Mgr Christophorus Tri Harsono (PEN@ Katolik/pcp)
Mgr Christophorus Tri Harsono (PEN@ Katolik/pcp)

“Lebih dari pantang makanan, ada pantang yang tidak kalah penting: kebiasaan melakukan kejahatan dan dosa kepada sesama kita. Inilah yang seharusnya dipantangkan selama Prapaskah, syukur-syukur sepanjang hidup atau sepanjang tahun. Kesombongan atau tinggi hati, kekurang-berimanan, tidak membutuhkan sesama, apalagi Tuhan, dan merasa diri paling benar, suci, baik, dan kaya, hal itu semua perlu kita kikis dari diri kita. Hal ini diupayakan melalui berpantang dan berpuasa, sehingga kita akan mendapatkan penyembuhan, pertobatan atau pengampunan, belas kasih, dan rahmat dari Allah.”

Dengan tulisan pada Surat Gembala Uskup Purwokerto Menyambut Masa Prapaskah 2021 itu, Mgr Christophorus Tri Harsono meminta umatnya agar di masa Prapaskah ini, “melatih diri terus-menerus untuk melakukan karya amal kasih dan latihan-latihan rohani, serta mudah tergerak oleh belas kasihan, dan penuh pengharapan hanya kepada Tuhan yang Mahakuasa (bdk. Markus 1, 41).”

Namun, menurut Uskup Purwokerto itu, dalam Prapaskah 2021 Keuskupan Purwokerto khusus mempertajam tema APP nasional “Semakin beriman, semakin solider” dengan mendalami “Keutamaan Kristiani di masa Pandemi.”

Prapaskah 2021 tidak jauh berbeda dengan 2020, prihatin atau berduka karena pandemi Covid-19”. Mengambil hikmah masa Prapaskah sebagai masa penuh rahmat, kesempatan bertobat, dan kesempatan berlimpah untuk berbagi kasih, solider, berdamai antarsesama, masa penuh pengharapan kepada Tuhan, Mgr Tri Harsono menulis, “sebenarnya pandemi ini benar-benar telah melatih dan semakin menguatkan keimanan atau telah membiasakan kita merenungkan arti kehidupan ini, dengan memanggul salib, bermati raga, dan melatih berpantang dan berpuasa secara rohani, karena kita saat-saat ini sudah mengurangi banyak hal kenikmatan dan kenyamanan dunia secara langsung.”

Dalam Prapaskah, kata uskup, umat diajak merenungkan kembali panggilan dan perutusan hidup sebagai murid Kristus sejati yang tak pernah berhenti mengusahakan pembaharuan hidup, agar hidup lebih sesuai dengan panggilan dan perutusan masing-masing.

“Dengan kata lain, kita wajib ‘lebih mendalami pertobatan untuk pengampunan, berbagi untuk kepedulian atau solider terhadap sesama di sekitar, serta bersahabat atau berdialog untuk perdamaian dunia,” agar puasa dan pantang mengarah kepada hal-hal batin, rohani yang terealisasi dalam pelayanan, pengampunan dan pengorbanan seperti Kristus sendiri yang telah memberikan teladan sangat sempurna untuk dunia dan semua umat manusia.

Sedangkan puasa dan pantang fisik itu “puasa dan pantang tingkat paling awal, pertama atau dasar dari semua mati-raga, dan ini semua untuk latihan menguatkan puasa dan pantang batin dan rohani, yang tentunya agar lebih mendalam,” jelas uskup. “Tanpa merasa lapar dan haus, sakit hati dan menderita, dan tanpa pelayanan dan pengorbanan, kita tidak akan pernah bisa mengalami puasa dan pantang batin atau rohani secara nyata.”

Dan, lanjut Uskup Purwokerto itu, “puasa fisik bukan tujuan akhir atau cita-cita utama, dan bukan pula untuk mendapatkan pahala dari Allah.” Puasa dan pantang, jelas uskup, adalah demi untuk manusia itu sendiri dan demi melatih diri, untuk menerima keselamatan yang diberikan oleh Allah secara gratis. Maka, “Puasa dan pantang harus sungguh menghasilkan buah dan terbukti dapat membantu sesama, bukan untuk diri kita sendiri dan bukan pula untuk perayaan Paskah meriah kita yang akan datang.”

Mgr Tri Harsono juga mengajak umat untuk merenungkan bahwa kekuatan akan iman Katolik bukan kekuatan yang menganggap kita paling benar dan paling baik, atau lebih tinggi kedudukan dari yang lain, atau tidak memiliki kelemahan apa pun, dan menganggap paling sempurna, “tetapi kekuatan akan iman kita adalah ketergantungan atau penuh pengharapan kita hanya kepada Tuhan Yesus Kristus.”

Selain itu, umat diajak berdialog bukan hanya dengan kata-kata atau memperkenalkan ajaran kebenaran, tetapi harus terealisasi melalui sosial-ekonomi setempat, terbukti dalam pelayanan kepada yang miskin papa atau yang sakit, yang hilang, yang mendesak membutuhkan sapaan, kepekaan, kesembuhan, dan pertolongan Tuhan, melalui kita sebagai murid-Nya yang setia.

“Kepedulian akan solidaritas, berbagi atau memberi apa pun, akan jadi bukti dan teladan nyata kita menjadi garam dunia. Pelayanan harus direalisasikan pada siapa saja, terutama yang sangat dan mendesak untuk ditolong yaitu orang-orang dekat dengan kita, bangsa ini, dan prioritas kepada miskin papa, menderita, yatim piatu, dan janda, terpinggirkan, terkena bencana, kehilangan keamanan dan kedamaian, yang tidak punya kemungkinan untuk hidup bersama, pembunuhan, dan ketidakadilan. Dengan demikian kita bisa menjadi terang dan garam dunia,” tulis uskup.

Sedangkan sebagai bukti orang Katolik berpuasa dan berpantang, Mgr Tri Harsono dorong umatnya untuk menjadi teladan bagi masyarakat, mengendalikan diri, dan menaati protokol kesehatan, demi kesehatan dan keselamatan bersama seluruh umat manusia, dengan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas dan aktivitas langsung.(PEN@ Katolik/paul c pati).

Tinggalkan Pesan