Kardinal Suharyo membacalan Pesan Prapaskah KA 2021 (PEN@ Katolik/pcp.screenshot)J
Kardinal Suharyo membacalan Pesan Prapaskah KA 2021 (PEN@ Katolik/pcp.screenshot)J

“Kita semua tahu memilih yang benar dan baik bukanlah hal yang mudah. Kecenderungan kita adalah memilih yang mudah dan menyenangkan. Prapaskah adalah masa yang disediakan oleh Gereja sebagai waktu istimewa bagi kita semua untuk melatih diri, agar memilih yang baik dan benar menjadi watak kita”

Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan itu dalam Pesan Gembala Prapaskah 2021 sebagai pengganti khotbah pada perayaan Ekaristi Minggu dan Sabtu 13 dan 14 Februari di gereja-gereja Katolik di wilayah Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

Pesan kardinal itu sesuai pesan Paus Fransiskus saat Covid-19 mulai menyebar bulan Maret 2020 yang diungkapkan dalam doa, “Tuhan, Engkau mengundang kami untuk memahami masa yang berat ini, sebagai saat untuk memilih. Masa yang berat ini bukanlah hukuman datang dari-Mu, tetapi adalah saat yang menentukan bagi kami: saat bagi kami untuk memilih, mana yang sungguh berarti (dalam hidup ini) dan mana  yang akan lewat, saat untuk membedakan mana yang sungguh penting dan mana yang tidak penting. Ini adalah saat bagi kami untuk kembali ke jalur hidup kami yang benar dalam hubungan kami dengan Dikau, ya Tuhan dan dengan sesama kami.”

Lebih lanjut kardinal menjelaskan, memilih yang baik dan benar juga dilakukan oleh orang kusta diceritakan dalam Injil Markus 1:40-45. “Sebagai orang kusta dalam masyarakat waktu itu, artinya tersingkir, ia memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.”

Orang kusta itu, tulis kardinal, “melawan segala rintangan dan mengatasinya sehingga ia dapat datang kepada Yesus, berlutut dan mengungkapkan kerinduan dan harapan hatinya dengan berkata, ‘Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan aku.’ Terungkap dalam kata-kata itu harapan untuk tidak menyerah kepada keadaan. Ia ingin terlibat lagi dalam kehidupan masyarakat dengan menjadi tahir.

Berkat tekadnya yang ditanggapi Yesus, ia tidak hanya menjadi tahir, artinya bisa terlibat lagi dalam kehidupan bersama, tetapi juga menjadi sembuh. Ia menjadi pribadi yang utuh kembali, sembuh lahir batin. Sebagai pribadi yang sudah disembuhkan ia tidak bisa lain kecuali memberitakan pengalaman pribadinya akan kebaikan Tuhan itu ke mana-mana.”

Kardinal membandingkan orang kusta yang tidak mau menyerah dalam ketidakberdayaan dan memilih untuk menemukan kembali hidup dengan mendekatkan diri kepada Yesus dengan umat KAJ ingin memilih. “Di tengah-tengah kenyataan hidup yang berat ini kita tetap akan terus memilih yang baik dan yang benar; memilih yang berarti dan bermakna.”

Pilihan umat KAJ, kata Kardinal Suharyo dirumuskan dalam tiga kata, “semakin mengasihi, semakin terlibat, semakin menjadi berkat.” Uskup Agung Jakarta itu berharap semoga rangkaian tiga kata itu “bukan sebagai semboyan yang bagus tetapi menjadi pedoman bagi kita semua untuk melangkah maju sebagai pengikut Kristus.”

Untuk mewujudkan pedoman itu, kata kardinal, umat KAJ harus ikuti instruksi pemerintah mengenai protokol kesehatan dan vaksinasi yang sudah diolah oleh tim gugus kendali KAJ. Juga, minta kardinal, “alangkah baiknya secara pribadi bersama keluarga, komunitas teritorial maupun kategorial, lingkungan dan paroki mencari kemungkinan lain secara kreatif untuk mewujudkan pedoman kita itu.”(PEN@ Katolik/Konradus R. Mangu)

Tinggalkan Pesan