustad dan pendeta, tak ada bisa bertahan hanya dengan mengandalkan jabatan, kuasa atau kesalehannya. Ternyata manusia sungguh rapuh, fragil, seperti gelas tipis yang gampang pecah remuk,” tulis uskup itu.

Kedua, sadar akan ketidakpastian dalam banyak hal. Seseorang mungkin merasa diri baik-baik, tidak ada tanda kejangkitan, tetapi sekali berbaur dengan orang banyak ia kena virus. Tidak ada kepastian mengenai ekonomi keluarga dan negara, kapan anak-anak bisa ke sekolah lagi, bagaimana masa depan mereka, kapan kita bisa merealisasikan agenda kerja yang tertunda terus karena tidak bisa berkumpul. Dalam ketidakpastian itu, lanjut uskup, “timbul banyak hal yang merusak hubungan: emosi tinggi, masa bodoh, goncang kepercayaan kepada pemimpin dan kepada Tuhan.”

Ketiga, sadar adanya saling bergantung. Sangat dirasakan, tulis uskup, kita bergantung pada Tuhan, tenaga medis dan satu tabung oksigen, pemerintah dan lembaga-lembaga sosial yang menyalurkan bantuan, dan sebaliknya, “sukses pelayanan petugas-petugas kesehatan bergantung pada disiplin masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.”

Itu, tulis uskup, membuat kita sadar bahwa kita tidak bisa hidup sendiri, tidak bisa berbuat seakan-akan kita otonom penuh terhadap Tuhan dan sesama. “Pandemi ini membuat kita menerima dengan rendah hati bahwa kemandirian dan otonomi kita, hanya bisa terwujud dalam ketergantungan satu sama lain.”

Keempat, sadar akan pentingnya kerja sama, solidaritas, bela-rasa. Untuk hadapi serangan virus, tulis uskup, kita diingatkan berulang-ulang agar “saling mendukung, kerja sama, merasakan kecemasan dan penderitaan sesama, dan mengulurkan tangan untuk membantu dan untuk berjalan bergandengan tangan sebagai saudara satu sama lain.”

Dalam kerapuhan, ketidakpastian, kebergantungan, kerja sama dan solidaritas, bagaimana mewujudkan pertobatan kita? Tiga pokok utama yang selalu dianjurkan agar dilaksanakan lebih cermat pada masa puasa, jawab uskup itu adalah “berdoa, berderma dan berpuasa.”

Agar pokok-pokok utama dilaksanakan di masa pandemi, surat itu menjelaskan caranya. Menurut uskup, Misa yang disalurkan ke rumah diizinkan untuk keadaan darurat. “Tetapi tentu ini bukan Misa Hari Minggu normal karena tidak ada kumpulan umat di gereja. Ketika saya sendirian maju ke altar dengan mulut tertutup masker dan menyapa bangku-bangku kosong dan hanya ada segelintir orang juga terbungkus masker, timbul rasa haru. Kita seperti hanya main-main dengan liturgi. Semoga situasi ini cepat berlalu,” harap uskup.

“Berdoa tekun dan takwa dalam masa puasa di tengah pandemi harus dilaksanakan juga dengan cara lain daripada hanya ikuti satu misa kering di layar kaca dengan umat ‘virtual’. Kita sedikit terpaksa untuk tinggal di rumah dan kerja atau belajar dari rumah. Hendaknya kita menghayati disiplin itu secara positif dengan memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat keluarga kita menjadi ‘Gereja Rumah-tangga,’” tulis uskup seraya menjelaskan, keluarga adalah Gereja kecil, ”Eklesia domestika” yang bisa bersama menjalankan puasa dengan berdoa bersama di rumah dipimpin oleh kepala keluarga.

Memberi derma dan melakukan amal-kasih adalah ungkapan pertobatan dari orang yang bersyukur kepada Tuhan atas segala kebaikan-Nya, dan meneruskan kebaikan Tuhan itu kepada orang lain dengan derma, bantuan sosial, sumbangan atau apa pun juga namanya. Pendeknya, tegas uskup, bertobat artinya tahu memberi dan bukan hanya tahu menerima.

