Kardinal Cantalamessa membuat tanda Salib di awal khotbah pertamanya untuk Prapaskah, yang disampaikan di Aula Paulus VI (ANSA)
Kardinal Cantalamessa membuat tanda Salib di awal khotbah pertamanya untuk Prapaskah, yang disampaikan di Aula Paulus VI (ANSA)

Pertobatan, menurut Kardinal Raniero Cantalamessa OFMCap, disebutkan dalam “tiga momen dan konteks berbeda” dalam Perjanjian Baru, sesuai momen berbeda dalam kehidupan kita sendiri. Yang pertama ditemukan dalam kata-kata yang diucapkan oleh Yesus pada awal pelayanan-Nya, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil!” Ini tidak memiliki arti moral yang utama, menurut Kardinal Cantalamessa, tetapi pertama-tama berarti memiliki iman, percaya, dan mengubah cara memandang hubungan kita dengan Allah.

Demikian Pengkhotbah Rumah Tangga Kepausan, yang diangkat menjadi Kardinal oleh Paus Fransiskus dalam konsistori 28 November 2020, menyampaikan gambaran umum tentang masa Prapaskah, dengan fokus pada bagian “Bertobatlah, dan percaya pada Injil!” pada khotbah pertamanya untuk Prapaskah 2021 di Aula Paulus VI di Vatikan, 26 Februari. Tema renungan Prapaskah tahun ini adalah “Menurutmu, siapa aku ini?” yang diambil dari Injil Santo Matius.

Sebutan kedua dari Perjanjian Baru untuk bertobat terjadi saat Yesus ajak para murid-Nya untuk “berbalik dan menjadi seperti anak-anak.” Di sini, “Yesus mengedepankan revolusi sejati,” dan meminta mereka – serta kita – “untuk merubah pusat dari diri kalian sendiri, dan memusatkan kembali diri kalian pada Kristus.” Menjadi seperti anak-anak, kata Kardinal Cantalamessa, berarti kembali ke masa pertama kali kita benar-benar berjumpa dengan Yesus.

Akhirnya, di dalam kitab Wahyu, Yesus meminta orang-orang yang suam-suam kuku untuk “bersungguh-sungguh… dan bertobat.” Fokusnya, kata Kardinal Cantalamessa, ada pada perubahan dari biasa-biasa saja dan suam-suam kuku menjadi membara. Ini bukan pekerjaan kita sendiri, tegas kardinal itu, melainkan pekerjaan Roh Kudus.

Kardinal Cantalamessa mengenang pengalaman para murid ketika mereka dipenuhi dengan Roh pada hari Pantekosta pertama. Para Bapa Gereja menggambarkan pengalaman ini dengan gambaran “mabuk tetapi tidak minum,” para murid tidak mabuk anggur, seperti yang dibayangkan orang, tetapi sebaliknya, setelah menerima Roh Kudus, menjadi mabuk secara rohani.

“Bagaimana bisa menerima ide mabuk tetapi tidak minum ini dan mewujudkannya dalam situasi saat ini dalam sejarah dan dalam Gereja?” tanya kardinal. Di luar sarana Ekaristi dan Kitab Suci yang biasa, kardinal itu mengutip yang dikatakan Santo Ambrosius sebagai momen ketiga, yaitu sarana “luar biasa,” yang tidak bersifat institusional, melainkan “menghidupkan kembali pengalaman para rasul pada hari Pantekosta.”

Hal ini, kata kardinal, salah satunya terjadi dalam “apa yang disebut ‘Baptisan dalam Roh’,” yakni “pembaruan dengan kesadaran baru bukan hanya Pembaptisan dan Penguatan, tapi juga seluruh kehidupan Kristen … buah yang paling penting adalah penemuan apa yang dimaksudkan dengan memiliki ‘hubungan pribadi’ dengan Yesus yang bangkit dan hidup.”

Kardinal Cantalamessa menekankan pentingnya “pertobatan sejati dari suam-suam kuku menjadi membara, dan mengajak para pendengarnya untuk berdoa memohon perantaraan Maria untuk rahmat ini.

Teks lengkap khotbah Kardinal Raniero Cantalamessa dalam bahasa Inggris bisa dibaca di website milik kardinal itu.(PEN@ Katolik/paul c pati/Vatican News)

Tinggalkan Pesan