Paus bertemu Kantor Kateketik Nasional Konferensi Waligereja Italia (Vatican Media)
Paus bertemu Kantor Kateketik Nasional Konferensi Waligereja Italia (Vatican Media)

Paus Fransiskus meminta para katekis untuk “berdoa dan berpikir secara kreatif tentang katekese dengan berpusat pada kerygma, yang memandang masa depan komunitas-komunitas kita, sehingga mereka bisa lebih berakar pada Injil, umat-umat yang bersaudara, dan inklusif.”

Bapa Suci berbicara dengan para anggota Kantor Kateketik Nasional Konferensi Waligereja Italia (CEI), 30 Januari. Tahun ini, kantor yang didirikan tahun 1961 itu merayakan ulang tahun ke-60. “Peringatan ini adalah kesempatan berharga untuk mengenang, mengucap syukur atas karunia yang diterima, dan memperbarui semangat pewartaan,” kata Paus, sebelum memberikan beberapa poin refleksi “yang saya harap akan membantu dalam pekerjaan kalian” di tahun-tahun mendatang.

Pertama, Paus menekankan hubungan antara katekese dan kerygma, pewartaan Sabda Tuhan. “Katekese,” kata Paus, “adalah gema dari Firman Tuhan.”

Inti kerygma adalah Pribadi, Yesus Kristus. Maka, tegas Paus, katekese “adalah ruang istimewa untuk pertemuan pribadi dengan-Nya.” Jadi, kata Paus, katekese “harus dijalin dengan hubungan pribadi.” Para katekis adalah saksi-saksi yang telah berjumpa dengan Yesus sendiri, dan ingin menuntun orang lain untuk berjumpa dengan-Nya. Paus juga menekankan bahwa katekese harus disampaikan dengan bahasa rakyat, “dalam dialek, yaitu bahasa yang keluar dari hati.”

Untuk melakukannya, kata Paus, kita harus mengingat elemen-elemen katekese yang paling dibutuhkan saat ini yakni “mengungkapkan kasih Tuhan yang menyelamatkan, memohon kebebasan, ditandai dengan sukacita.” Juga dituntut “sikap tertentu” dari para katekis, termasuk mudah didekati, keterbukaan untuk berdialog, kesabaran, kehangatan, dan sambutan.

Poin kedua Paus berkaitan dengan katekese dan masa depan. Tahun 2020, Gereja di Italia merayakan 50 tahun “pembaruan katekese” setelah Konsili Vatikan Kedua. “Katekese yang diilhami oleh Konsili,” kata Paus Fransiskus, “secara terus menerus mendengarkan hati manusia, selalu dengan telinga yang penuh perhatian, selalu berusaha memperbarui diri sendiri.”

Paus menegaskan, “Ini adalah Magisterium. Konsili adalah Magisterium Gereja. Kalian juga bersama Gereja dan karena itu kalian mengikuti Konsili, dan jika kalian tidak mengikuti Konsili atau kalian menafsirkannya sendiri, seperti yang kalian inginkan, kalian tidak mendukung Gereja.” Paus minta agar “tidak ada izin bagi mereka yang berusaha menyajikan katekese yang tidak sesuai Magisterium Gereja.”

Seperti pada periode pasca-konsili, demikian juga saat ini Gereja dipanggil untuk membaca “tanda-tanda zaman” agar “memberi katekese baru yang mengilhami setiap bidang reksa pastoral.” Dengan demikian, “katekese merupakan petualangan luar biasa,” merupakan “garis depan Gereja,” yang perlu “kecerdasan dan keberanian untuk mengembangkan alat-alat mutakhir yang bisa mengirimkan kekayaan dan sukacita kerygma kepada orang-orang saat ini.”

Terakhir, Paus Fransiskus mencatat pentingnya menjadi bagian dari suatu komunitas, terutama di tahun yang ditandai keterasingan dan rasa kesepian. Komunitas, kata Paus, “bukanlah aglomerasi individu, tetapi keluarga tempat kita terintegrasi, tempat kita saling menjaga.”

Karena itu, inti dari katekese, dan pewartaan kerygma, haruslah dimensi komunal ini, kata Paus. Paus menekankan sekali lagi keinginannya agar Gereja secara khusus dekat dengan “yang ditinggalkan, yang dilupakan, yang tidak sempurna.” Sudah waktunya, “bagi komunitas-komunitas yang, seperti Orang Samaria yang Baik Hati, tahu cara mendekati mereka yang terluka oleh kehidupan, untuk membalut luka mereka dengan belas kasih,” kata Paus.(PEN@ Katolik/pcp/berdasarkan Christopher Wells/Vatican News)

Paus bertemu Kantor Kateketik Nasional Konferensi Waligereja Italia (Vatican Media)
Paus bertemu Kantor Kateketik Nasional Konferensi Waligereja Italia (Vatican Media)

Tinggalkan Pesan