Kini semangat memberi diperlihatkan pemerintah dan masyarakat. Pemerintah pusat dan instansi di bawahnya terus merancang dan merealisasikan bantuan sosial, bahan makanan, obat-obatan atau uang tunai. “Banyak orang, dari antara kita juga, yang sebenarnya bukan ‘korban’ pandemi, tetapi mau turut mendapat bagian bantuan sosial itu. Tampaknya wajar saja bahwa kita juga mau menerima bantuan. Tetapi kalau itu terjadi padahal kita mungkin berkecukupan, itu bisa menjadi tanda bahwa kita belum sungguh bertobat. Sebab orang yang sungguh menghayati pertobatan pasti berdoa dan berbuat seperti Fransiskus dari Assisi: Lebih bahagia memberi daripada menerima, mengampuni daripada diampuni. Sebab dengan memberi kami menerima, dengan mengampuni kami diampuni,” tulis uskup.

Agar derma dan sedekah jadi tanda pertobatan, Yesus tunjukkan sikap dan caranya, kata uskup seraya meminta agar memberi diam-diam. “Jangan mencanangkannya di jalan-jalan atau melalui media sosial dan konferensi pers; karena semua itu bisa jadi dilakukan dengan hasrat untuk memperoleh pujian dan kekaguman. Tetapi berilah dari hati, dan apa yang dibuat tangan kananmu, jangan diketahui tangan kirimu. Dahulukanlah orang kecil yang sungguh miskin yang pasti tidak mampu membalas kebaikanmu, dengan itu kamu memperlihatkan kasih yang sejati, yaitu berbuat baik tanpa menuntut balas. Nasihat-nasihat Yesus itu jelas maksudnya: Bertobatlah, janganlah berorientasi pada kepentinganmu sendiri, tetapi kepada Tuhan dan sesama.”

Puasa itu ungkapan pertobatan orang yang rindu kebahagiaan dan sukacita dalam Tuhan. Karena mau melonggarkan ikatan dengan barang duniawi, makanan dan minuman, dan semua yang hanya mendatangkan kenikmatan sesaat dan semu, “maka puasa sebagai bentuk pertobatan, motivasinya juga harus berorientasi pada Tuhan dan bukan demi diri sendiri. Yesus mencela sikap lahiriah orang yang memperlihatkan wajah lesuh agar kelihatan ia sedang berpuasa. Sebaliknya, kata Yesus, orang yang menjalankan puasa hendaknya menyegarkan muka dan meminyaki kepalanya agar orang lain tidak melihat ia sedang berpuasa,” tulis uskup seraya berharap umat tidak merasa puasanya kurang kalau Rabu Abu tahun ini abu tidak diberikan secara kelihatan di dahi tetapi ditaburkan di kepala.

Mengurangi makan-minum saja bukan puasa sebagai pertobatan, tegas uskup. Bisa jadi amat egois, kalau sekadar menghemat dan menabung uang belanja agar setelah puasa bisa berfoya-foya, atau seperti yang trendy, orang berpuasa dan diet ini-itu untuk menjaga kebugaran dan bentuk tubuh ideal.

KWI dengan program APP (Aksi Puasa Pembangunan), jelas uskup, mau menjaga agar puasa bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi untuk orang lain. Aksi mengumpulkan derma pada masa puasa menghasilkan dana untuk memajukan usaha-usaha kecil yang bisa meningkatkan ekonomi rakyat kecil.”

Uskup juga menulis, di masa pandemi ini, “kalaupun kita tidak bisa menyisihkan harta untuk membantu sesama, kita bisa membantu yang lain dengan lebih berdisiplin-diri dalam menjalankan protokol kesehatan: pakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan jangan berkerumun.”(PEN@ Katolik/paul c pati)


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

Tinggalkan Pesan