Edwaldus
PEN@ Katolik/pcp

Kerentanan dan kerapuhan ini hendaknya tidak menjadi alasan bagi kita untuk kehilangan harapan. Sebagai orang beriman kita percaya pada Tuhan yang tersalib dan bangkit. Salib adalah jalan menuju kebangkitan dan hidup baru. Karena itu dalam mata iman kita boleh menatap lilin harapan di ujung terowongan kelam pandemi ini.

Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu Pr menulis itu dalam Surat Gembala Prapaskah yang dibacakan pada Rabu Abu 17 Februari, seraya menegaskan, “iman dengan tatapan mata solidaritas sangat dibutuhkan dunia yang tengah dilanda Pandemi Covid-19.”

Menurut Mgr Edwal, harapan itu hanya menjadi nyata jika dihidupi. “Kita menghidupi harapan itu dengan cara menjadikan kerentanan dan kerapuhan bersama sebagai alasan untuk memandang yang lain sebagai saudara dan saudari terlepas dari perbedaan agama, ras, suku, budaya, status sosial dan bangsa.”

Kemanusiaan yang rentan, lanjut Uskup Maumere, “hendaknya jadi basis persaudaraan dan solidaritas antara umat manusia.” Persaudaraan, lanjut uskup, “mendesak kita untuk bersikap peduli terhadap yang lain, terutama yang menderita lewat aksi nyata, kreativitas, dedikasi dan sikap dermawan.”

Mgr Edwal menegaskan, solidaritas atau sikap peduli terhadap sesama adalah imperatif etis tertinggi dalam hidup setiap orang Kristen. Paus Fransiskus, jelas uskup Edwal, menyebut solidaritas atau belas kasih sebagai kepenuhan dari keadilan dan ungkapan paling sempurna dari kebenaran ilahi. Artinya, “solidaritas yang terungkap dalam sikap peduli terhadap sesama adalah prinsip dasar karya Allah dan Yesus dan karena itu harus menjadi prinsip dasar seluruh karya dan hidup Gereja.”

Menurut Mgr Edwal, tema Aksi Puasa Pembangunan 2021 yakni “Semakin Beriman Semakin Solider” mengajak kita untuk mewujudkan iman dengan mata terbuka. “Tatapan mata diarahkan kepada sesama manusia secara khusus kepada mereka yang menderita, miskin dan terpinggirkan. Tatapan mata solidaritas yang pada intisarinya mengakui hakikat sosial yang melekat pada martabat pribadi manusia,” tulis Mgr Edwal.

Surat gembala Mgr Edwal itu mengutip penegasan Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis atau Keprihatinan Sosial, nomor 38, “Solidaritas bukanlah sekedar perasaan belaskasihan yang samar-samar atau rasa sedih yang dangkal karena nasib buruk sekian banyak orang, dekat maupun jauh. Sebaliknya, solidaritas ialah tekad yang teguh dan tabah untuk membaktikan diri kepada kesejahteraan umum.”(PEN@ Katolik/yuven fernandez)

 

Tinggalkan Pesan