Uskup-Bandung

“Marilah kita basmi kusta dan virus ketidakpedulian yang tampak dalam sikap sombong berlaga sehat merasa tak perlu berobat, berlaga saleh merasa tak harus bertobat. Marilah menjadikan masa Prapaskah sebagai saat rahmat untuk menyadari apakah dalam diri kita ada kusta dan virus ketidakpeduliaan terhadap jeritan sesama yang membutuhkan bantuan dan terhadap keterlibatan kita dalam kesehatan masyarakat dan kesejahteraan umum.”

Seruan itu disampaikan Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC dalam Surat Gembala Prapaskah 2021 Keuskupan Bandung berjudul “Hidup Sehat: Bela rasa pada Sesama” yang dibacakan pada Misa Minggu Biasa VI, 13 dan 14 Februari.

Dengan hidup sehat, tulis Mgr Subianto, “kita bisa lebih efektif dan efisien mewujudkan bela rasa dan solidaritas.”  Uskup pun ajak umatnya bersama semua saudara dan saudari berkehendak baik “meningkatkan kesadaran dan mengembangkan gerakan solidaritas sosial untuk turut serta membangun kehidupan ekonomi sebagai ungkapan bela rasa.”

Ketidakpedulian yang menjadi salah satu keprihatinan Paus Fransiskus, jelas Mgr Subianto, “berjangkit bagai kusta yang menular atau kini bagai Covid-19 yang mematikan rasa persahabatan dan persaudaraan manusia.”

Paus bersama Imam Besar Al-Azhar Syekh Ahmad Al-Tayeeb menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama di Abu Dhabi 4 Februari 2019. Gaung dari momen itu, PBB umumkan bahwa sejak 2021, 4 Februari adalah Hari Persaudaraan Manusia Internasional. Hal ini, kata Uskup Bandung, “membangkitkan kesadaran akan persahabatan dan persaudaraan manusia yang mendorong gerakan kepedulian melawan ‘kusta’ dan ‘virus’ ketidakpedulian.”

Menurut uskup itu, “Pertobatan yang diawali kerendahan hati dengan mengakui saya sakit butuh berobat dan saya salah perlu bertobat adalah bentuk kepedulian pada kesehatan diri dan keselamatan sesama. Dengan pertobatan itu, orang mengalami makin dekat dengan Allah, makin betah dengan diri sendiri, makin akrab dengan sesama, dan makin peduli terhadap lingkungan. Pertobatan ini kini bisa diungkapkan melalui keterlibatan aktif dalam mengatasi pandemi Covid-19 dengan hidup sehat, bersih, rapi, dan peduli yang akan berefek positif pada kehidupan bersama serta mendukung berbagai program pemerintah, termasuk vaksinasi yang diyakini akan menyebabkan masyarakat sehat. Kalau masyarakat sehat, kehidupan ekonomi diharapkan berjalan dengan lebih baik.”

Di bagian akhir surat itu Mgr Subianto menulis, “Dengan mati raga dan puasa, kita makin sadar untuk mengontrol diri agar tidak menjadi gangguan bagi sesama. Dengan doa dan tapa, kita makin peka akan panggilan Allah untuk memulihkan kehidupan. Dengan amal dan kasih, kita makin mampu solider dengan sesama.”

Dengan kesadaran akan kelemahan dan kesalahan yang perlu dipulihkan Allah serta kemauan menjadi pewarta dan pelaksana bela rasa yang peduli pada kehidupan ekonomi bersama, Mgr Subianto mengajak umatnya untuk datang pada Tuhan dan berkata, “Jika Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku!” “Jika Engkau mau, Engkau dapat memulihkan kami dari pandemi Covid-19!” Jika, Engkau mau, Engkau dapat memulihkan persahabatan dan persaudaraan manusia!”(PEN@ Katolik/paul c pati)


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

Tinggalkan Pesan