Foto:Songquan Deng I Shutterstock
Foto:Songquan Deng I Shutterstock

Tradisi “gereja-gereja stasi” adalah cara indah untuk menjalani Prapaskah dalam persekutuan dengan generasi Katolik. Inilah tradisi kuno yang dimulai di Roma di abad ke-5 dan diorganisir dalam bentuk final dan definitif oleh Paus Gregorius Agung.

Setiap hari sepanjang masa Prapaskah dan Oktaf Paskah, umat beriman berkumpul di sekitar Paus di gereja berbeda di Roma, yang disebut “stasi”. Gereja-gereja itu terkait dengan penghormatan para martir, yang relikuinya dipamerkan pada acara itu. Misa dirayakan diawali prosesi dengan menyanyikan litani.

Istilah “stasi” dipinjam dari jargon militer dan berarti “berjaga-jaga”. Ini istilah sempurna untuk menunjukkan sikap kewaspadaan spiritual, dengan senjata doa dan pengakuan dosa, yang jadi ciri masa khusus ini dalam kehidupan Gereja. Konsep yang sama akan digunakan untuk praktek Jalan Salib yang sekarang lebih dikenal daripada gereja-gereja stasi.

Tradisi “stasi” terputus abad ke-14, dengan para paus di Avignon. Tetapi dilanjutkan oleh Sixtus V setelah Konsili Trente, dan menyebar ke keuskupan lain dan benua Eropa. Tradisi itu pasang surut, tetapi masih hidup. Belakangan ini, tradisi itu mendapat dorongan baru dari karya Collegium Cultorum Martyrum, yang bertanggung jawab atas perayaan itu, dan dari Paus Yohanes XXIII.

Aleteia mengundang Anda mengikuti ziarah Prapaskah secara virtual melalui 42 gereja stasi Roma: satu gereja per hari, dari 17 Februari hingga 11 April, untuk menemukan harta artistik dan spiritual, sejarah, dan keingintahuan tempat-tempat ini. Ini perjalanan mengikuti jejak tradisi kuno dan perjalanan para saksi iman, guna membantu kita masing-masing memperbarui kehidupan rohani kita.

“Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku.” (Lukas 9:23)(PEN@ Katolik/Marinella Bandini/Aleteia)

 

 

 

Tinggalkan Pesan