Departemen Pertahanan AS | Area publik
Departemen Pertahanan AS | Area publik

Perubahan bisa menyulitkan, tapi di usia 99 tahun, Abram dapat nama baru dari Tuhan: Abraham, yang berarti “bapak banyak bangsa.” Kalau nanti Paus Fransiskus mengunjungi Ur, tempat kelahiran Abraham, banyak orang di Irak juga harapkan perubahan, bukan sekedar perubahan nama, tetapi cara orang saling berhubungan. Abraham dikenal sebagai patriark bersama agama Kristen, Yahudi dan Islam. Para pemimpin Yahudi dan Muslim akan ikut bersama Paus di Ur untuk kebaktian antaragama. Peristiwa 6 Maret akan dihadiri juga wakil-wakil Mandaean-Sabaean, Yazidi dan agama-agama minoritas lain di negara itu.

Fokus ibadah itu adalah kerukunan antarkelompok agama. Vatikan menyebutnya “Doa untuk putra dan putri Abraham,” kata Reuters. Sekelompok orang lain juga mengharapkan perubahan. Para arkeolog lokal senang atas kunjungan Paus, karena kunjungan itu akan menarik perhatian ke tempat kelahiran Abraham itu.

Situs Mesopotamia kuno itu adalah salah satu kota tertua di dunia, dan signifikansinya melampaui hubungannya dengan Abraham. Di sinilah tempat tinggal perkotaan, tulisan, dan kekuasaan pusat negara dimulai. Situs itu, jelas Reuters, digali sekitar 100 tahun lalu oleh Leonard Woolley dari Inggris. Tetapi sejak itu hanya sedikit pekerjaan yang dilakukan.

Pemandangan yang jadi daya tarik di Ur itu agak terpencil, dan tidak lebih hebat daripada ziggurat, piramida Mesopotamia yang sebagian besar dibangun kembali pada era Saddam Hussein pra-2003, dan dan beberapa reruntuhan yang dikenal sebagai Rumah Abraham.

Tahun 1999, Paus Yohanes Paulus II membatalkan perjalanan ke Irak setelah negosiasi dengan Saddam Hussein gagal. Ali Kadhim, direktur Rumah Abraham, mengatakan kepada Radio Publik Nasional bahwa sudah 20 tahun lebih dia bekerja di situs itu. Kadhim, seorang Muslim, mengatakan kunjungan Paus Fransiskus akan menyoroti sisi toleran Irak, terlepas dari sejarah kelompok ISIS baru-baru ini.

“Umat Muslim menyambut baik kunjungan ini,” katanya. “Dan mereka tertarik, karena kunjungan itu mencerminkan realitas hubungan antaragama di Irak.”

Menurut Reuters, situs yang terletak sekitar 200 mil selatan Baghdad itu populer dengan pengunjung Barat di tahun 1970-an dan 1980-an, tetapi jarang dikunjungi saat ini “karena perang beberapa dekade dan ketidakstabilan politik menghancurkan industri pariwisata internasional Irak. Krisis virus corona sekarang juga membuat turis lokal menjauh.”

Juga dikatakan, organisasi yang berbasis di Italia, Un Ponte Per, sedang bekerja dengan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa membuat jalan, tempat istirahat dan rambu-rambu yang akan membuat situs itu lebih ramah turis. Jalan sedang direnovasi, kabel listrik diperpanjang.(PEN@ Katolik/pcp/John Burger/Aleteia)


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

Tinggalkan Pesan